Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #23

Transaksi Jalan Belakang


Orlin tahu sikapnya mungkin akan menyinggung si klien, tetapi dia tak sanggup melihat koleksi foto yang diserahkan sebagai bukti. Gadis itu terus menunduk, tak berani sekadar melirik. Bella pun memilih balik badan dan menghirup minyak angin.

“Oke …, sorry, Al,” kata San yang tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia menjeda sebuah video, melepas kacamata, lalu memijat kening. Sejak memeriksa bukti asusila kemarin, dia tahu mentalnya tak akan sanggup. Kuncoro bahkan sempat mencak-mencak di grup WA saat bukti kasus dikirim.

Kuncoro yang akhirnya menutup file, dengan gerakan cepat. Dia menghirup udara seolah baru keluar dari tempat pengap.

“Masih banyak foto sama video di hapenya.”

San mengangguk untuk merespon kliennya kali ini. Sejenak markas Klub Merah Jambu hening meski ada banyak penghuni di sana.

“Ini kayaknya udah cukup. Ntar kami cek lagi,” balasnya meski terdengar ragu di kalimat akhir.

“Jadi, kapan aku bisa bebas dari Sandi? Aku takut dia beneran nyebar foto-fotoku.”

Orlin mengamati gerak-gerik si klien yang merupakan kakak kelas sekaligus pacar Sandi. Jari lentik itu terus bergerak, sesekali meremas rok. Hoodie yang dipakainya terlalu besar apalagi bagian kupluk. Sikap duduknya kikuk. Si klien kadangkala tak berani menatap langsung ke anggota.

“Sabar, ya, Al. Bukti segini banyak … kita bisa langsung grebek. Cuma … Sandi nggak bisa digertak. Kasih kita waktu buat mikirin strateginya, ya,” kata San.

Alya mengangguk. Dia akhirnya bangkit, membenahi kupluk, lalu memakai masker. “Umh, semisal aku lagi butuh bantuan … bisa minta nomornya?”

San saling tatap dengan Kuncoro dan lainnya. Mereka kompak memberikan kode kepada sang ketua. Sementara Alya menunggu dengan resah. Bibirnya dirapatkan. “Kalau boleh …,” ujarnya lirih.

“Oh, boleh, kok. Boleh. Simpan aja nomerku.” San akhirnya memberikan nomor ponsel. Setelahnya Alya meninggalkan markas.

Bella berdecak. “Ini bukan kenakalan remaja lagilah. Masuk kriminal ini sudah. Lapor polisi harusnya,” gumamnya.

“Bapaknya polisi.” Kuncoro menimpali.

Orlin masih menunduk. Genggamannya pada kursi mengeras. Dia tak mengalami hal buruk yang dirasakan Alya, tetapi paham bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan. Semuanya karena Dito. Tiap kali sosok remaja itu tampak, si gadis akan bersembunyi. Dia bahkan hapal suara tawanya. Jika bukan karena perlindungan Juno, dia pindah sekolah saja.

“Terus langkah kita selanjutnya apa, Guys? Sandi ini punya bekingan yang kuat. Di sini, dia punya Dito, yang demi apapun, kenapa mesti anak itu lagi.” Kuncoro berucap meski akhirnya mengeluh. Dia mengusap kasar wajahnya.

San membasahi bibir. Dia memakai kacamatanya lagi lalu membuka beberapa foto yang sebenarnya tak layak untuk dilihat. Setelahnya dia menutup file itu. Pandangannya dilayangkan ke segala arah hingga bertemu dengan Juno yang tak bereaksi sejak klien tiba. Oetomo muda itu seperti menjaga jarak, menyendiri dekat taman.

Lihat selengkapnya