Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #14

Klub Tanpa Ketua

Orlin duduk dengan gelisah. Kedua tangannya saling meremas dengan kepala tertunduk. Dia tak berani menatap San dan Bella yang baru saja menanyakan perihal cedera kaki Kuncoro.

“Maaf, Kak,” cicitnya.

San tak menyahut. Dia menatap satu per satu anggota di sana. “Maaf, sebagai ketua klub, aku nggak bisa jadi sosok yang bisa diandalkan sampai anggotanya main rahasia-rahasiaan.”

Orlin seketika mendongak begitu pernyataan itu keluar dari mulut San. Dia ingin menyanggah, tetapi posisinya masih serba salah. Akhirnya gadis itu kembali menunduk.

“San, apalah kau cakap macam itu, hah? Kita menghormati kau sebagai ketua,” sanggah Bella.

San tersenyum kecut. “Buktinya Kun rahasiain cederanya dari aku, dari kita. Aku pun sebagai ketua nggak peka sama kondisi anggotanya sendiri.”

Bella terdiam sementara Orlin makin tak nyaman. Dinginnya bangku tunggu memperburuk suasana hati. Hilir mudik pengunjung dan petugas rumah sakit menjadi pengisi jeda dialog antarsiswa tersebut.

“Kayaknya klub ini nggak bisa dilanjut.”

“San, tak bisalah macam itu!” Bella memprotes. “Kita udah bangun ini susah payah, tanpa campur tangan guru atau pihak sekolah. Kau sendiri butuh klub ini.”

“Kita butuh klub ini biar catatan biru itu dihapus, bukan aku saja, Bel.” San mengoreksi yang membuat Bella terdiam. “Kalau bubar juga kita bisa masuk ekskul lain.”

Orlin adalah yang paling cemas begitu pernyataan soal pembubaran klub tercetus. Dia bingung akan ke mana karena sebelumnya pernah dikeluarkan dari ekskul kerohanian. Gadis itu pun pernah mencoba masuk organisasi lainnya, tetapi entah mengapa selalu ditolak. Jika Klub Merah Jambu selesai di sini, apalagi yang bisa dilakukan?

“Cobalah pikir dengan tenang dulu, jangan langsung main bubarin klub. Cuma Kuncoro yang nyembunyiin masalahnya kau langsung ambil keputusan. Itu nggak adil, San,” cetus Bella.

“Kamu yakin cuma Kuncoro? Kamu yakin nggak rahasiain sesuatu juga?”

Bella kaget. Dia membisu begitu disahut. Si gadis Batak langsung berpaling, tak berani bertatapan dengan sang ketua klub. Orlin yang melihat sikap kikuk Bella ikut cemas juga.

Lihat selengkapnya