Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #9

Kisah Sang Putri Malu


Orlin berterima kasih berkali-kali kepada papanya Bella yang menumpanginya sampai ke sekolah. Mereka bertemu saat si gadis berjalan kaki sendirian saja di tengah wara-wiri angkot dan kendaraan lain.

“Kalian belajar yang rajin, yo!”

Orlin berterima kasih sekali lagi kepada ayah Bella yang segera menariknya ke dalam.

“Pokoknya senang kalilah mamak aku sama oleh-oleh dari Juno kemarin itu. Dimasakkannya aku sayur kesukaan aku,” celoteh Bella yang ditanggapi santai saja oleh Orlin. “Eh, nanti kita kumpul di markas, yo. Katanya ada pengumuman penting. Nah, aku ke kelas dulu!”

Orlin kira ucapan San waktu itu hanya bercanda ternyata dia benar-benar resmi sebagai anggota klub.

Sekumpulan siswi yang berisik menjadi senyap saat dia masuk dan menjadikannya pusat perhatian sebelum kembali bergosip.

Orlin cuek bebek dan segera menuju bangkunya. Begitu merapikan buku-buku di laci, dia menemukan secarik kertas. Rupanya si teman rahasia mengirimkan pesan lagi.

Kamu beneran nggak takut deket-deket sama Kak Juno? Pokoknya aku udah kasih warning, ya.

Tangan Orlin meremas kertas misterius itu. Dia melirik singkat kepada salah satu dari para siswi yang berkerumun tadi.

“Apa aku jelasin aja, ya?” gumamnya.

Dia sempat akan membalas, tetapi kemudian batal karena bel lebih dulu berbunyi.

Gadis itu tak lupa akan janjinya berkumpul di markas. Niatnya menunggu semua siswa kelas dua belas pulang, tetapi Bella memaksa.

Kehadiran adik kelas jelas menyita atensi. Segelintir godaan terlontar meski tak sedikit yang langsung ciut nyalinya melihat tatapan ganas dari Bella.

“Nggak usah suit-suit, yo! Dia ini Orlin Candra, Sang Penyelamat bagi Juno Oetomo. Minggir!”

Setelah pengumuman membahana di seluruh koridor, siswa yang sempat iseng langsung mundur teratur. Orlin terburu-buru menaiki tangga karena malu.

“Eh, kau tak apakah pulang telat? San tadi masih rapat, maklumlah ketua kelasnya dia. Kalau Kun ada ekstra sepakbola, mungkin satu atau dua jam lagi selesai. Jangan lupa kabari orang rumah.”

Orlin manggut-manggut. Dia kemudian meletakkan tas di kursi. Bella sendiri sudah menuju sederet tanaman yang menghijaukan area markas. Suasananya menjadi lebih segar dan enak dipandang. Orlin pun menghampirinya.

“Kak Bel yang bikin ini semua?” tanyanya seraya ikut berjongkok sambil mengamati tanaman ephorbia merah.

“Iyalah, siapa lagi? Bisa mati ketawa kau kalau kubilang Kuncoro atau San yang bikin taman secantik aku ini,” balas Bella.

Lihat selengkapnya