Apakah semua ruangan kepala sekolah selalu seperti ini? Jika iya, pantas saja semua warga sekolah menghindarinya. Hawanya sejuk dingin karena AC. Karpetnya halus dan empuk. Sayangnya, wibawa sang Kepsek selalu membuat segala kelebihan ruangan itu ambyar. Caranya duduk tegak dan menatap Orlin seperti tersangka kasus pidana berat.
“Sekolah kita ini memang masih baru … belum mampu bersaing dengan sekolah lainnya dalam hal akademis. Oleh karenanya melalui kegiatan non-akademik Bapak menjunjung derajat sekolah kita, salah satunya dengan membentuk karakter siswa melalui kedisiplinan. Kamu paham, ‘kan?”
Orlin segera mengangguk-angguk. Tenggorokannya sudah tercekat akibat serangan mental di awal.
“Seharusnya pelanggaran kalian ini sudah menghasilkan catatan biru,” lanjut Pak Kepsek. “Tapi kalian beruntung karena ada pihak yang ingin membantu. Beliau tidak menginginkan catatan biru itu ada. Bapak berkenan mengabulkannya asal kamu mau melakukan syarat yang Bapak ajukan.”
Wajah tegang Orlin berubah penuh harap. “Tapi saya benar-benar bisa bebas dari catatan biru itu kan, Pak?”
Sang Kepsek mengangguk. “Ya. Bahkan, tunjanganmu berupa uang saku tiap bulan itu tidak akan dihapus. Asalkan kamu ikut ke dalam organisasi sekolah dan menghasilkan sesuatu yang berdampak baik. Kamu bisa masuk ke ekstrakurikuler manapun atau menjadi pengurus OSIS. Intinya, selama di sana, harus memberikan kontribusi atau dampak baik kepada sekolah. Mengerti, ya?”
“Mengerti. Terima kasih, Pak! Terima kasih!”
Usai pertemuan menegangkan dengan Kepsek, gadis itu kembali ke kelas hingga menemukan pesan rahasia di selembar kertas mini bertuliskan: KAN? KAMU JADI BANYAK MASALAH SEJAK DEKET SAMA KAK JUNO.
Orlin berdecak malas. Dia lelah dengan semua pesan rahasia ini dan memutuskan untuk membalasnya. Hanya dua kalimat dan dia berharap si pengirim mau memenuhi.
Begitu bel tanda pulang berbunyi, Orlin lekas-lekas meninggalkan kelas. Tujuan utamanya adalah menemui Kuncoro dan yang lainnya.
Dia gagal bertemu San dan Bella yang harus ikut remidi, sehingga berniat mencari Kuncoro.
Si gadis lega setelah melihat yang dicari keluar dari ruang UKS, tetapi heran saat menyadari langkahnya tertatih. Di belakangnya ada Pak Ilham yang menunjuk kaki Kuncoro. Kemudian Bu Sin sebagai tenaga kesehatan menjelaskan sesuatu. Mereka sama sekali mengabaikan eksistensi Orlin yang makin dekat hingga segelintir percakapan terdengar.
“Ini terlalu fatal buat kamu. Kalau masih maksa buat main, ya, palingan cuma bisa di cadangan tapi Bapak nggak bisa kasih kamu izin buat masuk lapangan,” kata Pak Ilham.
“Ananda Kuncoro butuh istirahat total mengingat dia terlalu memaksakan diri selama beberapa minggu terakhir. Apalagi dia juga ikut kegiatan silat di luar, ‘kan?” imbuh Bu Sin.
“Nah, itu juga. Lebih baik kehilangan kesempatan di tahun ini dan bisa mengulang di tahun berikutnya daripada malah kehilangan kesempatan selamanya, Kun,” bujuk Pak Ilham.
“Baik, Pak.”