Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #13

Berhenti Sebelum Berjalan


“Status hiatus kamu ini nggak otomatis bikin kamu keluar dari tim, lho, ya. Kalau cederanya udah sembuh total, kamu bisa hubungi Bapak buat masuk tim lagi. Gowes, ya, Kun!”

Selepas kepergian Pak Ilham, Kuncoro berniat menuju gerbang. Niatnya pulang tadi memang tertunda karena guru olahraganya itu memanggil guna membahas posisinya di tim sepakbola. Untungnya, dia bisa memilih opsi yang tak mengharuskannya untuk keluar dari tim.

Tetapi, baru saja sampai di halaman, seseorang memanggilnya. Remaja itu langsung berbalik dan heran dengan tingkah teman satu timnya.

“Ngapain lari-larian, Man?”

“Itu tadi, si Dito sama anak-anaknya nyamperin temen kamu.”

“Temen yang mana?”

“Itu yang sekelas sama adik aku. Yang yatim piatu.”

Kuncoro langsung terbayang sosok Orlin begitu temannya menjawab. “Di mana? Jawab cepet!” desaknya.

“Gudang belakang.”

Tanpa basa-basi Kuncoro langsung pergi.

“Kun jangan ke sana sendirian, Kun!”

Si teman hanya memberikan peringatan tanpa bisa berbuat lebih.

Sementara itu, Kuncoro berjalan cepat menyusuri lorong meski kakinya nyeri dan sengatannya makin sering terasa. Yang dia pikirkan saat itu hanya sampai ke tempat Orlin.

“Orlin!” panggilnya begitu melihat si gadis sudah dikelilingi Dito dan gengnya. Kuncoro memaksa kakinya untuk berlari.

“Kak Kun!” Orlin sebenarnya ingin keluar dari kepungan geng, tetapi mereka tak memberikan jalan keluar.

“Kamu ngapain, hah? Udah dibilang jangan libatin siapapun selain kita!” hardik Kuncoro.

“Santai, Bigboy!” Dito membalas. “Kami cuma mau kenalan, kok.”

Kuncoro berhenti saat kawan-kawan Dito menghadang. Dia khawatir karena Orlin sudah seperti kelinci di tengah kepungan serigala.

“Masalahmu apa sekarang? Aku nggak mungkin main lagi di kompetisi mendatang. Kamu bebas maju.” 

Dito menyeringai remeh. “Kok, kesannya kayak kamu yang ngasih chance itu ke aku? Kamu nggak bakal dapet posisi di tim andai aku nggak kena kartu di pertandingan terakhir.”

“Dan kamu nggak bakal dikartu kuning kalau nggak foul kasar ke lawan dan ngebantah wasit. Sadar, Dit! Kamu anak SMA bukan ODGJ, mikir yang waras!”

Rahang Dito mengeras. Wajahnya memerah setelah Kuncoro mengungkap fakta pahit tentangnya.

“Ayo, Lin!” ajak Kuncoro.

Orlin buru-buru melangkah begitu mendengar ajakan tersebut, tetapi tangannya dicekal. Gadis itu tersentak karena genggaman keras yang tiba-tiba. Ditolah pelakunya.

Lihat selengkapnya