Klamer Adam

Sukron Tajudin
Chapter #20

Juara Nasional

Selong, Lombok, Juni 2011

Kami tiba di Bandara Selaparang, Mataram, tepat ketika azan magrib mulai berkumandang dari masjid-masjid sekitar. Udara senja yang hangat menyambut langkah kaki kami di tanah yang disebut-sebut sebagai bumi seribu masjid. Rasanya menyenangkan. Ini adalah pendaratan pertamaku di Pulau Lombok, dan entah kenapa, sejak detik itu juga aku merasa disambut dengan baik oleh tempat ini.

Kekagumanku semakin bertambah ketika kami sampai di Pesantren Darunnahdlatain, yang terletak di Pancor, Kecamatan Selong, Lombok Timur. Bangunannya megah, terawat, dan penuh aktivitas. Dari kejauhan, suasananya mengingatkanku pada Al-Falah di Landasan Ulin, Banjarbaru, lokasi pelaksanaan MQK sebelumnya yang juga membuatku terkesan. Aku semakin sadar jika pesantren-pesantren di luar Jawa pun tak kalah hebat. Bahkan terasa lebih progresif dalam hal fasilitas dan atmosfer. Wawasanku benar-benar bertambah berkat keikutsertaanku dalam perlombaan ini. Perjalanan panjang dan melelahkan selama berjam-jam dari Jogja terasa sangat layak.

Kontingen kami berjumlah 37 orang yang terdiri atas 30 peserta dan 7 ofisial. Seharusnya jumlah peserta bisa mencapai 38 orang, andaikan semua cabang lomba mampu mengirimkan wakil. Tapi melihat kesiapan peserta dan kemampuan daerah, akhirnya dilakukan efisiensi sehingga yang dikirim hanya yang benar-benar siap dan sudah berada di Lombok saat ini. Begitu informasi yang kudengar dari seorang ustaz Zulbarakat.

Tujuh orang ofisial itu terdiri atas lima pembimbing, yang masing-masing bertanggung jawab atas enam peserta, dan dua orang petugas dari kantor Kementerian Agama wilayah Provinsi. Mereka tak hanya mendampingi, tapi juga menjadi penyambung koordinasi dan penenang di tengah kecemasan yang perlahan mulai muncul menjelang hari perlombaan.

Selesai melakukan daftar ulang dan mencetak kartu peserta secara langsung dengan sistem live-entry, kami segera diarahkan menuju kamar penginapan masing-masing. Seluruh tim mendapatkan fasilitas dua kamar: satu untuk peserta putra, dan satu lagi untuk peserta putri.

Aku, Ghafir, dan para peserta putra lainnya berjalan bersama mengekor langkah ofisial menuju kamar yang telah disediakan. Dan begitu pintu dibuka, kami dibuat kagum dan ternganga. Kamar di hadapan kami itu luar biasa luas. Mungkin ukurannya setara aula kecil di pesantren kami. Lantainya bersih, karpetnya tebal dan empuk, serta sirkulasi udaranya terasa sejuk. Kami saling berisyarat tanpa perlu berkata apa-apa. Kamar ini adalah ruangan terbaik yang pernah kami dapatkan selama mengikuti perlombaan semacam ini. Aku yakin malam ini semua orang bakal tidur nyenyak, kataku dalam hati.

Hari-hari berikutnya dimulai dengan pemandangan khas, yang perlahan terasa akrab. Sebuah kompleks bangunan utama Pondok Pesantren Darunnahdlatain yang terdiri atas tiga lantai, dibangun mengelilingi sebuah lapangan yang sangat luas. Suasananya tenang, tapi tetap hidup. Di tengah-tengah lapangan itulah dibangun panggung yang megah untuk acara seremonial pembukaan.

Di berbagai sudut pesantren, spanduk-spanduk ukuran jumbo dipasang dan dibentangkan. Semuanya menampilkan wajah pejabat lokal, terutama tokoh populer NTB: TGB Zainuddin. Tulisan pada spanduk-spanduk itu cukup unik. Bukan MQK atau Musabaqah Qiraatil Kutub sebagaimana gelaran edisi-edisi sebelumnya. Tapi berubah menjadi MUFAKAT yang merupakan kependekan dari Musabaqah Fahmi Kutubit Turots. Dan meski terdapat perubahan nama, tapi secara teknis, tidak ada yang berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Perlombaan tetap terdiri atas dua babak: penyisihan dan final.

Jadwal kami selama di sini sangat tertib dan diperhatikan oleh panitia. Segala sesuatu ditata dalam alur waktu yang rapi. Tiga kali makan—sarapan, makan siang, dan makan malam—terdistribusi dengan baik. Menu makanan selalu berganti, meskipun rasanya tidak selalu akrab di lidah. Tapi dari kandungan gizinya, panitia jelas tidak main-main. Selalu ada sayur, buah, dan lauk utama yang bergizi. Kadang kami diberi nasi kotak, kadang makan bersama dalam format prasmanan.

Selain soal makan, jadwal latihan kami juga cukup intens. Setiap hari, kami berlatih dua kali: pagi setelah sarapan dan sore sebelum magrib. Suasana latihan cukup kondusif, meskipun agak tak biasa. Karena dari lima pembimbing yang mendampingi, semuanya adalah laki-laki. Tidak ada satu pun ustazah yang menyertai. Maka, dengan berbagai pertimbangan praktis, peserta putri mesti ikut bergabung dalam latihan di kamar putra.

Aku punya target sendiri dalam perhelatan kali ini. Bukan sekadar ingin tampil baik atau menyelesaikan tanggung jawab, tapi ingin menang. Menang secara telak dan meyakinkan.

Karena aku tahu, perjalananku untuk sampai ke titik ini tidaklah mudah. Sama sekali tidak mulus. Bahkan, jujur saja, sangat melelahkan. Tenaga dan pikiranku terkuras habis. Aku jungkir balik menyelaraskan dua dunia yang rasanya kadang tidak kompatibel. Jadwal bertabrakan hampir setiap waktu: kuliah di pagi hari, ngaji di malam hari; praktikum siang, latihan lomba sore. Maka, tak jarang aku harus pandai-pandai mencuri waktu, menyelinap di antara kesibukan, bahkan mengorbankan jam istirahat, sekadar agar keduanya tetap bisa berjalan beriringan.

Sementara Ghafir, aku tak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Sesuatu dalam dirinya seperti... padam.

Ia tampak kurang bersemangat menghadapi lomba ini. Entah kehilangan motivasi, atau sedang memikul beban lain yang tak sanggup ia ceritakan. Sikapnya berubah. Ia seperti tak lagi memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan lomba ini bersama-sama. Ketika kami latihan, ia sering melongo. Terdiam. Pandangannya menerawang, seolah sedang membaca sesuatu di dinding yang tak kasatmata.

Lihat selengkapnya