Zulbarakat, Desember 2010
Investasi untuk menghadapi MQK tingkat provinsi benar-benar dilakukan secara jorjoran. Setiap Sabtu malam, kami diwajibkan mengikuti simulasi lomba di hadapan para pembimbing dan sesama peserta. Waktu ini dipilih karena sebagian besar dari kami adalah pelajar dan mahasiswa yang libur hanya pada hari Minggu. Simulasi mingguan ini jadi ajang untuk mengukur capaian sekaligus membiasakan diri tampil di hadapan banyak orang. Bulan ini, kami benar-benar digembleng dengan latihan yang disiplin.
Pesantren kami menunjukkan keseriusannya dengan menerapkan metode drill yang ketat. Setiap peserta diberi target yang jelas, mulai dari harian, mingguan, hingga bulanan, agar perkembangan bisa dipantau secara berkala. Aku sendiri, selain mendalami kitab utama, Syarah Ibnu ‘Aqil, juga mendapat tugas tambahan, yakni menghafal seribu bait nazam dalam kitab aslinya, Alfiyyah Ibnu Malik.
Jumlah bait yang kuhafal bertambah karena materinya memang diperluas. Jika di tingkat kabupaten maqra’ yang diuji hanya sampai 250 bait, kini aku diwajibkan menghafal minimal 500 bait sebagai batas maqra’ yang harus dikuasai. Dan meski secara resmi targetnya 500 bait, aku menetapkan target pribadi lebih tinggi, yakni menghafal seluruh nazam, karena jika berhasil lolos ke tingkat nasional nanti, seluruh bait akan menjadi materi perlombaan.
Walaupun tugasku seolah lebih berat dibandingkan peserta lain karena adanya tambahan hafalan, tapi aku juga jadi peserta yang paling beruntung karena memperlombakan kitab yang paling familier. Kitab Syarah Ibnu ‘Aqil telah menjadi bagian dari kurikulum pesantren kami selama bertahun-tahun. Berbeda dengan kitab milik Ghafir yang jarang disentuh dalam pengajian harian kami.
Selain itu, pesantren memang sudah lama mengedepankan program hafalan sebagai bagian dari metode pembelajaran. Prinsip yang diyakini adalah bahwa hafalan tidak hanya menguatkan ingatan, tapi juga meningkatkan pemahaman ilmu. Sebagai pesantren yang memiliki kekhususan dalam pendalaman ilmu lughah atau bahasa Arab, menghafal nazam Alfiyyah Ibnu Malik bahkan sudah menjadi syarat kenaikan kelas bagi kami.
Maka hari-hariku dan peserta lain yang lolos dari MQK tingkat kabupaten dipenuhi dengan mutalaah1 dan mutalaah. Tak sehari pun terlewat tanpa membuka dan membaca kitab. Teks berbahasa Arab menjadi teman harian, bahkan aksaranya lebih familier ketimbang Hanacaraka. Ya, sebuah ironi yang nyata dan terjadi di banyak pesantren.
Yang membuat kegiatan kami kali ini begitu berkesan adalah keterlibatan Gus Fadel, putra bungsu kyai pengasuh pesantren kami, yang baru saja kembali dari Maroko untuk menjalani studi doktoral kurang dari setahun lalu. Kabarnya, saat diberi tahu tentang persiapan lomba menuju tingkat provinsi, ia sangat antusias dan bahkan meminta secara langsung untuk dilibatkan sebagai salah satu mentor dalam pelatihan kami.
Sampai sekarang, Gus Fadel tak pernah absen memantau perkembangan kami. Ia selalu hadir di setiap simulasi lomba, aktif memberikan masukan yang segar dan mencerahkan. Aku pribadi merasa beruntung, karena masukan darinya selalu membuka sudut pandang baru yang membantu kami untuk terus berkembang.
Suatu kali, ia pernah berpesan, “Capaian paling penting dari perjalanan kalian di pesantren ini sebenarnya adalah pengajian harian kalian. Itu yang harus kalian pelajari dengan sungguh-sungguh secara kontinyu. Sedangkan materi perlombaan ini... yaaa memang harus dipelajari serius, tapi jangan sampai membuat kalian stres.” Dalam kesempatan lain, ia menegaskan kalau kemampuan membaca kitab hanyalah langkah awal dalam perjalanan menuntut ilmu. Masih ada banyak tahapan selanjutnya yang harus dilakukan. Maka dari itu, tidak perlu larut dalam euforia pencapaian MQK secara berlebihan.
Dari seluruh peserta kategori atas, aku yang paling sering tampil di urutan pertama. Bukan karena ditunjuk, tapi karena mengajukan diri. Alasanku sederhana: aku benar-benar butuh malam Minggu yang panjang untuk menyelesaikan laporan praktikum. Namun jika tugas kuliah bisa kuselesaikan pada malam-malam sebelumnya, terkadang aku mendapat giliran tampil di tengah atau bahkan di akhir. Ketika kesempatan itu datang, aku punya kesempatan menyaksikan teman-temanku tampil terlebih dahulu. Aku bisa menyimak evaluasi dari pembimbing dan wejangan berharga dari gus Fadel.
Gus Fadel ternyata sosok yang sangat peka. Ia mampu menangkap hal-hal yang sulit kami ucapkan, tetapi diam-diam membayangi pikiran banyak orang di antara kami. Kami, para peserta lomba, sedang menghadapi dilema: ingin tampil sebaik mungkin di hadapan para pembimbing, tetapi di sisi lain merasa malu karena diam-diam masih bergantung pada buku terjemah.
Mengapa dilema ini terasa berat?
Pertama, teks kitab yang kami dalami menggunakan bahasa Arab, yang bukan bahasa ibu kami. Selain itu, kitab-kitab yang menjadi acuan lomba juga bukan kitab yang biasa kami pelajari dalam pengajian sehari-hari. Bahkan, jika tidak masuk dalam daftar lomba, mungkin kami tidak akan pernah menyentuh kitab-kitab tersebut, apalagi berusaha memahaminya.