Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #19

Kontraindikasi

Meski hasil praktikumnya mengecewakan, pamor Ihsan dalam perkuliahan tetap bersinar terang. Tak sedikit yang diam-diam berharap bisa satu kelompok dengannya. Bukan tanpa alasan. Selama ini, Ihsan punya andil yang besar dalam mengerek performa kelompok dua: tugas makalah bisa dikumpulkan lebih cepat, referensinya nyaris selalu lengkap, dan materi yang mereka bawa kerap mengundang pujian dosen karena berbobot.

Keunggulan itu makin terasa saat diskusi. Wajah anggota kelompok dua selalu menyimpan senyum yang sedikit menyebalkan, sebab Ihsan hampir selalu mampu menutup celah-celah argumen dan mengisi kekosongan logika dalam satu tarikan napas. Mereka cukup membuka pembahasan dan Ihsan yang akan mengambil alih sisanya.

Sementara kelompok satu, kami tidak punya penyelamat. Tidak ada yang bisa mengulurkan tangan ketika kami jatuh ke jurang atau tenggelam sampai ke dasar palung. Ditambah lagi, karena tugas-tugas kuliah lazim dikerjakan dengan sistem berpasangan, kami jadi kelompok yang paling sering dipasangkan dengan kelompok dua. Akibatnya, kami pun tak pernah luput dibanding-bandingkan, seolah terus-menerus kena tulah.

Padahal, kalau mau jujur, kemampuan rata-rata kami sebenarnya tidak jauh berbeda. Kalau diadu head to head, masing-masing dari kami bahkan mungkin bisa lebih baik. Hanya saja, keberadaan Ihsan memang seperti lentera di tengah rimba raya. Cahayanya membuat kelompok dua tampak jauh lebih unggul dan cemerlang. Sementara kami? Ya... tetap kelompok satu, dengan segala stigma buruk yang telanjur melekat.

Aku ingat betul dalam sebuah diskusi praktikum Radiologi Dental, dosen kami tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan absurd. Waktu itu, aku, Kiki, Abel, Raysa, Yoshua, dan Agam hanya diam tak berkutik tak bisa menjawab. Mirip orang-orangan sawah di tengah ladang jagung.

“Sekarang, coba jelaskan konsep sinar X. Analogikan dengan mudah melalui perjalanan Gatotkaca menembus angkasa.”

Kami saling pandang, berpikir keras mencerna pertanyaan profesor kami. Tapi semakin lama, yang kami temukan hanyalah paduan sempurna antara kebingungan dan kekosongan. Tidak ada clue sama sekali untuk memahami maksudnya.

Dalam keheningan yang canggung itu, batinku sempat melayang jauh. Apakah mungkin Gatotkaca butuh gelombang elektromagnetik untuk berpindah medium? Ah, tidak. Pertanyaan macam apa ini? Pikiranku berkecamuk. Saat kulihat wajah teman-teman sekelompokku, yang tampak hanya sorot mata hampa.

"Ayok, dijawab salah satu. Kalian tahu Gatotkaca, kan?" tanya profesor kami lagi

Kami mengangguk serentak dengan pikiran masih kosong yang sama.

Pasti ada yang salah dengan analogoinya! Pikiranku spontan berseru. Aku yakin, kalau Marie Curie atau Wilhelm Roentgen masih hidup, mereka mungkin akan menangis mendengar pertanyaan ini.

Isi kepalaku kembali berontak. Rasa-rasanya, jika ditanya tentang prinsip dasar pembentukan sinar-X, teknis memproses radiografi hingga bisa terbaca, atau pertanyaan praktis lainnya, itu masih mungkin untuk kami jawab. Namun, Gatotkaca? Itu sudah di luar jangkauan kurikulum.

“Padahal kelompok satunya kemarin bisa, loh,” kata profesor kami, dengan nada yang katanya biasa saja, padahal jelas sedang membanding-bandingkan.

Kami jadi kikuk. Diam-diam kami berharap profesor kami itu lupa atau mengganti pertanyaannya; ada panggilan mendadak untuk rapat departemen; listrik di ruangan tiba-tiba padam; atau apalah yang membuat kami berhenti diteror pertanyaan absurd. Tapi sayangnya, tidak ada keajaiban. Hanya kami, pertanyaan Gatotkaca, ruang yang terasa makin sunyi, dan kebodohan yang makin kentara. Rasanya ingin sekali kutarik tangan Ihsan ke kursi kami saat itu juga.

“Ya sudah, kalau tidak tahu, sekarang kamu,” profesor menunjuk Agam, “Sebutkan indikasi menggoreng dengan minyak sawit! Terus kamu,” lanjutnya menunjuk Raysa, “Sebutkan indikasi menggoreng dengan minyak wijen. Dan kamu,” tiba giliranku, “Sebutkan indikasi menggoreng dengan minyak zaitun!”

Kami lagi-lagi hanya saling tatap. Pasrah. Baru kali ini aku merasa diskusi kuliah berubah jadi audisi MasterChef. Bukan. Bukan kuliah kedokteran gigi. Pertanyaannya terlalu jauh dari bayangan materi kami.

“Apa? Hayo... jangan ha-hi-he saja. Jawab!” katanya tegas. “Harus bisa, loh. Kelompok satunya kemarin juga bisa.”

Jujur, rasanya ingin menangis saja. Kenapa kami mesti disodori pertanyaan semacam ini? Padahal ketika kutanya mahasiswa kelompok dua yang sudah lebih dulu diskusi kemarin, mereka cuma diminta membedakan indikasi pemeriksaan radiografi periapikal, oklusal, dan panoramik. Materi yang sudah kami hafal mati. Tapi cara menggoreng? Beberapa dari kami bahkan tidak punya kompor di kosan.

Dan tatkala Raysa, yang jelas lebih sering memasak dibanding kami semua, mulai menjawab pertanyaan sang profesor, “Minyak wijen lebih sering dipakai untuk kosmetik, Prof.”

Ia langsung dipotong, “Kamu itu tidak nyambung. Saya tanya indikasinya buat menggoreng, kok malah jawab peruntukan lainnya.”

“Bukan gitu, Prof, maksud saya...”

“Bukan gitu-bukan gitu... kurang tepat, Nduk. Yang benar, bukan be-gi-tu. Tolong jaga bahasa Indonesianya yang baik dan benar. Diperhatikan lagi, Nduuk.”

Tiba-tiba sang profesor balik bertanya, “Kalian punya KBBI tidak? Tahu apa itu KBBI?”

Kami mengangguk-angguk serentak. Tentu saja, siapa yang tidak tahu KBBI?

“Apa?”

“Kamus Besar Bahasa Indonesia,” jawab kami bersama-sama.

“Bagus. Besok yang belum punya, harus beli ya. Supaya bahasa Indonesianya tidak luntur. Jangan terlalu sering pakai bahasa slang. Kan ini forum diskusi resmi!”

Lihat selengkapnya