Ruang Diskusi Departemen Biomaterial, Oktober 2010
Semester tiga akhirnya tiba. Di luar dugaan, langkah kaki kami di semester ini justru terasa lebih ringan. Bukan karena tantangannya yang lebih mudah, tapi karena kami mulai terbiasa dengan ritme hidup mahasiswa kedokteran gigi. Mungkin begitu. Meski terjal, tapi kami sudah cukup beradaptasi untuk menapakinya.
Ada tiga belas mata kuliah yang harus kami taklukkan di semester ini dengan total beban 21 SKS. Dari jumlah itu, lima mata kuliah diantaranya dilengkapi praktikum, yakni Biomaterial Dental, Anatomi Gigi, Mikrobiologi, Patologi Anatomi, dan Anatomi II. Meski terdengar berat, kami juga mendapatkan beberapa keringanan yang cukup membantu di tengah padatnya perkuliahan.
Praktikum di semester ini terasa lebih ringan berkat adanya sejumlah penyesuaian yang mulai diterapkan. Beberapa kegiatan kini cukup dilaporkan dalam bentuk ketikan rapi. Ada pula yang hanya dilakukan dengan mengisi formulir hasil pengamatan. Bahkan ada yang tuntas tanpa laporan sama sekali: cukup hadir, mengamati, dan memahami. Meski demikian, tidak semuanya mengalami penyederhanaan. Ada juga yang justru menyita waktu dan tenaga lebih. Praktikum Mikrobiologi, misalnya. Kami mesti menumpang di fakultas lain karena keterbatasan tenaga ahli dan fasilitas.
Dari seluruh mata kuliah di semester ini, barangkali yang paling menakutkan bagi kami adalah Biomaterial Dental. Bukan karena materinya yang rumit, tapi karena atmosfer perkuliahannya yang terasa menegangkan, hampir di setiap pertemuan. Para dosen pengampunya dikenal sangat menjunjung tinggi kaidah ilmiah. Di kelas, haram hukumnya menyampaikan pendapat berdasarkan intuisi atau pengalaman pribadi. Semuanya harus selalu disertai rujukan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Debat kusir atau opini tanpa dasar langsung ditepis tanpa ampun.
Lebih dari itu, pola pikir kami pun dilatih untuk tertib dan sistematis. Setiap gagasan harus runtut dan logis. Tak boleh asal loncat atau tumpang tindih. Ciri khas lain dari departemen ini adalah jumlah dosennya yang paling sedikit dibandingkan departemen lain, hanya enam orang. Namun, dari jumlah yang ramping itu, tiga di antaranya sudah menyandang gelar guru besar, dan lima dari keenamnya telah menduduki jabatan lektor kepala. Keseluruhannya adalah dosen-dosen senior dengan pengalaman mengajar yang tak perlu diragukan lagi.
Setiap kali sesi dimulai, rasa gugup hampir selalu menyertai kami. Entah di awal, tengah, atau bahkan menjelang akhir kuliah. Selalu saja ada kemungkinan munculnya kuis atau sesi tanya jawab mendadak. Mereka rutin menguji seberapa dalam pemahaman kami, baik terhadap materi yang sedang dibahas maupun materi sebelumnya yang, jujur saja, sebagiannya sudah mulai memudar dari ingatan. Jika diskusi berjalan lambat atau tidak mengarah sesuai harapan dosen pengampu, maka satu per satu nama kami mulai dipanggil. Saat itu terjadi, mata kami pun otomatis melirik ke daftar presensi.
Dalam situasi semacam ini, kami sudah tahu persis siapa saja yang paling sering jadi sasaran empuk wejangan. Kiki, dengan nasib khasnya, kerap kebagian paling awal, dan tak jarang pula memecahkan rekornya sendiri dalam mendengarkan petuah dengan durasi paling lama dari dosen.
Selain bertemu dengan mereka di ruang kuliah, kami juga berhadapan langsung dengan para dosen itu saat praktikum. Kombinasi kuliah dan praktikum Biomaterial memang terasa seperti paket lengkap. Lengkap menyajikan degup jantung berdetak kencang dan tekanan mental yang tak berkesudahan.
Praktikum Biomaterial memiliki kekhasan yang membedakannya dari praktikum-praktikum lain. Salah satu yang paling mencolok adalah absennya asisten dosen. Dalam praktikum ini, tidak ada perantara kakak tingkat. Hanya kami dan dosen pengampu yang membimbing langsung setiap langkah kami. Rasanya seperti sedang menjalani audit di kandang singa karena dengan menatap wajah dosen-dosen itu saja, kepercayaan diri kami langsung menciut.
Dengan hanya enam dosen dan dua belas topik praktikum yang berbeda, setiap dosen membimbing dua kelompok sekaligus. Satu di meja A dan satunya di meja B. Sang dosen penanggung jawab akan berjalan bolak-balik dari satu meja ke meja lain, memperhatikan setiap gerakan kami dengan mata yang tajam, penuh ketelitian dan, kadang, intimidasi terselubung. Meskipun tidak pernah diumumkan sebagai ajang tanding, rasanya seperti sedang diadu dengan kelompok pasangan masing-masing.
Kami pun jadi belajar banyak hal di luar materi kuliah: bagaimana bekerja dalam tekanan, bagaimana tetap fokus meski diawasi terus-menerus, dan yang paling penting ialah bagaimana menyembunyikan kegugupan dengan wajah setenang mungkin.
Soal pelaporan, praktikum Biomaterial sebenarnya terbilang cukup ramah dibandingkan praktikum lainnya. Laporannya boleh diketik, dan penyusunannya pun dilakukan secara kolektif per kelompok. Tapi tentu saja, kemudahan itu bukan berarti perjalanan yang mulus tanpa hambatan.
Setiap laporan harus diserahkan paling lambat tiga hari begitu praktikum berakhir. Setelah itu, laporan tak bisa sekadar dikumpulkan begitu saja. Kami harus siap mempertanggungjawabkan isinya dalam sebuah diskusi ilmiah bersama dosen penanggung jawab topik. Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Setiap minggu, dua kelompok dengan topik yang sama akan berdiskusi dengan dosen yang sama pula. Itu artinya, kami tak hanya berpacu dengan waktu dalam menyusun laporan, tapi juga harus berebut jadwal diskusi. Kelompokku, kelompok satu, sering kali kalah cepat dari kelompok tujuh, pasangan topik kami yang tampaknya lebih lincah dalam segala hal.
Dan masalah kami tak berhenti di situ. Karena performa yang tak seimbang, nama kelompok kami kerap jadi bahan perbandingan. Hampir semua dosen, dalam kesempatan yang berbeda-beda, pernah menyatakan kalau kelompok tujuh lebih unggul, baik dari segi kedisiplinan selama praktikum, ketepatan waktu, ketelitian dalam menganalisis hasil, hingga kerapian laporan. Semua indikator seolah tak berpihak pada kami.
Aku sendiri tak bisa membantah. Memang hampir setiap minggu selalu saja ada insiden yang menghambat kinerja kelompok kami. Kalau bukan si A yang keliru mencatat data, ya si B yang lupa membawa alat, atau si C yang terlambat datang. Entah bagaimana, kesalahan seolah bergiliran mencari tempat di kelompok kami.
Tak heran jika di akhir tiap sesi diskusi, suara dosen yang menegur sudah seperti latar rutin yang menghiasi pekan-pekan kami. Mungkin kalau boleh jujur, kami lebih sering kena teguran daripada mendapat pujian.
Aku teringat ketika baru menjalani minggu kedua praktikum, kami langsung dihadapkan pada ujian mental yang tidak ringan. Saat itu, praktikum baru saja berjalan, namun kelompok kami sudah harus menerima teguran keras dari salah satu dosen. Penyebabnya adalah kekeliruan yang, bagi standar Biomaterial, tergolong fatal. Teguran itu terjadi karena Abel, yang saat itu ditugaskan sebagai penyunting akhir laporan, kurang cermat dalam memeriksa hasil akhir.
Topik minggu itu adalah teknik manipulasi amalgam, bahan tambal logam yang kini mulai jarang digunakan, tetapi tetap diajarkan sebagai pengetahuan dasar. Namun dalam laporan kami, entah bagaimana, terselip satu paragraf yang membahas resin komposit, sebuah bahan tambal yang belum kami pelajari, apalagi kami praktikkan. Paragraf itu rupanya berasal dari laporan tahun-tahun sebelumnya. Dan lebih parah lagi, di bagian akhir laporan, nama seorang mahasiswa kakak tingkat masih tercantum manis sebagai salah satu penyusun.
Abel ternyata mengedit laporan dari fail master milik senior, dan karena terlalu fokus menyusun ulang isinya, ia luput menghapus nama tersebut. Satu kelalaian kecil yang berujung petaka besar.
Kami masih ingat betul bagaimana suasana ruang diskusi mendadak berubah menjadi sunyi senyap, hanya diisi suara dosen yang meninggi dari menit ke menit.