Bella menghampiri Orlin yang bertopang dagu sembari menatap kosong pada bonsai putri malu.
“Kenapa kau, Lin? Kutengok dari tadi kau melamun saja,” tegurnya.
“Nggak apa-apa, Kak Bel. Cuma masih kepikiran sama kasus pengutil kemarin.”
“Iyakah? Macam apa rupanya kau rasa?”
Orlin menegakkan punggung. Dia menoleh kepada si kakak kelas. “Andini nggak ngaku soal alat-alat kebersihan di kelasku. Tapi, kalau bukan dia, apa ada maling lain? Tapi, kok, keterlaluan banget nyolong alat bersih-bersih,” ungkapnya.
Bella berdecak. “Dia itu klepto, Lin. Macam mana kau suruh dia ngaku? Kemarin pun dia mengelak. Jadinya nggak ketemu itu inventaris kelasmu?”
Setelah sempat diam, Orlin menjawab, “Nggak, sih. Tapi, kita patungan buat beli lagi.”
Melihat Bella tak lagi berkomentar, Orlin merasa lega. Tak tahu saja jika gadis itu baru saja menyembunyikan fakta bahwa hanya dia yang mengganti barang yang hilang itu atas tekanan teman-teman sekelas.
San hadir setelah beberapa waktu. Markas saat itu memang hanya dihuni Orlin dan Bella. Kuncoro pulang lebih dulu karena harus menjalani terapi, sedangkan Juno ada keperluan lain. Untungnya, dia membawa dua kabar baik untuk meramaikan markas yang sepi.
“Program kita resmi masuk web and then we just got a new message,” katanya antusias.
Bella dan Orlin spontan bertepuk tangan. Wajah para remaja itu langsung ceria.
“Ampuh kali klien kita kemarin,” puji Bella.
“Iyalah, Bel. Dia punya banyak pengikut di sosmednya. Selebgram. Reviewer. Daily life. Apalagi kemarin di bio-nya, kok, lupa.”
Makin kagum si gadis Batak untuk sang klien.
“Padahal dia cuma cerita pengalaman singkat soal klub tanpa nyepill kasus. Tiba-tiba aja ada pesan masuk. Ini ada tiga tapi yang dua belum ada feedback, jadinya aku ambil yang udah pasti aja,” sambung San lalu segera menunjukkan isi pesan dari calon klien.
Pengintip.
“Jujur, nih, Lin. Kasus pengintip siswi ini udah pernah rame waktu kami kelas sepuluh. Salah satu korbannya ada kakak kelas. Dia nggak terima akhirnya lapor ke OSIS terdahulu. Mereka bertindak terus udah gitu aja.” San menjelaskan.