Kantor Kementerian Agama Sleman, Juni 2010
Setelah berulang kali ditunda karena alasan yang tidak sepenuhnya kami pahami, hari yang kami tunggu akhirnya tiba juga. Pagi itu, hari Ahad yang hangat dan cerah, suasana pesantren terasa berbeda dari biasanya. Sejak selepas subuh, sebagian santri telah sibuk mempersiapkan diri, memastikan kitab, perlengkapan, dan segala kebutuhan lomba telah terbawa. Ada semangat yang menguar di antara kami, bercampur dengan rasa tegang yang bersembunyi di balik wajah-wajah yang berusaha tampak tenang.
Tak lama kemudian, rombongan kami berangkat menuju Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman untuk mengikuti Musabaqah Qiraatul Kutub tingkat kabupaten. Tahun ini, pesantren kami mengirimkan 37 peserta yang terdiri atas 20 santri putra dan 17 santri putri. Kami berangkat menggunakan dua minibus; satu diperuntukkan bagi peserta putra dan satu lagi bagi peserta putri. Empat orang ustaz turut mendampingi selaku pembina sekaligus ofisial.
Dari berbagai bidang dan cabang yang diperlombakan, pesantren kami berhasil mengirimkan formasi lengkap pada seluruh kategori perlombaan untuk santri putra. Sementara itu, pada kategori putri, masih terdapat tiga cabang yang belum dapat terisi karena terbatasnya santri yang memenuhi kualifikasi. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi optimisme kami. Setiap peserta yang berangkat pagi itu membawa harapan yang sama: memberikan penampilan terbaik dan mengharumkan nama pesantren.
Di dalam bus, tempat dudukku sudah diatur berdampingan dengan Ghafir. Namun, sepanjang perjalanan, hampir tak ada percakapan yang terjalin di antara kami. Bukan karena kami kehabisan bahan untuk dibicarakan, melainkan karena sejak beberapa waktu terakhir Ghafir memilih menjaga jarak dariku. Sejak insiden razia HP tempo hari, ia tampaknya menaruh curiga jika akulah yang melaporkan keberadaan ponselnya kepada pengurus bidang ketertiban. Sebuah tuduhan yang terasa menyakitkan sekaligus sulit kupahami. Bagaimana mungkin aku dicurigai jika aku sendiri termasuk orang yang paling berkepentingan menjaga ponsel itu tetap aman. Tidak ada alasan sama sekali bagiku untuk mengkhianatinya.
Meski tak bicara, ketegangan di antara kami pagi itu seolah tersisih oleh kesibukan masing-masing. Aku menundukkan kepala, larut dalam hafalan bait-bait nazam Alfiyyah yang harus benar-benar melekat di luar kepala. Sementara di sampingku, Ghafir tampak tenggelam dalam sebuah kitab tebal bersampul cokelat. Halaman-halamannya yang telah menguning memberi kesan kalau kitab itu telah lama berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia membacanya dengan khusyuk, seakan setiap lembar menyimpan lorong-lorong pengetahuan yang hanya ia sendiri yang mengetahui jalan masuknya.
Kitab yang sedang dibacanya adalah Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, seorang ulama dan sejarawan terkemuka yang hidup pada abad ke-8. Kitab itu menjadi rujukan utama bagi peserta cabang Tarikh kategori atas. Adapun aku bertanding di cabang Nahu, disiplin yang mengkaji tata bahasa Arab. Kitab yang menjadi pegangan di bidang ini adalah Syarah Ibnu Aqil, sebuah penjelasan atas nazam Alfiyyah karya Ibnu Malik, ulama besar asal Andalusia yang hidup berabad-abad silam.
Alfiyyah sendiri terdiri atas lebih dari 1000 bait yang merangkum kaidah-kaidah gramatika bahasa Arab dalam bentuk syair. Bagiku, kitab itu memiliki kedudukan yang istimewa. Meski telah bertahan melewati rentang waktu lebih dari tujuh abad, bait-baitnya tetap dihafalkan, diajarkan, dan didiskusikan di berbagai penjuru dunia. Dalam perlombaan ini, peserta memang dituntut mampu membaca dan menjelaskan isi kitab. Namun, hafalan nazam tetap memegang peranan penting. Sewaktu-waktu juri dapat meminta peserta untuk menunjukkan landasan suatu pembahasan dari bait Alfiyyah yang dipilih secara acak.
“Berapa maqra’ untuk tingkat kabupaten ini, Fath?” tanya Ghafir tiba-tiba memecah keheningan yang sedari tadi menggantung di antara kami.
Aku sedikit terkejut. Bukan oleh pertanyaannya, tapi oleh suaranya. Ini pertama kalinya ia menyapaku lagi setelah beberapa hari penuh diam dan curiga.
“Kamu... udah nggak marah lagi sama aku?” tanyaku pelan setengah ragu.
Ia menghela napas pelan dan menatap ke luar jendela.
“Sudahlah,” ujarnya.
Keheningan kembali mengambil tempat di antara kami. Namun kali ini rasanya tidak lagi setegang hari-hari sebelumnya.
“Maaf aku sempat berpikiran macam-macam,” katanya kemudian sangat pelan, nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Aku tidak segera menjawab.
“Harusnya aku tahu,” lanjutnya, “kamu nggak akan melakukan itu.”
Aku mengangguk pelan.
Ada sesuatu yang mencair di antara kami, sesuatu yang selama beberapa hari terakhir membeku oleh kecurigaan. Persahabatan kami belum sepenuhnya pulih, tetapi setidaknya pagi itu kami mulai menemukan jalan untuk kembali.
“Belum tahu berapa pastinya, Fir. Belum ada kepastian dari para ustaz. Tapi aku diminta nyiapin hafalan 250 bait. Jadi ya... segituan lah yang lagi kupelajari sekarang. Kamu sendiri gimana?”
“Aku juga belum dapat kejelasan,” sahutnya. “Makanya aku fokus murajaah1 seperempat bagian awal saja. Halaman-halaman itu aja yang aku bolak-balik terus. Saking seringnya kubaca, rasanya aku sampai hafal letak kata demi kata di dalamnya,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Aku ikut tersenyum. Sesaat kemudian, rasa penasaran yang sejak tadi menggelitik tak lagi bisa kutahan. Aku sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya, mendekatkan mulut ke telinganya agar pertanyaanku tak terdengar orang lain.
“HP-mu balik nggak, Fir?” bisikku pelan.
Senyum di wajah Ghafir perlahan memudar. Ia menggeleng kecil. Napas panjang terlepas dari bibirnya, lalu diembuskannya perlahan, seolah sedang berusaha berdamai dengan kenyataan yang belum juga berubah.
“Belum,” jawabnya singkat.