Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #10

Awal Mula Tulisan Cakar Ayam

Musala Zulbarakat, Mei 2010

Bagi yang penasaran kenapa tulisan dokter sering kali tampak seperti sandi rumput, barangkali apa yang terjadi pada semester dua kami bisa sedikit memberikan gambaran.

Seperti malam ini, malam Jumat Kliwon, yang di Zulbarakat berarti akhir pekan. Rutinitas akademik pesantren otomatis libur untuk sementara waktu. Tak ada pengajian, tak ada kelas, dan tidak ada penugasan. Kebanyakan santri menyambutnya dengan suka cita. Ada yang tidur lebih awal, ada yang mengobrol santai hingga larut, atau sekadar memanjakan diri dengan waktu senggang yang langka.

Tapi tidak denganku. Aku seperti tak pernah benar-benar punya waktu untuk rileks.

Sejak awal semester, tugas perkuliahan terus datang bertubi-tubi tanpa jeda. Hingga jelang UTS semester ini, tekanan yang kami terima tidak juga mengendur. Kegiatan kami yang paling menjenuhkan adalah menulis, menulis, dan menulis laporan. Tak ada ampun.

Sudah satu setengah jam berlalu sejak aku duduk bersila di sudut musala, tapi laporan Biokimia yang kutulis masih jauh dari kata 'selesai'. Malam ini rasanya masih akan panjang. Sebelas halaman folio bergaris telah kutulis, tapi bagian pembahasan bahkan belum kusentuh sama sekali. Pergelangan tanganku mulai pegal, dan tulisan tanganku semakin tak beraturan. Beberapa kali perutku keroncongan karena belum makan malam, tapi lagi-lagi… tidak ada waktu untuk berpaling dari tumpukan tugas ini.

Dan sayangnya lagi, itu baru satu laporan praktikum Biokimia. Laporan Fisiologi masih tergeletak tak tersentuh di dalam ransel. Aku nyaris ingin mengumpat keras kalau saja tidak sedang duduk di tempat ibadah. Dalam hati aku mengeluh, andai laporan ini bisa kuketik, mungkin semuanya akan terasa lebih ringan.

Yang membuatku tambah jengkel adalah kenyataan jika aku hanya berhasil meminjam satu laporan dari kakak tingkat. Seandainya bisa lebih gesit atau berusaha lebih keras, pekerjaanku tentu tak akan seberat ini. Laporan tiga topik praktikum yang kukumpulkan sebelumnya berulang kali dikembalikan oleh asdos untuk direvisi. Entah karena sumber pustaka yang kurang lengkap atau alasan lain yang menjengkelkan. Dan untuk saat ini, aku lebih memutar otak untuk mencari solusi agar referensi laporanku bisa langsung diterima.

Semesta mendukung tekad baik ini. Aku berhasil mendapatkan pinjaman dua buku teks Biokimia dari perpustakaan daerah. Meski harus bolak-balik ke sana dan mengalami dua kali denda karena lupa memperpanjang masa peminjaman, aku bersyukur buku-buku itu tidak raib digondol peminjam lain. Sejak bersahabat dengan perpusda, jumlah revisi laporanku berkurang drastis.

Sebenarnya, aku bisa saja melewatkan kerepotan ini. Aku bisa mengikuti jejak Kiki yang inhal praktikum Histologi, Agam dan Yoshua yang gagal pretes Anatomi, atau Abel yang sengaja menjatuhkan diri di pretes Biokimia demi rehat sejenak dari beban laporan. Pilihan itu ada. Tapi jelas aku tak mau tergoda.

Bagiku, inhal saat praktikum hanya berarti memindahkan beban yang sebenarnya masih bisa dicicil hari ini ke waktu yang jauh lebih padat menjelang akhir semester. Pada akhirnya, mereka yang memilih inhal pun tetap harus menyelesaikan tanggungan praktikum tersebut di kemudian hari. Karena itu, meski tidak mudah, aku memilih bertahan dengan caraku sendiri. Mengurai stres sedikit demi sedikit, meskipun harus mengorbankan waktu tidur dan makan, Itu terasa lebih baik daripada menimbun semuanya dalam satu waktu. Setidaknya, dengan cara ini, aku percaya masih bisa melewati semuanya tanpa menjadi gila.

Selasar musala selalu jadi tempat andalanku untuk mengerjakan tugas-tugas kampus. Ruangan semi terbuka itu lapang dan sejuk, dengan tiupan angin malam yang pelan-pelan menyusup dari sela-sela jendela tanpa kaca. Di situ, aku bisa menaruh seluruh perlengkapan perang, mulai dari tumpukan buku, alat tulis, fotokopi jurnal, hingga dua buah stabilo yang entah kenapa harus selalu kubawa. Rasanya lebih lega mengerjakan laporan di sini daripada di kamar asrama yang sumpek dan mudah memancing kantuk.

Satu kekurangan dari tempat ini ialah milik bersama. Santri-santri dari asrama sebelah, terutama anak-anak usia SMP yang belum terlalu disibukkan dengan hafalan atau kajian kitab kerap datang ke sini. Kadang untuk ngobrol remeh temeh, iseng bermain bayangan di dinding, atau hanya mondar-mandir tak tentu arah.

Tak jarang pula, mereka menjadikan aku sebagai tontonan dadakan.

Sering kali, saat aku sedang serius mencatat, anak-anak itu datang dengan tatapan jahil sambil iseng membuka-buka bukuku. Kadang, terdengar celetukan spontan, “Itu nulis apa, Mas?” sambil mendekat tanpa permisi. Persis Jelangkung—datang tak diundang. Kehadiran mereka yang polos namun usil itu kerap membuat konsentrasiku buyar seketika.

Malam ini pun tak jauh berbeda. Di tengah lelah yang mulai menumpuk dan kelopak mata yang semakin berat, semangatku untuk melanjutkan laporan Biokimia perlahan menurun. Tubuhku ikut protes; otot dan persendian seolah kompak meminta jeda untuk sekadar meregangkan diri. Karena itu, aku memutuskan berhenti sejenak dan mengganti suasana.

Semua peralatan Biokimia kupindahkan kembali ke dalam tas, kususun rapi layaknya prajurit yang mundur dari medan perang. Kini giliran laporan Anatomi yang kucoba selesaikan. Namun, begitu atlas Sobotta jilid satu kutaruh di atas meja, para bocah yang sebelumnya asyik mengobrol dan tertawa di sudut ruangan langsung berdatangan, persis semut yang menemukan gula.

Mereka mengerubungiku dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Rupanya sampul buku bergambar tangan transparan lengkap dengan susunan tulang dan otot itu berhasil memancing rasa penasaran mereka.

“Eh, itu gambar apaan, Mas?” tanya salah satu dari mereka.

“Buku apa tuh? Serem amat…” sahut yang lain.

Tangan-tangan kecil itu mulai bergerak mendekat, seolah sudah siap membuka lembar demi lembar halamannya.

“Hayoo… awas, ya. Boleh lihat, tapi nggak boleh pegang-pegang. Buku mahal!” sergahku sambil menyeringai, memasang wajah galak.

Mereka langsung terdiam dan sedikit mundur. Namun, itu hanya bertahan sesaat.

Begitu atlas itu kubuka perlahan lantas menampilkan ilustrasi struktur anatomi manusia, rasa penasaran mereka seketika berubah menjadi sorak-sorai kecil. Lalu ketika halaman berikutnya memuat ilustrasi laki-laki dan perempuan tanpa sehelai kain pun muncul, suasana ruangan mendadak gempar.

Lihat selengkapnya