Spontan Orlin meremas dress berlapis tile lembut yang dipakai, sementara sang kakek menunggu. “Saya …”
Juno yang awalnya diam kini meletakkan gelas setelah meneguk airnya beberapa saat lalu.
“Dia yang selamatin aku waktu itu, Eyang,” timpalnya.
“Ooo, insiden keselek cilok itu, ya?” Sang kakek spontan memukul-mukul meja dengan tawa penuh kebahagiaan. “Oh, rupanya kamu yang sudah menyelamatkan nyawa cucu saya dari eksperimen makan cilok? Wah, kejutan ini namanya. Beruntung saya tadi mengawasi CCTV. Ah, tahu begini saya traktir di luar saja. Kok, kamu nggak bilang kalau bakal bawa penyelamat kamu, Jun?”
Juno tak menanggapi, sebagai gantinya sang kakek yang malah bercerita tentang tingkah nekat cucunya yang tak terbiasa jajan di luar. Makan cilok itu adalah hal pertama dan baru bagi seorang Juno. Di tengah cerita riwayat sang cucu, beberapa orang masuk. Penampilan mereka lebih dari rapi. Wangi parfum mahal segera bertabrakan meski tetap nyaman untuk dicium. San melongo melihat salah satu yang datang itu adalah seorang model sekaligus artis yang sedang naik daun. Dia menarik-narik dress yang dikenakan Bella.
“Itu Madya Ayu, Bel! Artis, Bel! Artis! Kita ketemu artis!” bisiknya dengan semangat. Tatapannya tak lepas dari sosok perempuan bergaun nude yang kini duduk di seberang dengan posisi menghadapnya. Wajah blasteran dengan makeup alami itu tak ayal membuat San terkagum-kagum. Sementara Bella berusaha melepaskan tarikan kuat dari San. Dia ketar-ketir jika dress pinjaman itu rusak dan harus menggantinya nanti.
“See, Nata, Nindi? Apa kubilang? Keputusan masukin Juno ke yayasannya Fernan itu tepat! Background sekolah internasional nggak menjamin nasibnya. Justru di sekolah biasa-biasa saja dia mendapatkan kawan. Ini kejadian istimewa dan luar biasa! Aku akan ngobrol sama Fernan besok buat invest, biar sekolahnya itu lebih maju lagi. Toh, cucuku sendiri yang menikmati fasilitas dan semuanya di sana nanti.”
Laki-laki paruh baya yang dipanggil ‘Nata’ diam sambil memeriksa jam, sedangkan perempuan yang dipanggil ‘Nindi’ hanya melempar senyum formal seraya pura-pura fokus memeriksa isi tas.
“Oh, iya, ini orang tuanya Juno, Adinata dan Nindira,” ucap sang kakek kepada Orlin dan lainnya. “Yang ini kakak pertama dan istrinya, Jonathan, Selvira. Belum punya anak. Yang duduk di sana kakak keduanya, Andra. Kakak ketiganya, Adrian, masih kuliah di Macau.”
Orlin dan klub Merah Jambu mengucap salam kepada mereka yang disebutkan namanya, kecuali Madya Ayu. Dia seolah tak dianggap sekalipun datang bersama Andra. Artis dan model muda itu pun sepertinya tak mempermasalahkan karena wajahnya lempeng saja.
“Omong-omong, sudah berapa lama kalian berteman? Apa sejak Juno pindah ke sekolah kalian?”
Fokus Orlin dan klub Merah Jambu otomatis terarah kepada Nindira. Penampilannya yang modis dan elegan menciptakan rasa segan. Lebih dari itu, tatapannya menyiratkan sangsi dan meremehkan. Orlin sendiri hanya menunggu Kuncoro atau lainnya yang bersuara sebab dia juga tak tahu harus menjawab apa.
Bukankah mereka baru bertemu beberapa hari?