Bella tersenyum-senyum sendiri melihat hasil promosi yang memuaskan.
“Nggak kusangka …,” gumamnya. “Cantik kalilah aku ini rupanya.”
Kuncoro tersedak kuah mi instan. San langsung melepas kacamata.
“Kebanyakan pakai filter ini videonya,” celetuk Juno.
San terpingkal tanpa suara. Kuncoro masih tersedak, tetapi memaksakan tawa, sementara Bella mencebik kecewa. Ingin protes pun tak punya nyali. Sebentar kemudian, Orlin akhirnya datang. Dia menyesal karena datang terlambat.
“Oke, sip, karena semuanya udah kumpul, langsung bahas saja masalah klien pertama kita.” San akhirnya membuka rapat hari itu. “Nama klien kita samarkan dulu, kecuali kelasnya. 10-Bahasa A: Pengutil Kelas.”
San melempar pandangan ke para anggota sebelum kembali fokus ke laptop.
“Menurut klien, sejak masuk sekolah, kelasnya sering kehilangan barang. Awalnya hanya barang remeh seperti alat tulis atau aksesoris yang dibawa. Lama-lama si pengutil berani ngambil uang. Kasus terakhir iuran kas raib saat ditinggal bendahara istirahat.”
“Kelasnya sebelahan sama kelas kau, kan, Lin,” ucap Bella.
Orlin mengangguk. “Tapi, kayaknya nggak pernah denger ada kasus di sana. Itu kelas paling tenang di Bahasa,” akunya. “Cuma tadi kelas aku emang kehilangan alat kebersihan, makanya telat kemari.”
Kening para remaja itu mengerut. Tentu saja mereka langsung menyangkutkan masalah itu dengan kasus yang sedang mereka tangani.
“Klien bilang, ketua kelasnya melarang agar peristiwa ini jangan sampai kedengaran yang lain apalagi guru. Penginnya diselesaikan secara pribadi sama pelaku. Sementara klien kita udah ada satu nama yang dicurigai.” San menambahkan.
Kuncoro menandaskan kuah mi instan. Dia mengelap mulut dan berkata, “Cek CCTV. Nggak nyorot ke dalam kelas tapi barangkali ada petunjuk dari sana.”
“Berarti minta izin ke Sarpras dulu. Harus konfirmasi ke OSIS nggak sih, Kak?” tanya Orlin.
“Karena klub kita belum diakui secara penuh, maka iya, perlu konfirmasi dulu ke OSIS.” San menjawab lalu menyomot keripik kentang milik Kuncoro yang baru dibuka.
“Macam mana konfirmasi sana-sini kalau kliennya minta ini jadi rahasia?” protes Bella lalu ikut mencicipi keripik kentang.
Juno tiba-tiba mengangkat tangan. “Masalah izin, biar aku aja yang urus,” tanggapnya lalu ikut mengambil keripik kentang.
“Oke, kita cek CCTV dulu. Sementara nunggu, aku minta Orlin buat cari info soal terduga pelaku, sekecil apapun. Kun dan Bella bisa kumpulin info dari para guru atau mungkin punya kenalan di kelas sepuluh malah lebih bagus,” putus San. Dia menghela napas panjang. Wajahnya gugup, tetapi ada senyum yang terbit. “Tolong kasih seratus persen buat kasus pertama kita ini. Imbalannya bukan uang, tapi jaminan klien tentang masa depan klub kita. Semoga bisa diselesaikan dengan baik. Solid!”
Anggota yang tersisa mengangkat tangan lalu menyatukannya di udara. Bersama-sama mereka berseru, “Solid!”
Kasus Pengutil Kelas dimulai.
***