Dua hari sebelumnya.
Ruangan itu terlalu hening hingga suara halus AC bisa terdengar. Juno menunggu sang paman selesai dengan urusannya mengecek satu nama siswa di laptop. Tak lama kemudian, kepala sekolah mengalihkan perhatian pada keponakannya.
“Kamu mau apa sama anak ini?” tanyanya. Suaranya santai, tetapi tanpa keramahan.
“Solusi?” jawab Juno.
Kepala sekolah menaikkan alis. Beliau melirik lagi ponsel keponakannya di meja. Satu foto amoral terpampang nyata di sana. Beliau mengambil ponsel di laci kemudian menghubungi seseorang.
“Ya, Pak Rama, minta tolong kirimkan real data siswa atas nama Sandy Andrean Wijaya. Kelas 11 IPS B. Ya, sekarang …, di email saya. Ya.”
“Kamu nggak bisa terus-terusan jadi pahlawan, Juno,” katanya setelah mematikan ponsel. “Kalau kasus semacam itu, Om cuma bisa kasih dia warning.”
Juno tak merespon. Dia menunggu. Pamannya tak sama dengan sang eyang yang mudah dalam negosiasi. Beliau penuh syarat dan pertimbangan. Eyangnya bisa paham kemauannya hanya dalam beberapa percakapan, tetapi menghadapi sang paman harus sedikit keras kepala.
Sebentar saja, sang Kepsek menerima email. Begitu dibaca, alis abu-abunya menyatu, bibirnya mengerut. Beliau tampak kecewa.
“Nggak ada catatan biru?” tanya Juno yang menciptakan tanda tanya di ekspresi kepsek. “Dia punya kasus tahun lalu tapi Om sampai harus minta real data. Memangnya apa yang dihapus?”
Sang Kepsek melepas sentuhan pada tombol kursor lalu bersandar pada kursi. Dia tertawa singkat setelahnya.
“Kamu lebih mirip Mas Aji daripada papamu sendiri,” ujarnya sebelum menjawab hal yang ditunggu Juno. “Catatan pelanggarannya masih ada. Diperbarui karena dia dapat keringanan. Sama seperti teman-teman kamu di klub kalau mereka berhasil dengan syarat yang Om berikan.”
“Dia siswa titipan?”