Dokter gigi itu spesialis, ya, Fath?
Harus sekolah dokter umum dulu kah?
Kenapa sekolahnya lama banget padahal cuma belajar soal gigi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah terlalu sering mampir ke telingaku. Bukan sekali-dua kali, tapi berkali-kali. Dari teman sebaya, saudara, kenalan baru, hingga orang-orang terdekat sekalipun.
Bahkan Ghafir, mahasiswa cerdas yang selalu tampil mengesankan saat pengajian di kelas, pernah bertanya dengan wajah polosnya, “Di FKG itu belajarnya cuma soal gigi aja, ya? Kalau Kamu pengin ambil peminatan THT, bisa nggak?”
Waktu itu aku hanya bisa menepuk jidat. Antara geli dan lelah. Antara muak dan pasrah. Kenapa ya orang-orang ini?! Mengapa hal-hal dasar seperti ini saja masih sering disalahpahami? Bagaimana mungkin mereka belum bisa membedakan antara Fakultas Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, dan bahkan Kedokteran Hewan?
Dari fenomena simpel ini aku jadi sadar kalau yang sebenarnya perlu kami rawat ternyata bukan cuma gigi saja, tapi juga cara pandang orang terhadap profesi ini. Karena ya... bagaimana bisa sebuah profesi benar-benar dihargai, kalau keberadaannya saja masih sering keliru dipahami?
Terutama Ghafir. Meski kami hampir setiap hari bersama, ternyata masih banyak hal tentang jurusanku yang tak benar-benar ia ketahui. Semester lalu, ia sampai terperangah saat tahu aku mengikuti kuliah psikiatri.
“Buat apa dokter gigi belajar kejiwaan?” tanyanya dengan alis terangkat dan nada suara setengah mencemooh. “Kalau ilmu penyakit mata sih masih masuk akal, bisa lah buat ngejelasin hubungan cabut gigi dan kebutaan. Tapi psikiatri? Terus… apa? Ilmu kulit dan kelamin juga?” lanjutnya dengan ekspresi yang makin heran saat kuberitahu kalau aku juga belajar cabang ilmu itu.