Ruang Kuliah H1, April 2011
Tak ada satu pun dari kami yang tahu apa makna di balik namanya. Dokter Gadro—begitu kami memanggilnya—memang tak pernah menjelaskannya secara gamblang. Namun, satu hal yang pasti di mata kami: dia adalah sosok yang sangat kami hormati. Meski matakuliahnya hanya 1 SKS dalam seminggu—sangat singkat dibandingkan matakuliah lainnya—ia selalu mampu meninggalkan kesan mendalam lewat cara bercerita yang tak biasa.
Setiap pertemuan terasa seperti membuka jendela ke dunia yang selama ini tersembunyi di balik selubung misteri. Ia adalah satu-satunya dokter gigi yang mengampu kuliah Kedokteran Gigi Forensik, atau dalam istilah yang lebih keren, yakni Odontologi Forensik. Uniknya, meski berlatar belakang dokter gigi, ia justru bernaung di bawah Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UGM. Selain itu, dalam kegiatan sehari-hari ia berpraktik sebagai dokter fungsional di instalasi forensik RSUD Dr. Sardjito.
Kesan pertamaku tentang dokter Gadro begitu membekas. Saat itu, di tengah ruang kuliah yang penuh oleh mahasiswa—kami belum pernah bersentuhan dengan dunia forensik sebelumnya, ia berkata dengan nada tenang namun penuh makna, “Meskipun ilmu DNA telah mengalami kemajuan luar biasa, identifikasi melalui gigi tetap menjadi metode yang cepat, ekonomis, dan bisa diandalkan. Kita patut berbangga menjadi bagian penting di dalamnya. Kalian tahu kenapa? Ada yang tahu?”
Kami saling melirik, menggeleng pelan. Tak ada seorang pun yang mampu menjawab.
Dokter Gadro tersenyum tipis, lalu menjelaskan, “Karena gigi adalah struktur paling keras dalam tubuh manusia. Bahkan lebih keras daripada tulang. Itu sebabnya, gigi adalah organ yang paling mampu bertahan dari trauma, paparan bahan kimia, proses pembusukan, perendaman, bahkan api. Restorasi yang tertanam di dalamnya juga bisa menjadi jejak yang sangat berharga dalam identifikasi jenazah atau pengungkapan kasus hukum.”
Suasana hening. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti menancap ke dasar pikiran kami, meskipun kami belum benar-benar bisa memahaminya secara mendalam.
“Dan,” lanjutnya lagi, “Area kepala, terutama rongga mulut, cenderung lebih terlindungi saat terjadi trauma. Maka, tak jarang gigi menjadi bagian terakhir yang tersisa... bahkan ketika anggota tubuh lainnya telah hancur.”
Hari itu, bukan hanya ilmu yang ia tanamkan, tapi juga rasa kagum. Juga rasa hormat yang tumbuh pelan-pelan dari cerita, cara bicara, dan makna yang disematkannya pada setiap kuliah singkat itu. Kami selalu dibuat manggut-manggut mendengarkan penjelasan dokter Gadro.
Lalu, seiring bergulirnya minggu-minggu perkuliahan, setiap sesi bersama dokter Gadro terasa seperti membuka bab demi bab sebuah serial eksklusif yang tak bisa ditemukan dimana pun. Ia selalu menyelipkan kisah nyata, kisah besar yang tertulis dalam sejarah umat manusia, dengan cara bertutur yang penuh jiwa dan tenaga. Tak pernah ada yang menduga cerita apa yang akan keluar dari mulutnya hari itu, dan barangkali justru di sanalah letak sihirnya. Kami datang bukan hanya untuk belajar, tapi untuk menanti sebuah dongeng gelap dari dunia forensik yang memikat sekaligus menegangkan.
Pernah suatu hari, kami duduk terdiam mendengarkan kisah tentang tragedi Bazar de la Charité, sebuah pasar amal di jantung kota Paris yang pada musim semi tahun 1897, terbakar hebat melahap lebih dari seratus nyawa. Ia bercerita perlahan, nyaris seperti membaca naskah film dokumenter: tentang bagaimana para korban yang kebanyakan adalah perempuan dari kalangan bangsawan terpanggang dalam waktu singkat; tentang bagaimana tubuh-tubuh mereka menjadi tak bisa dikenali. Dan di sanalah, kata dokter Gadro, identifikasi gigi untuk pertama kalinya digunakan secara sistematis dalam proses hukum modern.
Lain waktu, ia memilih menceritakan kisah “The Pyjama Girl”, kasus pembunuhan tragis seorang perempuan muda bernama Linda Agostini di Australia pada tahun 1934. Dengan suara pelan namun menusuk, ia mengisahkan bagaimana tubuh sang gadis ditemukan terbakar dalam kondisi mengerikan, dan bagaimana penegakan hukum nyaris mandek... sampai akhirnya seorang ahli gigi forensik mengungkap identitas korban dari mahkota dan tambalan giginya.
Bulu kuduk kami meremang. Bukan hanya karena ceritanya yang mengerikan, tapi karena kesadaran bahwa ilmu yang kami pelajari ini—yang selama ini hanya kami saksikan dalam film fiksi sains barat—nyatanya bisa menjadi kunci pembuka kebenaran yang nyata dalam kasus kemanusiaan.
Dan tentu saja, kami takkan lupa hari ketika ia menutup kuliah dengan kisah identifikasi Adolf Hitler. Tahun 1945, Berlin luluh lantak, bunker terbakar, dan tubuh sang diktator tinggal serpihan tulang dan abu. Namun, dunia menuntut kepastian akan keberadaannya. Dan dari sisa akar gigi yang ditemukan, dibantu catatan medis gigi dari dokter pribadinya, teka-teki itu akhirnya terjawab. Dunia yang porak-poranda akhirnya mendapatkan sedikit kejelasan. Dan sekali lagi, gigi-lah yang berbicara ketika mulut telah lama diam.
Setiap kisah itu seakan menanamkan satu benih baru di dada kami, benih rasa hormat, rasa tanggung jawab, dan rasa cinta terhadap pendidikan profesi yang telah kami pilih. Di tangan dokter Gadro, forensik bukan sekadar ilmu, tapi lentera yang menuntun jiwa-jiwa yang hilang untuk pulang ke rumah.
Pada pertemuan terakhir sebelum ujian tengah semester digelar, dokter Gadro juga menjelaskan kepada kami jika gigi memiliki fungsi lain dalam dunia forensik. Ia menutup kelas dengan kalimat yang sangat menggugah: “Gigi, seperti kisah-kisah yang pernah saya ceritakan sebelumnya, bukan hanya menjadi saksi bisu kematian, tapi juga penjaga rahasia kehidupan.”
Kami manggut-manggut saja meski tak begitu paham dengan apa yang ia maksudkan.