Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #15

Langkah Pertama


Di depan gerbang, satu motor matik merah terparkir sendirian. Jalanan lengang menjelang petang. Lampu-lampu jalan mulai menyala terang kontras dengan halaman rumah Orlin yang remang-remang. Di teras, dua remaja duduk bersama, yang satu berselonjor sambil bersandar pada jendela, satunya lagi duduk mendengarkan sedari tadi sambil memeluk lutut.

“Kalau tujuanmu masuk klub buat penuhin syaratnya kepala sekolah, kamu bisa bikin klub sendiri dan atur kegiatan yang sekiranya punya dampak positif. Jadi, nggak masalah kalau klub itu bubar, ‘kan?”

Orlin melirik Linggar sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan. Pertanyaan Linggar itu benar, tetapi hatinya tak tenang.

“Tapi, aku merasa bersalah sama Kak Kun. Awal masalahnya kan karena dia bela aku,” balasnya.

“Itu beda, Lin. Penyesalan kamu ke Kak Kun dan lainnya itu bentuk tanggungan mental ke anggota, bukan klub. Karena bukan kamu yang bikin klub itu pecah. Nah, pertanyaannya kamu masih mau gabung klub atau jalan sendiri?”

Pertahanin klub atau ambil jalan sendiri. Pilihan yang membingungkan Orlin karena baru sadar jika yang dikatakan Linggar benar. Dia masuk klub tanpa tahu klub apa itu, asal masuk. Dia tak mengenal San dan lainnya, hanya sebatas kebetulan bertemu di kondisi merugikan. Lalu masuklah Juno yang penuh teka-teki. Setelahnya masalah datang. Gadis itu mungkin punya beban tanggung jawab ke Kuncoro, tetapi Linggar benar, dia tak ada tanggung jawab ke klub. Dia hanya butuh klub untuk membantunya keluar dari catatan biru sekalipun itu bukan Klub Merah Jambu.

Tetapi, mengapa rasanya berat dan … terasa hilang?

“Lin?”

Ketika melihat Linggar yang menatapnya penuh tanya, Orlin barulah menjawab,

“Kalau aku pengin klub itu tetap ada … apa yang mesti aku lakukan, Nggar?” tanyanya.

Linggar tak segera menjawab. Dia menggaruk kepalanya kemudian ikut berselonjor.

“Kalau itu kan terserah pendirinya, si ketua. Mau kamu ngotot, tapi kamu nggak punya hak milik. Paling banter bikin klub baru dengan visi misi yang sama. Jadi, semuanya terserah di ketuanya. Kamu ngomong sama dia,” katanya.

Orlin menunduk. Hatinya ragu akan mampu membujuk San. Mereka saling kenal, tetapi hanya sebatas itu. Pertemanan mereka bahkan masih dalam hitungan minggu, belum saling tahu seluk beluk masing-masing.

“Kalau boleh aku kasih saran, mending kamu selesaikan masalah kamu sama Kak Kun. Soal klub belakangan aja kalau semuanya udah membaik,” imbuh Linggar yang dibalas senyuman manis dari Orlin.

“Makasih, ya, Nggar sarannya.”

“Ah, kayak sama siapa aja. Aku kan pacar kamu, harus bisa diandalkan, dong. Bukan cuma bisa sayang-sayangan. Ge apah zeyenk. Ge dimana zeyenk.”

Tawa Orlin pecah melihat ekspresi Linggar yang dibuat-buat dan itu yang paling ditunggu si pemuda matik.

“Nah, gitu, dong. Orlin aku udah balik, nggak galau lagi jadi cantik, deh!” godanya yang sukses membuat Orlin salah tingkah.

“Udah makan belum? Mau aku beliin?” tawarnya.

“Aku pesen online aja nanti.” Orlin menolak.

“Mentang-mentang duit masih banyak. Biasanya juga nitip ke wartegnya Mbak Lis.”

Orlin cekikikan. “Eh, kamu libur lagi?”

“Nggak. Warung tutup tiga hari soalnya saudaranya Mbak Lis ada yang nikahan.” Linggar mengambil kunci motor dari saku celana pendeknya lalu bangkit. “Aku balik dulu, ya, Lin. Sori nggak bisa nemenin lama-lama, besok ada ujian praktek.”

“Semangat ujiannya dan makasih banyak udah nemenin aku.”

Lihat selengkapnya