Saat menjalani masa perkenalan sekolah menengah atas, Orlin berharap akan menjalaninya dengan normal. Nyatanya, dia malah dihantam realita. Seluruh keluarganya meninggal setelah menjemput sang kakak yang baru saja dirawat di rumah sakit. Borok utang pun terbuka dan Orlin baru mengetahui bahwa kehidupan manusia yang sebenarnya saat satu per satu saudara dari pihak ayah maupun ibunya seakan tutup mata atas keadaannya yang terpuruk.
Orlin kecewa dan marah, tetapi akhirnya menyadari bahwa itulah kehidupan yang sebenarnya. Dia mulai belajar menerima meski masih tertatih-tatih. Lewat seorang teman, gadis itu mendapatkan pekerjaan paruh waktu di warung makan. Pekerjaannya hanya mencuci piring dan bersih-bersih hingga selesai, dimulai dari sore hingga hampir tengah malam. Khayalan tentang manisnya masa SMA menguap begitu saja.
Lalu, datanglah Juno Oetomo dengan segala keanehannya hingga kini harus duduk anteng di antara anggota klub Merah Jambu dalam sebuah rumah megah dengan interior fantastis. Dia memenuhi ajakan Juno agar rasa penasarannya terpuaskan. Tak disangka jika anggota klub Merah Jambu juga akan ikut.
“Kabarin orang rumah, Lin. Seenggaknya mereka tahu kita di mana. Buat jaga-jaga aja,” bisik San.
Orlin mengangguk singkat. Benaknya tersentil dengan ajakan San itu, tetapi tentu tak bisa menyalahkan. Mereka tak tahu jika dirinya sudah yatim piatu, kecuali Juno. Membicarakan Juno saat ini membuatnya curiga.
Jangan-jangan anak itu menyewa intel untuk mengorek data pribadinya? Apa tak berlebihan?
Orlin menepuk jidat karena memikirkan itu. Justru karena berlebihan itulah rasa penasarannya tentang Juno muncul dan nekat ikut ajakan ini, bukan?
“Kau sakitkah?” tanya Bella yang melihat tingkah aneh anggota barunya.
“Nggak, Kak. Kayaknya ada nyamuk tadi.” Orlin cengengesan saja meski tahu jawabannya tak masuk akal.