Laboratorium Riset Terpadu, Maret 2011
Tidak berlebihan jika kami menjuluki Ihsan sebagai Sang Penakluk. Tiga semester terakhir, IPK-nya selalu sempurna: empat koma nol nol. Artinya, tak ada satu pun mata kuliah yang gagal ia taklukkan. Semuanya bernilai A. Tak hanya cemerlang dalam kuliah, nilai ujian praktikumnya pun menjadi yang tertinggi di antara mahasiswa seangkatan. Bahkan kabarnya, skor tentamen Anatominya menjadi yang paling tinggi sepanjang sejarah. Nilainya 39,25/40. Hanya salah menuliskan istilah 'perimandibula' menjadi 'submandibula'. Laporan praktikum miliknya juga menjadi yang paling lengkap di antara Valplastic, menjadikannya harta karun paling diburu oleh adik tingkat. Kata mereka, memiliki laporan praktikum Ihsan bagaikan menggenggam kunci emas menuju keberhasilan.
Sementara kami, yang nilainya mengikuti turbulensi pasar dan jauh lebih perlu dikasihani, justru sering dibayang-bayangi kekhawatiran akan masa depan Ihsan. Sebuah kekhawatiran yang sebenarnya sangat tidak diperlukan. Kami takut nilai Ihsan akan turun di semester-semester berikutnya. Apakah prestasinya ini akan tetap bertahan hingga kami lulus?
Tak ada yang tahu. Yang jelas, kami sungguh menantikan bagaimana semester baru nantinya berjalan dan ingin sekali menyaksikan bagaimana Ihsan menaklukannya. Aku sendiri ingin mengamati bagaimana dia belajar sehingga materi kuluah yang rumit pun tampaknya begitu mudah ketika ada di tangannya.
Agaknya, kecemerlangannya ini hanya berlangsung untuk kurun waktu tiga semester. Semester empat ini adalah mimpi buruk bagi kami semua, terutama Ihsan. Seperti tupai yang sepandai-pandainya melompat tetap akan jatuh juga, maka perjalanan akademik Ihsan pun demikian. Tidak ada satu pun yang mampu mengaburkan silaunya sampai kami memasuki praktikum Anatomi Gigi di semester ini.
Praktikum ini dirancang untuk memperdalam pemahaman mahasiswa dalam kuliah Anatomi Gigi, khususnya proses pertumbuhan, perkembangan, hingga pergantian gigi. Pemahaman tersebut menjadi fondasi penting bagi berbagai mata kuliah kedokteran gigi klinis selanjutnya, sekaligus sebagai bekal bagi calon dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal kepada pasien.
Dalam praktikum tersebut, kami diberi tugas untuk memahat malam menjadi replika gigi manusia yang proporsional dan estetis. Ada lima jenis gigi yang harus kami ukir setiap minggunya: gigi seri atas, gigi seri samping atas, geraham bawah, geraham atas, dan geraham depan bawah. Setiap ukiran menuntut ketelitian, sebab kami harus memperhatikan berbagai detail anatomi, mulai dari perbandingan ukuran mahkota dan akar, lekukan permukaan cekung maupun cembung, hingga batas-batas yang membedakan satu struktur dengan struktur lainnya.
Bagi banyak mahasiswa, praktikum Anatomi Gigi terasa seperti ruang untuk berekspresi. Sebuah media dimana keterampilan tangan bertemu dengan jiwa seni. Tak heran jika praktikum ini kerap dianggap sebagai perpaduan antara kedokteran dan seni pahat dalam skala miniatur. Kami pun menjalaninya dengan penuh sukacita karena memang mengasyikkan.
Namun, tidak demikian halnya dengan Ihsan. Baginya, praktikum ini adalah momok yang sangat menakutkan. Kegiatan memahat model malam yang terasa begitu mudah bagi kami ternyata menjadi pekerjaan yang rumit di tangannya. Tak seorang pun menyangka jika sesuatu yang sesederhana itu menjadi titik lemah dari sosok yang selama ini kami kenal nyaris tanpa cela.
Sejak gigi pertama hingga kini kami sudah mencapai gigi keempat, pekerjaan Ihsan tak kunjung membaik. Setiap ukiran yang ia hasilkan selalu tampak berantakan. Permukaan gigi yang harusnya cembung dipahatnya datar, lekukan yang harusnya dipahat mulus membentuk parabola malah dibuatnya bersudut. Hasil praktikumnya, jujur saja, tertinggal dari milik teman-teman seangkatan yang mulai menunjukkan kemajuan.
Meski aku tidak satu kelompok dengannya, kabar tentang kesulitan yang dihadapi olehnya ini dengan cepat menyebar. Bagaimana tidak? Kami semua melakoni praktikum di ruangan yang sama. Walaupun terbagi dalam kelompok-kelompok kecil dan tenggelam dalam pekerjaan masing-masing, tapi mata dan telinga kami tak pernah benar-benar tertutup. Di ruangan itu, tak ada rahasia yang bisa dipendam.
Sebaliknya, Kiki, yang punya reputasi akademik awur-awuran, justru menunjukkan perkembangan tak terduga. Beberapa minggu terakhir namanya melesat dengan cepat bak komet. Para asisten dosen pun kerap melayangkan pujian setiap kali melihat hasil karyanya. Entah rahasia apa yang ada pada jemarinya, tetapi tangan Kiki seolah dialiri minyak pelumas ajaib yang membuat setiap lekukan pahatan malamnya tampak mulus dan presisi. Tidak heran jika banyak teman mulai mendekatinya, memanfaatkan "tangan ajaibnya" yang konon bisa memancarkan oli estetik dalam setiap ukirannya.
Dalam sebuah sesi praktikum, aku menyaksikan pemandangan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya: Ihsan menghampiri Kiki. Tanpa sedikit pun ragu, ia meminta Kiki mengoreksi ukiran malam yang dibuatnya. Pemandangan itu tampak nyaris absurd. Ihsan, yang selama ini dikenal sebagai sang penakluk di berbagai medan akademik, akhirnya mengakui jika ada satu wilayah yang tak mampu ia kuasai.
"San, kamu tahu nggak, kurangnya ukiranmu itu apa?" tanya Kiki dengan suara yang tenang, tapi dengan mata tajam menelisik.
Ihsan menghela napas, mengelus keningnya yang berkerut. "Ini... permukaan depannya kurang cembung, kan ya? Jadinya giginya kelihatan kurang natural."
Ada nada kepolosan yang kontras dengan citranya selama ini.
Kiki terkekeh pelan, bibirnya tersungging setengah menggoda, setengah menyombongkan diri. "Lah itu kamu tahu... terus kenapa kamu ukirnya rata begini? Mana ada gigi manusia model begini?"
"Sudah, sudah. Bantu aku saja, Ki. Aku pusing. Tanganku benar-benar nggak bisa diajak kompromi," keluh Ihsan nyaris putus asa.
Kiki tertawa lepas. Namun tawa itu segera terhenti ketika jemari senimannya mulai beraksi. Sesekali ia melirik ke kanan dan kiri, memastikan tak ada asisten dosen yang memergoki aksi bantu-membantu 'ilegal' mereka.
Kiki, yang selama ini langganan remedial setiap ujian teori, tampak begitu pongah. Praktikum Anatomi Gigi ini sungguh adalah panggung emas baginya untuk mengungguli Ihsan.
Untuk pertama kalinya dalam empat semester, secercah asa membias di langit cakrawala. Ada harapan baginya untuk mengalahkan Ihsan, setidaknya dalam tiga SKS saja: satu SKS kuliah dan dua SKS praktikum. "Ya, aku akan mengalahkannya kali ini," batin Kiki dan mungkin banyak teman yang lain."
Selain Anatomi Gigi, praktikum lain yang cukup menantang bagi kami adalah “Prostodonsia”. Nama yang terdengar asing di telinga, nyaris seperti sebuah mantra. Namun, dosen kami menjelaskannya dengan sederhana: prosto berarti penggantian, dan donti berarti gigi. Maka prostodonsia berarti ilmu tentang penggantian gigi tiruan. Dalam praktikum ini, keterampilan tangan kami semakin diuji. Semua orang tampak menikmatinya, atau paling tidak, berusaha menikmati.
Kecuali tentu saja satu orang: Ihsan.
Ia tetap datang praktikum setiap minggunya. Tetap duduk di kursinya seperti biasa. Tetap memegang alat-alatnya, tapi memancarkan suasana yang selalu terasa berbeda dari yang lain. Ekspresinya datar, gerak-geriknya kaku, dan setiap sesi praktikum seperti menjadi beban yang tak pernah berkurang.
Seperti halnya pada praktikum Anatomi Gigi, kami menyadari hal itu pelan-pelan. Tak ada yang pernah membicarakannya secara langsung. Tapi dalam hati, kami mengerti kalau tangannya seperti tak “hidup”. Tangan Ihsan seperti tak memiliki keluwesan yang dibutuhkan dalam pekerjaan-pekerjaan artistik, entah itu mengukir, memoles, memahat, atau membentuk sesuatu dari bahan tak bernyawa menjadi sesuatu yang menyerupai gigi manusia.
Hasil praktikumnya... yah, seringkali pas-pasan. Bahkan kadang di bawah rata-rata. Meskipun demikian, ia tidak pernah berhenti berusaha. Ia tetap mencoba. Tetap menggenggam alat-alatnya meski berkali-kali salah bentuk, meski karyanya tak kunjung dipuji. Ada tekad diam-diam dalam dirinya, yang entah muncul dari mana. Seakan ia ingin tetap bertanggung jawab atas pilihannya, sekalipun jalannya perkuliahan mungkin tak sesuai dengan ekspektasi awal.
Teknis praktikum Prostodonsia pada dasarnya tak jauh berbeda dari Anatomi Gigi. Kami mengerjakannya bersama seluruh teman seangkatan, bertempat di laboratorium gigi terpadu yang sudah mulai terasa seperti rumah kedua. Namun, ada sedikit perubahan yang membuat perbedaan cukup signifikan. Karena terdapat dosen senior dari departemen yang semester lalu baru saja pensiun, sementara kampus belum merekrut pengganti, komposisi tiap kelompok menjadi kian gemuk. Jika biasanya satu kelompok berisi sepuluh atau sebelas orang, kini menjadi tiga belas. Penambahan itu membuat Ihsan masuk ke dalam kelompok kami, kelompok satu. Dan di situlah kami mulai mengenalnya lebih dekat.
“Perhatikan saya baik-baik,” kata dosen Prostodonsia kami pagi itu, berdiri di depan teknisi yang menjadi probandus dengan postur tegas. “Posisi mencetak rahang atas yang benar itu, operator berada pada posisi jam sebelas terhadap pasien. Instruksikan pasien untuk duduk tegak lurus, kepala sedikit menunduk…”