“Gila! Sekelas anak SMA? Satu milyar lebih?”
Orlin mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah boba kenyal dari minuman rasa stroberi
“Ya nggak mungkin dia doang, kan? Pasti minta bantuan papanya yang pengacara atau eyangnya. Masa iya ada anak SMA yang punya uang sebanyak itu? Udah bisa handle pengacara, notaris, dan lainnya pula. Urusan hukum kayak gitu kan butuh bimbingan orang yang lebih berpengalaman,” katanya beberapa saat kemudian.
Linggar menyetujui opini itu meski wajahnya sedikit sangsi. “Lebih dari itu, Lin, butuh mental lebih dari anak SMA buat nyelesain masalah besar kayak yang kamu hadapi. Tapi, kalau lihat background Kak Juno, rasanya nggak ada yang nggak mungkin.”
“Konglo emang beda, ya?” Orlin terkikik usai mengatakannya.
“Omong-omong, kamu yakin dia nggak berharap apapun? Setiap orang pasti pengin kebaikannya berbalas, ‘kan?”
Orlin menunda niatnya memeriksa ponsel. Pandangannya mengarah ke sungai yang memantulkan sinar matahari sore. Kemericiknya mengisi jeda dua remaja di pinggiran sawah saat itu.
“Menurut kamu gimana, Nggar? Ya kalau dipikir secara logika emang nggak mungkin. Tapi kondisinya lagi kepepet banget. Kalau ternyata dia ada maksud, otomatis aku jadi gelandangan,” cerocosnya diiringi tawa getir.
“Kalau dia ngusir kamu, pulang aja ke rumahku, Lin. Keluargaku nggak bakal keberatan, kok. Seenggaknya cuma itu yang bisa aku bantu. Ntar kita bisa kerja bareng di depotnya Mbak Lis,” saran Linggar.
Orlin menghela napas panjang usai tawaran itu. Sorot matanya sendu dengan senyum getir.
“Boleh spill rahasia, nggak?” katanya kemudian.
“Rahasia? Emang ada yang nggak aku tahu dari kamu?”
“Mau nggak?”
Begitu melihat muka bete kawan bicaranya, Linggar buru-buru mengangguk.
“Aku dulu temenan sama karena kasihan. Aku kasihan lihat kamu hanya hidup sama kakek-nenek, belum lagi kakak kamu yang waktu itu mesti putus sekolah. Lalu, musibah itu akhirnya datang ke aku.”
Senyum tengil si remaja matik menghilang. Wajahnya serius kali ini.
“Aku yang seharusnya lebih dikasihani. Aku nggak punya kakek-nenek yang sebegitu sayangnya sama cucu, sampai bela-belain kerja serabutan biar bisa biayain sekolah. Aku nggak punya saudara sebaik bulek kamu, yang mau bantuin keponakan-keponakannya padahal hidupnya juga pas-pasan.”
Orlin menjeda dengan menghela napas berat.
“Gimana? Kamu masih mau bantu aku setelah tahu semua ini?” ungkapnya.
“Masih mau. Kenapa nggak?”
“Heh? Seriusan, Nggar! Aku beneran soal kasihan sama kamu.”
“Emang kenapa, sih? Nggak salah, kok, kamu kasihan sama aku. Itu namanya simpati dan itu normal. Lagian aku juga punya maksud mau temenan sama kamu.”