Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #4

Latar Juno


Orlin masih ingat bagaimana tangannya berkeringat dingin dan gemetaran saat menandatangani surat perjanjian, bersama perwakilan keluarganya dan disaksikan perangkat desa. Salah satu isinya membebaskannya tinggal di rumah yang kini sah menjadi milik Juno Oetomo. Dia otomatis terbebas dari utang dan hidupnya bisa berjalan normal. Tak perlu lagi bekerja paruh waktu di warteg Mbak Lis.

Tetapi, karena itulah si gadis jadi penasaran setengah mati dengan Juno. Seorang anak SMA tak mungkin mempunyai uang sebanyak dan pengaruh sebesar itu,  kecuali jika dia adalah anak konglomerat, sultan, pewaris perusahaan global terkaya di dunia. Meski Juno mempunyai penampilan yang menjanjikan untuk memenuhi kriteria sebagai keturunan taipan sekalipun, tak seharusnya remaja dengan senyum menawan itu melakukan semua ini untuk seorang gadis biasa semacam dirinya.

Orlin menampik alasan utang nyawa. Hadiah-hadiah yang diberikan Juno sebenarnya sudah cukup.

Lalu untuk apa semua effort Juno kepadanya?

Saat itu, sosok Kuncoro dan San terlihat di lorong. Si gadis mendapat ide sehingga segera menghampiri.

“Hoi, Sang Penyelamat!”

Sebutan itu sontak melunturkan senyum ramah siap menyapa dari wajah bundar Orlin. Rasanya geli. Anak-anak yang menjadi saksi penyelamatan Juno saat itu mungkin adalah pelaku penyebaran sebutan konyol tersebut.

“Kak, aku boleh minta tolong?” tanya Orlin.

“Minta tolong apa?” Kuncoro bertanya balik.

“Boleh minta info soal Kak Juno? Plis banget ini, mah!” Orlin memelas. Dia tahu ekspresi enggan muncul pada wajah-wajah kakak kelasnya.

“Mending ke markas. Lebih aman aja.” Kuncoro menyarankan.

“Markas apa?”

“Markas kamilah! Markas Klub Merah Jambu!” sahut San dengan wajah bangga.

Markas yang dimaksud San adalah rooftop sekolah. Suasananya lengang, tetapi teduh karena dipasang kanopi. Di sekitar pagar pembatas terdapat pot-pot berbagai ukuran yang ditata rapi. Dan di antara pot-pot itu tampak Bella sedang melakukan sesuatu pada tanaman.

“Bel, sambutlah member baru kita! Orlin Candra, Sang Penyelamat!” seru San.

Bella hanya menoleh sebentar, mengamati anggota baru klubnya dengan wajah ragu kemudian kembali ke tanaman putri malunya. San yang melihat ketidakantusiasan itu mendumel.

Lihat selengkapnya