Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #16

Mental Baja


[San: Enggak]

Bella menunjukkan balasan singkat dari San atas ajakannya menjenguk Kuncoro. Bahu Orlin luruh.

“Tak apalah, Lin. Dia mungkin perlu waktu,” kata Bella.

Orlin mengangguk saja. Dia kembali menatap jalanan di depan seraya memeluk parsel buah.

“Maaf, ya, Kak. Jadi berantakan klubnya,” ujarnya setelah beberapa lama.

Bah, kenapa pula kau minta maaf? Ini bukan salah kau, Lin.” Bella menjeda kalimatnya. “Memanglah kami yang kurang terbuka. Kami masih malu mengakui kalau butuh bantuan. Aku pun salah karena nggak mau bagi cerita ke mereka.”

Melihat bibir adik kelas yang cemberut, Bella mengulas senyum. “San nggak benci ke kau, Lin. Dia kecewa sama kami yang jadi kawan tapi nggak saling bagi masalah. Dia nggak suka macam itu karena dari awal dia udah terbuka sama kami. Dia dirikan klub karena mau kasih bukti ke keluarga kalau dia bisa diandalkan. Bukan cuma jadi anak bontot yang dianggap remeh.”

“Jadi, sebenarnya Kak Bel dan lainnya udah tahu masalah masing-masing?”

“Kami tahu kalau Kun dilarang ikut masuk tim sepakbola tapi katanya udah bikin perjanjian jadinya boleh ikut. Cuma, kami nggak tahu masalah cedera itu. Mereka tahu mama tinggalin aku, tapi aku nggak bagi cerita kalau beliau bakal balik dan aku belum terima itu.”

Setelah fakta yang diungkap Bella, Orlin mulai mengerti. Kakak-kakak kelasnya itu tak mau menambah beban satu sama lain dan merusak kenyamanan saat bersama. Orlin paham karena saat ini merasakannya juga. Saat bersama anggota Klub Merah Jambu, dia merasa hidupnya baik-baik saja. Tak ada bayang-bayang cemoohan bahwa dirinya anak yatim piatu yang miskin. Dia tak merasa kesepian lagi. Mereka tak ingin merusak itu dengan drama keluarga masing-masing, termasuk dirinya.

Orlin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jika keterbukaan menjadi jalan keluar untuk klub bisa bertahan, itu artinya dia juga harus mengungkap rahasianya. Hanya sejenak saja hatinya merasa cemas hingga Yaris Cross yang ditumpangi sampai di pintu gerbang kediaman Pak Baskoro.

Bella segera mengajak Orlin masuk lewat gerbang yang terbuka separuh. Pintu gerbang besi itu bermodel seperti di rumahnya, bedanya milik Pak Baskoro lebih tinggi. Tampilannya lebih kokoh karena diapit patung raksasa kerdil yang terduduk sambil memanggul gada.

Setelah melewati gerbang itu, sepasang gapura dengan atap menyambut. Orlin seperti dibawa menyusuri lorong waktu menuju kerajaan Majapahit.

“Keluarganya Kak Kun itu seniman sejati, ya, Kak Bel,” komentarnya saat tak bisa membendung takjub yang menggelitik.

“Bapaknya Kun itu masih keturunan darah biru. Wajarlah rumah banyak ornamen kerajaan. Itu nama Kun pun ada gelar ‘Raden’nya. Cuma dia nggak mau pakai,” ungkap Bella yang sukses membuat Orlin terkejut.

Namun jika dipikir lagi, Orlin harusnya maklum karena siswa di sekolahnya adalah anak dari kalangan di atas rata-rata. Sebagian dari mereka hanya terlalu pintar menutupi latar belakang.

Dua remaja itu berhenti di tengah jalan. Orlin menunggu Bella yang mengeluarkan lipbalm dan mengaplikasikannya ke bibir. Cermin mini yang dipegang dipakainya untuk mengoreksi penampilan. Gadis Batak itu tak peduli pada wajah penuh tanya si adik kelas.

Tak berapa lama, seorang laki-laki muda dengan pakaian khas padepokan muncul. Orlin sempat kagum karena perawakannya yang gagah.

Lihat selengkapnya