Para siswa berbisik tentang empat remaja yang berdiri tegap di tengah lapangan sekolah. Orlin, Kuncoro, San, dan Bella harus menerima konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri, Dengan kedua tangan menyilang memegang telinga, mereka harus kuat berdiri dari jam pelajaran pertama hingga waktu istirahat usai.
"Kun, rasanya mau ambruk saja," keluh San yang mulai oleng. Bibirnya pucat, wajahnya memerah, berkali-kali kacamatanya melorot karena keringat.
Kuncoro tak berbeda jauh sebenarnya, tetapi sepertinya remaja bertubuh tegap itu masih punya energi. Berbeda dengan Bella maupun Orlin yang tak mengeluh. Seolah mereka sudah terbiasa seperti itu dengan kondisi panas tak terampuni. Bahkan Bella masih sempat membentak beberapa siswa yang sengaja menggoda mereka.
Lima belas menit kemudian, sang surya semakin pede memamerkan sinarnya yang membakar kulit hingga salah satu personil empat penyusup berseragam ambruk.
"Kun!" pekik Bella dan San hampir bersamaan.
Beberapa siswa yang merupakan anggota PMR segera memapah Kuncoro ke UKS. Dan, momen ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Bella dengan ikut-ikutan menjadi seksi sibuk.
Tinggallah San dan Orlin menghadapi dunia perhukuman. Mereka saling pandang sebentar lalu sama-sama menghela napas. Lapangan sedikit sepi karena beberapa siswa mulai bosan dengan pertunjukkan yang hanya menampilkan dua tokoh utama.
"Tenang, Dik, tinggal setengah jam lagi," ujar San dengan suaranya yang lirih.
Orlin diam saja. Dalam hati dia mengkhawatirkan kakak kelasnya itu yang bibirnya memutih seperti kapas.
"Ini, Kak." Orlin menyodorkan sesuatu, sebuah permen rasa buah. "Buat Kakak aja, aku masih kuat, kok!"
San ingin menolak, tetapi tangannya telanjur menengadah dan akhirnya memakannya. Wajah pucatnya lega meski rasa lemas belum hilang.
"Makasih, ya," ujarnya kemudian.