Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #14

Love at First Fight

Agustus 2009 – Hari Terakhir Orientasi Mahasiswa Baru

Sampai hari ini, aku masih belum bisa menerima. Mengapa aku, yang bertubuh kecil dan sama sekali tidak mencolok, justru ditunjuk sebagai ketua kelompok ospek? Padahal beberapa anggota laki-laki lainnya punya fisik yang jelas lebih besar dariku. Punya kepribadian yang kurasa jauh lebih kuat daripada aku. Dua orang anggota perempuan bahkan secara fisik lebih menjulang. Tapi tetap saja, tanggung jawab itu dijatuhkan kepadaku! Sejak awal penunjukan, aku sudah beberapa kali meminta agar posisiku digantikan oleh Kiki, Agam, atau siapa pun yang lebih cocok. Tapi tak satu pun dari mereka bersedia mengambil alih.

Sebagai ketua, aku harus bertanggung jawab penuh atas dinamika kelompok, termasuk “memikul” banyak beban yang sebenarnya terasa tidak seimbang. Dengan beban itu, aku pun menjalani hari-hari ospek dengan sedikit enggan. Segala aktivitas kelompok kuikuti dengan setengah hati. Sudah coba kusampaikan kalau aku tidak punya kapasitas maksimal untuk memimpin. Tidak punya karakter yang tegas atau visi yang kuat untuk mengoordinasi. Tapi semua argumenku hanya melayang begitu saja. Tak ada yang benar-benar peduli, apalagi berniat menggantikan.

Teman-teman sekelompokku, dari yang kutangkap selama beberapa hari ini, memang bukan tipe yang ingin menonjol atau bersaing jadi yang terbaik. Jika dibandingkan dengan kelompok lain, kami terkesan kurang semangat, cenderung pasif, dan lemah inisiatif. Tagline kelompok kami dalam setiap perlombaan pun terdengar sederhana: “Asalkan bukan yang terakhir.”

Dan kenyataannya memang begitu. Selama ospek, kelompok kami nyaris tak mendapatkan perhatian. Tak pernah benar-benar mencetak prestasi, tapi juga tak pernah jadi yang paling akhir. Ada... tapi seperti tak dianggap. Hampir bisa disebut sebagai pelengkap.

Padahal, sejujurnya, anggota kelompokku punya potensi yang besar. Mereka cerdas, tanggap, dan secara individu cukup bisa diandalkan. Mungkin saja, seandainya mereka mau sedikit saja mengencangkan niat, hasilnya akan berbeda. Atau barangkali, mereka perlu dipantik dengan pancingan yang lebih menantang? Siapa tahu kan?

Dan rupanya, dugaanku itu tidak meleset. Pada hari terakhir, panitia mengadakan satu perlombaan final antarkelompok. Sebuah gim multilapis yang diberi nama “Golden Tooth of Wisdom”. Lomba pamungkas ini kata mereka menjadi ajang penentu kelompok terbaik selama masa orientasi.

Di luar dugaan, kelompok kami yang selama ini cenderung pasif, justru tampak melesat. Tidak dengan gegap gempita, tapi dengan ketenangan yang rapi. Kami saling bekerja sama membagi peran tanpa banyak perdebatan. Perlahan mulai menyalip kelompok-kelompok lain dengan langkah yang pelan tapi pasti.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kelompok ini sebagai satu kesatuan yang hidup. Dan untuk pertama kalinya juga, aku merasa peran yang sejak awal terasa berat itu, mulai menemukan maknanya.


Golden Tooth of Wisdom (Gigi Emas Kebijaksanaan)

Saat momen pengumuman tiba, ketua panitia berdiri di tengah-tengah kami yang telah membentuk lingkaran besar lantas menyaringkan suaranya. Ia mengatakan jika permainan penutup ini adalah sebuah gim perburuan harta karun. Awalnya, mereka seolah ingin menjaga kesan misterius dengan hanya memberi petunjuk samar dan kata-kata yang menggantung. Namun tak lama kemudian, mereka memilih untuk langsung menjelaskan secara gamblang kalau harta karun yang dimaksud adalah sebuah replika gigi emas.

Tentu bukan emas sungguhan, melainkan sebuah gigi tiruan berbahan resin yang dilapisi cat berwarna emas. Gigi itu telah disembunyikan di suatu tempat rahasia di area kampus.

Menurut game master, sebutan yang dipilih ketua panitia untuk dirinya sendiri, replika gigi emas itu bukan sekadar benda simbolik, melainkan lambang dari ilmu dan kebijaksanaan seorang dokter gigi. Katanya, dalam proses menuju kedewasaan, manusia akan mengalami pertumbuhan gigi terakhir, yakni geraham ketiga, yang dikenal sebagai wisdom tooth atau gigi kebijaksanaan.

Konon, menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun dari angkatan ke angkatan (bagiku terdengar agak dramatis dan terlalu dibuat-buat), ada satu gigi emas istimewa yang tersembunyi dalam tiap gelaran orientasi. Gigi ini hanya akan ditemukan oleh kelompok yang paling tangguh, paling cerdik, dan paling ulet. Dan siapa pun yang berhasil menemukannya, dipercaya akan dianugerahi keterampilan klinis luar biasa serta kecerdasan tinggi dalam menempuh pendidikan kedokteran gigi nantinya.

Permainan ini akan berlangsung dalam tiga babak, jelas sang game master, dengan sistem gugur di setiap tahapannya. Di babak pertama, empat kelompok dengan skor terendah akan langsung tersingkir. Hal yang sama akan berlaku di babak kedua, yakni empat tim terbawah akan tereliminasi. Lalu, empat tim terbaik yang tersisa akan bertarung di babak ketiga untuk memperebutkan dua posisi teratas. Dan hanya dua kelompok terbaik itulah yang berhak memecahkan keseluruhan teka-teki demi menemukan lokasi akhir harta karun kampus.

Seorang kakak tingkat lainnya, mungkin asisten game master maju ke depan. Ia menatap kami sejenak, lalu menambahkan keterangan game master dengan nada penuh atensi. Suaranya pelan, tapi tegas. Cukup untuk membuat semua peserta diam dan memasang telinga. “Dengarkan baik-baik ucapan saya berikut ini,” katanya, seperti tengah membacakan mantra penting. “Harta karun kampus ini tersembunyi di tempat yang sering menjadi saksi awal perjalanan seorang dokter gigi muda.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti teka-teki yang baru saja dibuka sebagian. Dan saat itulah aku menyadari jika mata teman-teman kelompokku mulai memancarkan sorot yang berbeda. Cahaya antusiasme muncul di wajah-wajah yang sebelumnya datar. Semangat yang semula padam seperti hidup kembali, diterangi pendar rasa ingin tahu. Untuk pertama kalinya selama ospek, kelompok kami terlihat benar-benar siap. Tak sabar. Seolah masing-masing dari kami telah menemukan alasan untuk menaklukkan tantangan hari itu.

 

Gim I : Battle of the Bites (Pertarungan Gigitan)

Awalnya kami bingung dengan penjelasan game master terkait aturan main gim pertama. Namun, setelah mencoba lebih saksama mendengarkan penjelasan untuk yang kedua kalinya, kami mulai paham jika permainan pada babak ini ternyata adalah kompetisi memasang gigi pada model gigi. Aturan mainnya adalah: tiap tim diberi satu pasang model rahang dengan soket atau wadah gigi yang masih kosong. Soket inilah yang nantinya harus diisi oleh gigi yang presisi, yang diambil dari papan permainan utama yang ada di tengah-tengah arena.

Lebih lanjut, game master menjelaskan kalau total gigi yang tersedia berjumlah 384 buah. Seluruhnya dicampur secara acak di papan permainan utama yang dapat digunakan oleh 12 kelompok. Setiap tim harus berlomba mengumpulkan 32 gigi yang tepat untuk dipasang pada soket kosong, mengikuti susunan gigi permanen orang dewasa. Tantangannya ialah dari keseluruhan gigi yang tersedia, panitia hanya menyiapkan delapan set lengkap. Artinya, akan ada empat tim terbawah yang gugur. Mereka yang kalah cepat dalam menyusun model gigi secara utuh.

Untuk mengantisipasi kebingungan peserta, panitia telah menyiapkan panduan berisi petunjuk posisi masing-masing jenis gigi, lengkap dengan keterangan sisi kanan dan kiri yang benar. Seluruh petunjuk disusun bukan dalam bentuk kalimat literal, melainkan dirangkai menjadi teka-teki yang menarik, tapi tetap terjangkau oleh nalar lulusan SMA.

Ketika perlombaan baru saja dimulai dan waktu baru berjalan beberapa menit ketika Kiki tiba-tiba menyeletuk dengan nada kesal, “Sudah, sudah. Nggak usah lanjut, deh. Ngapain sih main game beginian segala? Sok asik banget panitianya!”

Tak ada yang menjawab. Tiap orang hanya diam dan tidak banyak bergerak. Kami hanya duduk manis menunggu pergerakan tim lawan yang sepertinya juga masih malas-malasan.

Tak lama, dua orang dari tim “Pedodonsi” bergerak maju ke papan tengah dan mengambil beberapa gigi. Mereka kembali ke regunya masing-masing dan mereka kini mulai menyusun strategi.

Beberapa tim yang lain kemudian bergerak mengikuti. Mereka terus maju meski dengan langkah yang ragu. Dan lambat laun, tiap tim mengirimkan perwakilannya ke tengah papan untuk mengambil gigi yang entah akan mereka apakan. Tinggal tiga kelompok saja yang masih diam, termasuk kelompok kami.

“Ayo, gas! Kita harus main sekarang,” kata Agam. “Jangan diam saja! Ingat, jangan sampai kita jadi kelompok yang gagal di permainan pertama,” lanjutnya lagi.

“Ya sudah ayo… Kalaupun kalah ya jangan malu-maluin banget lah ya,” sahut Yoshua menimpali.

Kami pun mulai bergerak. Spontan, aku mengajak teman-teman berkumpul dalam sebuah lingkaran kecil. Kucoba membagi tugas sesuai dengan keinginan mereka karena aku belum benar-benar mengenal kemampuan dan keahlian masing-masing. Tapi yang jelas, kulihat semburat semangat yang terang benderang memancar dari wajah mereka.

Setelah menjalani briefing singkat, kami langsung bergegas melakoni peran masing-masing. Baik laki-laki maupun perempuan, tak ada yang menganggur sama sekali.

Dalam beberapa waktu ke depannya, waktu seolah berjalan dengan begitu cepat. Pertarungan kami menjadi begitu sengit. Di kelompok kami, ada yang berperan membaca petunjuk, ada yang mengambil gigi, ada yang memasang pada model, dan ada yang membaca strategi lawan. Tepukan tangan dari kating menambah semangat kami dalam berlomba.

“Pedodonsia” tampil gemilang menjadi tim pertama yang berhasil menyusun model gigi secara lengkap. Mereka dipersilakan oleh panitia untuk segera menepi dan berbaris di pinggir arena, menyemangati tim-tim lain yang masih berjuang. Di antara barisan itu, aku menangkap sosok berwajah kalem yang membuatku tertegun sejenak. Seperti wajah lama yang diam-diam kurindukan, tapi tak bisa lama-lama kupandangi karena kelompok kami harus segera menyusul untuk mengisi slot tujuh tim lainnya demi mengamankan posisi.

Berikutnya, berangsur-angsur “Radiologi Dental” dan “Penyakit Mulut” menyusul. Saat mengetahui sudah ada tiga kelompok yang telah berhasil, hatiku berdesir-desir. Pasalnya, kelompok kami belum berhasil menyusun satu rahang pun. Aku benar-benar tak mau gagal di perlombaan pertama. Dan aku mencoba semakin intens menyemangati teman-teman.

Dan ketika kelompok “Peridonsia” dan “Odontologi Forensik” berhasil menjadi tim yang ke-4 dan 5, kami menjadi semakin tertekan. Sekarang jelas, hanya tinggal tiga kelompok tersisa.

“Ayo… ayo… kurang apalagi?” kataku menanyai teman-teman.

Lalu dengan gerakan cepat layaknya singa menerkam mangsa, Kiki memasukkan dua buah gigi pada dua soket terakhir yang masih kosong. Begitu terpasang, spontan kami bersebelas berteriak bersama, “Finissssssh. Finisssssh!”

Kegirangan kami pecah tak terkira saat seorang panitia mengonfirmasi keberhasilan kelompok kami. Rasanya luar biasa. Kami menjadi tim keenam yang berhasil lolos. Dan hanya berselang lima menit saja, panitia langsung mengumumkan tim ketujuh dan kedelapan yang juga berhasil menyelesaikan tugas. Andai saja kami terlambat beberapa menit, entah bagaimana nasib kami saat itu.

Kami semua yang total berjumlah delapan kelompok merasa bangga bisa lolos menuju babak selanjutnya. Sebagai hadiah atas keberhasilan ini, game master memberi kami clue pertama untuk menemukan harta karun.

Aku mewakili kelompokku maju ke depan mengambil sebuah gulungan dari game master lantas kami buka bersama-sama. Perkamen itu berisi tulisan: "Aku adalah benda yang tajam, tetapi bukan senjata. Aku berdiri di antara dua yang lebih tumpul, siap mencengkeram dan merobek, bukan memotong atau mengoyak. Jika kau ingin menemukan jalan, temukan namaku di tanah tempat para penerus ilmu."

“Ini clue-nya jelas taman Kanina bukan sih?” Kata Kiki tiba-tiba bertanya.

“Ssst… jangan keras-keras,” bisikku cepat. “Jangan sampai kedengaran kelompok lain. Dan jangan buru-buru juga. Kita harus pastikan dulu sampai clue terakhir.”

Dan kami pun bersiap untuk mengikuti permainan kedua. Sementara empat kelompok lain yang telah gugur duduk di pinggiran menyaksikan kami berkompetisi.


Gim II. Guardians of Precision (Penjaga Ketepatan)

Target kelompok kami sebenarnya sudah tercapai sejak lolos dari gim pertama. Rasanya kami sudah boleh bernapas lega. Untuk babak kedua, kalaupun harus kalah, kami pikir, itu bukan hal yang memalukan lagi.

Bahkan beberapa dari kami, secara diam-diam, nyaris menyepakati untuk benar-benar kalah saja di babak ini. Ada semacam kemalasan yang menyaru jadi keikhlasan. Apalagi ketika panitia mengumumkan tema tantangan berikutnya, raut wajah teman-teman langsung berubah ogah-ogahan. Tema babak dua adalah tentang matematika.

Game master berdiri di depan, dengan senyum penuh teka-teki mengatakan, “Dokter gigi pun tidak bisa lepas dari matematika,” katanya. “Selama kita hidup, kita akan terus menggunakannya.”

Beberapa orang menghela napas panjang. Aku bisa merasakan gelombang penolakan memori semasa SMA mulai mengendap di udara. Barangkali mereka yang kuliah di tempat kami saat ini ialah mereka yang lari ke biologi karena trauma dari matematika.

Ketika panitia menyerahkan gulungan kertas berisi soal, aku membukanya perlahan, lalu menyodorkannya ke tengah-tengah kelompok. Seketika itu juga, wajah teman-teman mendadak pucat. Mereka menatap lembar soal seperti menatap hasil tes lab darah yang tak sesuai ekspektasi.

Karena penasaran, aku memindai isinya sekilas. Tiga soal. Masing-masing berbeda. Yang pertama: soal kompetensi manajerial dokter gigi dalam membuka praktik mandiri. Soal itu melibatkan hitungan modal, biaya operasional, dan harga sewa. Yang kedua: soal perbandingan sebaris untuk menghitung konsentrasi fluoride dalam pasta gigi. Dan yang ketiga: soal menghitung kebutuhan dosis larutan anestesi lidokain berdasarkan berat badan pasien dan kondisi sistemik yang melingkupi.

Lihat selengkapnya