“Ingat cara pendekatan klub, ya. Kita pakai 3 T: Tegas, Tepat, Tidak Menyakiti. Sebisa mungkin hindari debat atau kontak fisik.”
Orlin mengambil napas dalam-dalam setelah mengingat pesan sang ketua klub. Dia pernah melakukan tugas khusus semasa kasus pengutil kelas, jadi tak ada alasan untuk gugup atau tak percaya diri.
Target saat ini berada di kursi aluminium pinggir lorong. Sendirian. Siswi itu sedang menikmati bekal makan siangnya.
“Ayoklah, Lin!” ajak Bella yang juga membawa kotak bekal.
Orlin meremas kotak bekalnya sebelum memantapkan diri untuk memulai misi.
“Hai, boleh makan bareng di sini?” sapanya ramah.
Siswi itu menoleh kepada Orlin dan Bella, mengamati sejenak, lalu mengangguk. Mereka berterima kasih lalu mulai membuka kotak bekal.
“Itu mi instan?”
Belum sempat Orlin dan Bella menyantap, suara siswi itu menginterupsi. Mereka mengangguk.
“Kalian sering makan makanan kayak gitu? Itu junk food tahu, nggak sehat.”
“Tapi, ini bikin sendiri, kok,” bela Orlin.
“Kami bikinnya dari sawi. Sawinya pun organik. Bumbunya pakai resep, bukan yang instan macam di toko itu,” tambah Bella.
“Bagus itu! Makanan sekarang banyak pengawetnya, bikin kanker. Belum lagi semuanya udah tercemar bahan kimia.” Siswi bertubuh besar berisi itu berceloteh.
Orlin hanya mengangguk seraya mengulas senyum. Samar-samar ada aroma selain sedap bekalnya yang tercium. Baunya apek, asam, dan … pengar. Hidungnya mengernyit.
Dia menoleh ke Bella yang mengusap-usap hidung dengan ekspresi terganggu. Mereka membatalkan niatnya makan karena aroma aneh itu menghilangkan selera.
“Tapi kita nggak bisa putus gitu aja sama bahan kimia, to? Kalau sesuai kebutuhan, macam aman ajalah kurasa. Macam skincare, parfum, obat,” sanggah Bella.
“Aduh, Kak, udah banyak lho kasus penyakit karena bahan kimia ini.” Si target menyangkal. Dia mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan sebuah akun influencer. “Nih, follow dia aja, Kak. Dia kasih edukasi buat kembali menjalani gaya hidup sehat.”
Orlin pura-pura antusias. Dia menangkap layar akun media sosial yang ditunjukkan itu.
“Aku pun pakai parfum dari SD, sampai sekarang aman ajalah. Bikin wangi kan enak.” Bella kukuh dengan pendiriannya.
“Kalau aku, sih, no ya. Takut racunnya numpuk. Aku ini malah lagi proses detoksifikasi biar bahan kimia yang aku pakai selama ini keluar.” Si target membela diri sambil menunjukkan wajahnya yang berjerawat.