Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #19

Peringatan Halus


“Bergetar rasanya jantung aku ini dibuatnya. Udah kayak laser itu mata Pakde Baskoro. Mati kutu aku waktu itu. Tapi Orlin ini punya mental bajalah. Berani kali dia cakap macam gitu ke Pakde. Kita saja yang berkawan sama anaknya nggak pernah buat macam itu.”

Orlin tersipu mendengar cerita versi Bella saat menghadap Pak Baskoro. Sebenarnya bukan tersipu karena perasaan tersanjung, tetapi lebih ke malu dan bersalah. Dia mungkin akan dicap sebagai anak kurang ajar.

“Eh, Mas Bayu nggak cakap apa-apa sama kau soal aku?”

Kuncoro menggeleng sambil menikmati kacang pilus. Saat ini para anggota Klub Merah Jambu sedang berkumpul di rumah Orlin. Mereka membicarakan banyak hal selama tak bersama. Topik hangat kali ini adalah usaha nekat si gadis yatim piatu di kediaman Kuncoro.

San terkikik melihat Bella kecewa dan langsung mendapat ancaman tatapan penghancur.

“Baguslah. Itu artinya Mas Bayu nggak men-cap kamu macam-macam,” hiburnya. “Eh, Kun, terus Pakde gimana? Ngomong apa soal mereka?”

“Nggak ngomong apa-apa. Malah Ibu yang pengin ketemu Orlin. Aku bilang nggak usah. Mereka datang buat belain aku aja udah bikin syok.”

“Buat apa Bude Ratri panggil Orlin? Disidangkah?” tebak Bella.

“Nggak mungkinlah, Bel. Ibunya Kun kayak putri Solo gitu. Mana ada marahnya? Pengin jadiin Orlin mantu, mungkin. Soalnya dia berani sama Pakde.”

Bella berdecak tak puas, San tertawa atas leluconnya sendiri, sementara Kuncoro berdeham keras. Itu kode dan untungnya San mengerti. Dia menatap takut pada Juno yang sedang fokus ke gawai.

“Canda, ya, canda aja itu. Peace,” belanya pada diri sendiri.

“San, ini fix pakai warna merah jambu, ya, buat color signature kita. Terus buat namanya aku pakai font ini. Ada aksen emasnya dikit nggak apakah?” ujar Bella yang kembali fokus ke tugasnya membuat logo klub.

Proposal mereka telah disetujui kepala sekolah, maka mereka harus bergerak cepat untuk mempromosikan klub agar dinotis para siswa.

Sementara Bella dan San berembuk, Kuncoro tampak mengobrol dengan Juno yang selesai dengan urusannya di gawai. Orlin menghisap yoghurt strawberry sambil menikmati momen kebersamaan itu. Rumahnya ramai lagi, meski penghuninya berbeda.

Pertemuan itu berakhir saat San mendapat telepon untuk segera pulang. Memang belum cukup larut, tetapi yang singkat itu sudah cukup untuk Orlin tak merasakan kesepian.

Gadis itu memeluk foto keluarganya lalu berkata, “Pah, Mah, itu tadi teman-temannya Orlin. Kakak kelas, sih, lebih tepatnya. Tapi mereka baik-baik semua. Mereka nerima Orlin. Oh, iya, kami satu klub. Tahu nggak namanya apa? Klub Merah Jambu. Lucu, ya? Tapi, visi misinya serius, lho!”

Si gadis yatim-piatu bercerita panjang malam itu hingga tertidur pulas dengan senyuman.

Lihat selengkapnya