Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #18

Tidak Ada Rahasia, Solid!


Orlin menjadi saksi momen damai antara Kuncoro dan Dito. Si anak pejabat menyambut jabat tangan Kuncoro, menariknya sedikit hingga kawan satu timnya itu bergerak selangkah, dan menepuk-nepuk punggung.

“Maaf, ya, Bro,” ucap Dito.

Kuncoro mengangguk singkat dan mengucapkan permintaan maafnya. Giliran Orlin, yang meski belum ikhlas, tetapi harus dilakukan.

“Maaf udah jahilin kamu.”

Dengan terpaksa, Orlin menerima jabat tangan itu. Dia sedikit kaget saat genggaman Dito terlalu kuat. Tak ada yang menyadari itu. Si anak pejabat malah menorehkan senyum lebar.

“Oke. Bapak sangat berterima kasih dan menghargai sekali usaha kalian untuk berdamai ini. Untuk selanjutnya Bapak harap kejadian serupa tidak lagi terulang. Kalian bisa jadi teman, ‘kan?”

“Tentu, dong, Pak!” Dito tanpa sungkan merangkul bahu Kuncoro dan Orlin yang memaksakan senyum.

Setelah memastikan keadaan telah kondusif, Pak Ilham menyilakan tiga muridnya untuk meninggalkan ruang guru.

“Kak Kun mau diantar ke kelas? Ntar naik tangganya bisa kubantu,” tawar Orlin, tak tega melihat kaki kakak kelasnya yang masih diperban.

“Wait, so sweet banget pasangan gemes ini, ya. Gini aja, biar aku bantu Kun. Kamu kan kecil, mana kuat? Bisa-bisa nanti jatuh berdua, jadi tambah berabe, tuh! Oh, atau malah pengin drama jatuh bersama kayak di drama?”

Kuncoro segera melepas rangkulan Dito di bahu. Remaja itu muak dengan sikap si anak pejabat yang tak tahu diri.

“Pertama, aku bisa jalan sendiri. Kedua, kami nggak pacaran. Ketiga, stop tingkah kamu sampai di sini,” ujarnya.

Dito mengangkat tangan, menjauhkan diri dari Kuncoro dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Oke, santai saja, Suhu Silat! Kita kan udah damai masa mau berantem lagi. Aku cabutlah kalau emang niat baikku ditolak. Bye, Baby Lin!”

Orlin bergidik saat melihat Dito sempat mengerling kepadanya. Bulu kuduknya meremang. Dia langsung berdoa agar tak mimpi buruk nanti malam.

“Balik aja, Lin. Aku bisa naik sendiri nanti.”

“Ya udah kalau gitu. Aku duluan, Kak.”

“Eh, pulang sekolah bisa kumpul di markas?”

Mata Orlin menerawang, berusaha mengingat apakah hari ini ada janji atau kegiatan sepulang sekolah. Setelah yakin tak ada jadwal, dia menggeleng. “Bisa, Kak Kun. Sama yang lain juga?”

“Tadi Bella sama Juno bilang oke, kalau San … entahlah. Pesanku nggak dibalas. Aku mau ngobrol soal cedera ini. Biar clear.”

Lihat selengkapnya