Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #26

Suapan Maaf Dari Mama


Orlin tak menyangka jika acara doa bersama yang digelar keluarga Bella akan semeriah ini. Dalam gedung milik keluarga Batak itu telah tersedia berbagai macam hidangan, hiasan megah layaknya acara perkawinan, dan tentu saja para tamu. Meski Bella mengaku hanya mengundang keluarga, nyatanya gedung besar itu tetap tampak penuh.

Para karyawan WO tampak sibuk memantau berlangsungnya acara dan mengkoordinir kegiatan. Dari sana, Orlin mengamati jika Bella tak canggung saat berbincang dengan mama kandungnya. Mungkin tak banyak bercanda, tetapi telah muncul senyum mereka yang lebar.

Saat ini, acara sampai pada suap-suapan. Sesuai adatnya, para tetua menyuapi mama kandung Bella dan keluarga barunya. Tetapi, setelahnya sang mama secara khusus meminta untuk menyuapi sang putri. Mama kandung Bella yang mengambil sesuap nasi dan lauk. Suaranya bergetar saat menyebut nama sang putri.

“Maafkan Mamak kau ini, ya. Mamak nggak pernah lihat kau. Nggak pernah urus kau. Mamak egois karena tinggalkan kau dan mendiang papa kau. Suapan ini nggak akan pernah bisa hapus dosa-dosa Mamak, tapi Mamak harap bisa sentuh hati putri kandung Mamak ini agar kau kasih ampun Mamak. Maafkan Mamak, Bella.”

Airmata itu telah meleleh dari tadi di pipi lembut Bella. Gadis Batak itu menerima suapan sang mama dengan hati yang terobati. Meski bekasnya masih ada, bentuknya menjadi utuh. Setelahnya, Bella memberikan Ulos sebagai simbol perlindungan dan kehangatan. Ibu-anak itu berpelukan erat seraya menumpahkan rasa haru.

Segenap tamu turut merasakan momen menyentuh itu, termasuk Orlin yang kini sudah mulai menghabiskan sekotak tisu. Acara dilanjutkan dengan jamuan makan. Kuncoro dan San seolah berlomba mencicipi satu per satu hidangan, sedangkan Orlin menjadi juru pandu bagi Juno yang ternyata cukup pemilih soal makanan.

Tak berapa lama, suara musik terdengar nyaring. Seperangkat musisi memainkan alat yang mereka pegang, menciptakan irama yang enak didengar. Sebagian tamu maju ke tengah gedung, mereka menari dalam gerakan yang sederhana dan serempak. Beberapa anak muda ikut pula menirukan. Inang Uda menyerukan teman-teman putri angkatnya untuk bergabung.

Awalnya, Orlin dan kawan-kawannya menolak hingga paksaan para tamu membuat mereka mencoba. Gerakan anak-anak remaja itu tentu saja berantakan, tetapi lama-lama mampu mengikuti. Orlin tertawa geli melihat gerakan Kuncoro yang kaku, Juno yang sering keliru, sedangkan San sudah seperti penari legenda. Dia menjadi idola para mama-mama.

Bella menari bersama sang mama, Inang Uda, dan papa angkatnya. Wajah cantiknya berseri-seri. Mungkin momen itu akan jarang terjadi lagi, setidaknya si putri malu telah memiliki kenangan indah bersama sang mama.


***

Lihat selengkapnya