Kalau bukan karena mimpi absurdnya, mungkin Orlin tak kesiangan dan harus berlarian sepanjang satu kilometer lebih hari ini.
Tubuh sudah penuh peluh, tetapi si gadis tak mengeluh. Gerbang sudah ada di depan mata. Dia semakin bersemangat, semakin dipercepat larinya. Saking semangatnya, satpam penjaga gerbang dilihatnya sedang bersorak ria bersama para guru plus siswa-siswinya, tak ketinggalan para pengurus kebun sekolah beserta ibu-ibu kantin.
Bayangan tim sorak itu ambyar saat melihat gerbang dengan tinggi dua kali jerapah ditutup dan digembok. Napas Orlin masih kembang-kempis, tak bisa merangkai kata–kata saat pak satpam memperlihatkan jam tangan digitalnya.
Pukul 07:00:01. Dia terlambat satu detik.
Satu detik!
Si gadis berkacak pinggang. Dia tak mau merengek meminta belas kasihan pak satpam. Percuma karena dirinya sudah sering melihat nasib para siswa yang doyan jam mepet seperti dirinya; diomelin, dihukum, diberikan catatan khusus.
“Ssst … sstt ….“
Desisan itu membuat Orlin menoleh hingga melihat sekelompok siswa dari balik pohon. Salah satu dari mereka memberikan isyarat agar bergabung. Gadis itu menurut saja karena tahu jika mereka juga terlambat.
“Telat juga?“ tanya siswa cowok yang paling tinggi.
Orlin manggut–manggut. Sempat diliriknya sebuah nama yang tertempel di seragam, hanya nama belakangnya saja—Kuncoro. Dan, Kuncoro ini adalah kakak kelas. Itu bisa dilihat dari warna rompi. Pun dengan teman–teman Kuncoro yang lain.
“Namanya siapa, Dik? Boleh minta nomornya?“ Siswa berkacamata yang menjulurkan tangannya langsung kena jotosan kecil teman ceweknya yang cantik.
“Bisa-bisanya kau ini, San!”
“Apaan, sih, Bella? Kan, cuma mau kenalan,” kilah siswa bernama San itu.
“Mau gelut apa masuk, nih?” Kuncoro memotong pertengkaran kecil dua temannya.
“Masuk ke sekolah, Kak? Gimana caranya?“ Pertanyaan Orlin hanya ditanggapi seringaian dari ketiga kakak kelasnya. Hingga keluarlah rencana rahasia mereka. “Yang benar aja? Rumahnya Mbak Subur itu kan angker!“
“Usah banyak cinconglah kau ini. Mau sekolah apa nggak?” sela Bella. "Itu spot satu-satunya yang nggak kena CCTV, jadi amanlah kita nanti."
Orlin menimbang. Dia tak pernah telat sebelumnya, hanya sering hampir terlambat. Katakanlah sedang apes hari ini. Jadi, ketika tiga kakak kelasnya merencanakan menyusup lewat pekarangan orang, gadis itu berpikir seribu kali.
Tetapi, apakah Orlin punya pilihan?