Empat bulan lalu, tepatnya setelah ujian semester satu, Orlin sempat menolong siswa yang tersedak. Niatnya ingin langsung ke warteg milik Mbak Lis karena dia bekerja paruh waktu di sana. Namun, kerumunan di depan membuat langkahnya melambat. Terlebih saat tampak seorang siswa memegangi bagian leher dan dada. Wajahnya yang memerah dengan gestur kebingungan membuat Orlin segera tahu apa yang terjadi.
Kakinya dengan cepat menuju si siswa lalu dengan segera melakukan Heimlich maneuver. Beruntung dia berhasil mengeluarkan cilok dari siswa tersebut.
"Kok, kalian diam aja ada orang keselek? Teriak, kek, minta tolong, kek!" protes Orlin kepada siswa lain yang hanya menjadi penonton.
Reaksi yang didapatinya pun mencengangkan. Para siswa itu memilih pergi dengan kasak-kusuk tak jelas. Sebagian yang masih bertahan malah membuat jarak seolah omelan Orlin tadi mampu mengeluarkan radiasi yang mengontaminasi.
Saat si gadis bingung dengan sikap para siswa, tangannya yang disentuh sesuatu membuatnya sedikit kaget. Dia menoleh dan mendapati siswa yang tersedak tadi memegang tangannya sambil tersenyum.
"Kamu udah nyelamatin aku. Makasih, ya. Namaku Juno Oetomo. 11 IPA A. Nama kamu? Kelas?"
Orlin meresponnya dengan lambat karena tingkah siswa bernama Juno itu dianggapnya cukup tak biasa. Terlebih senyumnya yang meskipun menambah daya tarik, tetapi menyimpan sesuatu yang membuat benak Orlin tak nyaman.
"Orlin Candra, ya. Kelas?"
"Hah?" Orlin segera merapatkan rompi mahogani miliknya yang sempat tersingkap sehingga menampilkan nametag. "Oh-10 Bahasa. Kamu udah mendingan kayaknya. Ya, udah, aku pulang dulu. Dan, sama-sama."
Kaki kurus Orlin sedikit berlari demi segera menjauh dari Juno. Segelintir siswa yang menatapnya ganjil membuat perasaan tak enak itu makin menjadi. Dia sempat mengira jika Juno adalah hantu, makanya orang-orang di sekitar melihatnya sebagai orang yang aneh. Sayangnya, otaknya memaksa berlogika karena tak ada hantu yang bisa tersedak.
Orlin memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Di sana, Juno Oetomo masih menatapnya dengan senyum menawan yang sama. Di mata Orlin, rasanya senyum itu menciptakan teror. Entah mengapa hati kecilnya menyatakan penyesalan telah menolong Juno.
Rupanya, firasat itu benar. Begitu masuk kembali ke sekolah, dia seringkali mendapatkan kejutan berupa hadiah di laci bangku, loker, bahkan tas sekolahnya. Orlin langsung paham siapa pengirimnya karena petunjuknya sudah sangat jelas. Juno menuliskan ucapan terima kasih untuk penyelamatan saat kejadian tersedak waktu itu. Mulanya si gadis tak mempermasalahkan, justru camilan ringan yang kerap dihadiahkan Juno sangat membantunya menghemat uang saku. Tetapi, semuanya berubah saat teman-temannya tahu siapa pengirim hadiah-hadiah itu.