Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #12

Dentistry Award

Seiring berjalannya waktu, persahabatan kami semakin erat ditempa banyak momen suka dan duka bersama. Perjalanan hampir satu tahun ini meninggalkan begitu banyak pelajaran berharga. Bukan hanya tentang ilmu yang dipelajari di ruang kuliah, tetapi juga tentang bagaimana mengelola waktu, beradaptasi dengan teman-teman dari latar belakang sosial yang berbeda, cara bersikap terhadap dosen dan staf, hingga belajar tetap tegar di tengah berbagai tekanan. Meski lelah kerap datang menyapa, bahkan sesekali disertai air mata, tawa tetap menemukan jalannya. Tawa itulah yang menjadi jeda, ruang bernapas, sekaligus pengingat bahwa kami tidak sedang berjuang sendirian.

Emosi yang dulu mudah terpancing layaknya anak SMA, perlahan mulai tergantikan oleh sikap yang lebih tenang dan terukur. Cara pandang kami terhadap banyak hal pun ikut berubah, sedikit demi sedikit bergerak menuju kedewasaan. Dari mahasiswa baru yang masih sering larut dalam ego dan kekanak-kanakan, kami mulai belajar memahami orang lain serta mempelajari posisi kami dalam lingkungan sosial yang semakin luas dan beragam.

Dalam perjalanan membangun pertemanan, kami belajar mengenal satu sama lain lebih dalam. Karakter, kebiasaan, hingga sisi-sisi unik dari teman seangkatan yang awalnya tidak terlihat perlahan mulai terungkap seiring waktu. Dari proses itulah kami belajar untuk lebih memahami, menghargai, dan menerima perbedaan. Apa yang semula tampak biasa ternyata menyimpan banyak cerita dan keunikan. Dan dari sanalah kami menyadari bahwa setiap orang hadir dengan warna dan caranya masing-masing.

Disya, misalnya. Belakangan kami baru tahu jika ia berasal dari jurusan IPS semasa SMA. Fakta tersebut cukup mengejutkan, mengingat selama ini ia mampu mengikuti dinamika perkuliahan dengan sangat baik. Setelah dipikir-pikir, latar belakang itu justru menjelaskan salah satu keunggulannya yang paling menonjol: kemampuannya dalam berkomunikasi. Cara ia menyampaikan pendapat selalu jelas, runtut, dan penuh percaya diri. Kemampuan tersebut tampaknya semakin terasah karena selama dua tahun di bangku SMA ia pernah menjalani magang di sebuah stasiun radio.

Ada pula kisah kocak tentang Eko, salah satu teman kami yang sejak pertama kali masuk hingga hari ini belum pernah berhasil BAB di toilet kampus. Sama sekali. Entah itu menggunakan kloset duduk, kloset jongkok, atau jongkok di kloset duduk. Semua usaha itu berakhir sama. Sfingter1 duburnya tetap bersikeras mengunci, seolah memiliki satu prinsip yang tidak bisa ditawar: “Tidak sekarang! Tidak di sini!”

Padahal, upaya Eko tidak main-main. Ia sudah mencoba berbagai strategi, mulai dari mengatur waktu dan memilih makanan tertentu agar perutnya mules saat jam kuliah. Ia bahkan membawa sabun pribadi dari indekos demi menciptakan suasana toilet yang terasa lebih “homey”. Belum cukup sampai di situ, ia juga memutar lagu favoritnya saat proses eksekusi, berharap suasana hati dan ususnya bisa sama-sama lebih rileks. Namun, hasilnya tetap nihil.

Rahasia ini baru terungkap setelah teman satu indekosnya membocorkan fakta yang selama ini tersembunyi dari kami. Rupanya, Eko kerap pulang ke kosnya di daerah Pandega Padma hanya untuk menuntaskan urusan yang satu itu. Konon, hanya toilet di tempat itulah yang mampu membuat tubuh dan jiwanya merasa benar-benar klik. Mungkin memang ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dipaksakan. Kenyamanan, misalnya. Termasuk kenyamanan saat toileting.

Dari kalangan mahasiswi, ada pula cerita tentang Septi, sosok yang secara tidak langsung membuktikan kalau mahasiswa Kedokteran Gigi tidak harus memiliki susunan gigi serapi model iklan pasta gigi. Saat pertama kali masuk kuliah, ia cukup mudah dikenali. Profil wajahnya khas, terutama pada sepertiga bawah wajah yang tampak lebih menonjol akibat gigi depan atasnya yang maju jauh ke depan. Jangankan untuk bersiul, mengatupkan bibir saja tampaknya membutuhkan usaha lebih dibandingkan orang normal. Ditambah lagi dengan posturnya yang mungil, Septi menjadi salah satu wajah yang paling mudah diingat di angkatan kami.

Masa-masa awal kuliah dulu, ia sempat dijuluki "bonsai serut", sebuah nama yang, kalau dipikir-pikir sekarang, lebih cocok disematkan pada tanaman hias ketimbang seorang mahasiswi. Untungnya, Septi bukan tipe orang yang mudah tersinggung. Ia selalu menanggapi candaan-candaan kami dengan santai, bahkan kerap membalasnya dengan humor yang lebih pecah. Alih-alih menyimpan kesal, ia justru ikut tertawa bersama. Sulit menemukan orang yang berhati selapang dirinya. Jika ada penghargaan untuk mahasiswa dengan hati paling tulus, besar kemungkinan Septi akan keluar sebagai pemenangnya.

Barangkali karena kemurnian hatinya itulah Septi bersahabat dekat dengan Hana, perempuan paling cantik di angkatan kami (seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya). Nomor presensi yang berurutan menjadi titik awal kedekatan mereka, lantas persahabatan mereka semakin kuat seiring berjalannya waktu. Keduanya bersimbiosis mutualisme dan tampak saling melengkapi satu sama lain. Hana perlahan menjadi pribadi yang lebih lembut dibandingkan saat awal kuliah, sementara Septi mulai lebih perhatian dengan penampilannya. Ia lebih care untuk merawat dirinya dengan lebih baik.

Kini, penampilan Septi sudah jauh berbeda dibandingkan saat awal kuliah. Dalam dua bulan terakhir, ia mulai menggunakan kawat gigi, sebuah langkah kecil yang perlahan membawa perubahan besar. Setelah dua premolar2 atasnya dicabut, susunan giginya mulai bergerak ke posisi yang lebih ideal. Perubahannya cukup menyadarkan kami jika profil wajah yang dulu begitu khas itu perlahan mulai berubah.

Aku cukup mengenal Septi karena, sama sepertiku, ia juga merupakan penerima beasiswa. Sejak pertemuan pertama kami di hadapan Dokter Rina awal semester lalu, komunikasi kami menjadi lebih intens. Sejak saat itu, aku melihat sisi lain dirinya. Septi yang dulu dikenal dengan "bonsai serut"-nya kini menjelma sosok paling vokal dalam memperjuangkan kepentingan para penerima beasiswa. Ketika ada hal yang perlu disampaikan kepada Dokter Rina, biasanya Septi yang maju paling dulu. Tanpa ditunjuk melalui ritual atau seremoni, ia resmi menjadi juru bicara kami.

Selain Disya, Eko, dan Septi, masih banyak nama lain yang cukup menonjol di angkatan kami. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki keunggulan dalam bidangnya masing-masing sehingga mudah dikenang oleh siapa pun yang pernah berinteraksi dengan mereka. Beberapa di antaranya bahkan menerima penghargaan khusus dalam acara evaluasi akhir semester yang diselenggarakan suatu sore selepas praktikum Aplikasi Komputer.

“Ini hari terakhir kita kuliah bareng di semester ini,” ujar ketua angkatan membuka pertemuan dengan nada tegas namun tetap hangat. “Jadi, nama angkatan harus kita tentukan hari ini juga,” lanjutnya lantang, menjelaskan alasan kami dikumpulkan sore itu. “Kalau terus ditunda, sampai kapan pun nggak akan selesai. Tolong tunjukkan kalau angkatan kita benar-benar kompak dan solid.”

Sesaat setelah itu, ruangan diliputi keheningan. Banyak pasang mata saling beradu pandang tanpa kata. Sebagian tampak enggan terlibat, seolah ingin segera pulang dan mengakhiri hari. Sebagian lainnya terlihat siap menyelesaikan apa pun yang masih menjadi tanggung jawab bersama. Namun, tak seorang pun segera memecah kebuntuan.

Melihat suasana yang mulai mengendap, Disya melangkah ke depan, mengambil alih posisi ketua angkatan. Kehadirannya yang tenang segera menarik perhatian. Dengan suara lembut namun jelas, ia mulai berbicara.

“Jangan tegang, teman-teman. Selain memilih nama angkatan, kita juga akan mengadakan pemilihan award untuk teman-teman seangkatan,” ujarnya sambil melempar senyum kecil yang perlahan menghidupkan suasana. “Sekali lagi, santai saja. Anggap ini acara seru-seruan. Nanti kami akan membagikan kertas yang sudah berisi beberapa kategori. Teman-teman tinggal menuliskan nama pilihan masing-masing, mulai dari mahasiswa tergokil, paling rajin, terpintar, terganteng, sampai tercantik.”

Beberapa wajah yang semula tampak lesu mulai menunjukkan antusiasme. Senyum-senyum kecil bermunculan di berbagai sudut ruangan.

“Sambil menulis, coba dipikirkan juga nama angkatan kita, ya. Siapa tahu inspirasi datang di sela-sela menentukan siapa yang paling ganteng,” lanjut Disya, menutup ucapannya dengan gaya khas yang ringan dan mengundang tawa.

Lihat selengkapnya