Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #25

Voucher, Pelukan, Dan Doa Perpisahan


Serapatnya bangkai ditutupi, baunya akan tercium juga. Peribahasa itu tepat digunakan untuk menggambarkan berita tentang Sandi saat ini. Berbagai rumor tentangnya yang mendadak keluar sekolah tersebar tak hanya di kalangan anak-anak kelas sebelas. Dito memilih tutup mulut meski teman-temannya yang lain sangat mengganggu dengan segudang spekulasi konyol.

Sementara itu, anggota Klub Merah Jambu sedang menikmati hasil dari kasus yang mereka tangani. Kuncoro bahkan rela membawa tumpengan lengkap dengan lauk pauk.

“Mantap memang masakan Bude Ratri,” puji Bella seraya melahap satu perkedel sekali suap.

San dan Kuncoro tak banyak komentar. Mereka memakan jatah tumpeng tanpa suara.

“Kalau yang itu serundeng, dari kelapa bukan serabut akar yang diblender. Enak, kok, coba sedikit dulu.” Orlin sibuk menjelaskan aneka macam lauk di tumpengan ke Juno yang baru pertama kali makan nasi kuning.

“Udah makan aja dulu, Jun. Soal teksturnya ntaran, yang penting rasanya, Bung!” canda Kuncoro.

“Ini bukan cilok, Jun. Nggak bikin keselek!” timpal San yang langsung ditoyor Kuncoro.

Juno akhirnya mencoba serundeng. Lidahnya merasakan tekstur yang kering, manis, dan gurih. Orlin menunggu dengan sabar layaknya seorang ibu yang menunggu momen anaknya makan sendiri. Gadis itu berharap akan ada komentar dari Juno. Sebentar kemudian, Oetomo muda itu manggut-manggut. “Enak,” katanya.

Si gadis bertepuk ringan. Dia juga ingin menikmati tumpeng miliknya setelah beberapa hari tak nafsu makan. Kasus Sandi rupanya sempat membuat Orlin hilang selera. Tumpeng nasi kuning itu tandas dalam hitungan sekian menit saja, tertinggal tampah dan daun sebagai alasnya.

Bella sibuk dengan tanaman-tanaman hias setelahnya. Juno tertidur. Orlin bermain hape di sebelahnya. Kuncoro menemani San merapikan file-file dan membaca pesan yang kasusnya bisa mereka terima.

“Untungnya Pak Kepsek nerima laporan dari kita, ya, San. Tapi, nggak nyangka juga kalau Sandi sampai harus keluar,” ucap Kuncoro.

San mengangguk. Keberuntungan mereka adalah saat kepala sekolah tak menyepelekan kelakuan Sandi. Meski dalam prosesnya dilakukan secara tertutup, setidaknya para siswi tak takut lagi saat ke kamar mandi, di ruang ganti, bahkan tak perlu was-was saat melakukan aktivitas lain.

“Udah kepalang malu, Kun. Lagian emang udah keterlaluan,” sahutnya.

Tak lama, suara salam terdengar dari pintu masuk. Kuncoro langsung menyenggol lengan San yang fokus ke laptop. Remaja berkacamata itu sedikit heran dengan kehadiran Alya.

“Oh, gimana, Al? Ada yang bisa kami bantu lagi?” tanyanya setelah bangkit untuk menyambut si tamu.

“Nggak ada. Aku cuma pengin say thank you sama kalian semua,” jawab Alya diiringi senyum manis. Penampilannya berbeda dari sebelum ini. Tak ada lagi hoodie besar ataupun masker yang menutupi wajah cantik orientalnya. Dia menyodorkan satu tas besar berisi bingkisan, kue mini, dan voucher ke sebuah tempat wisata.

Lihat selengkapnya