“Apa ini?” tanya Bella saat San menyerahkan satu buku jurnal.
“Langkah yang bisa kalian ambil buat kasus penguntitnya Kak Aurora. Aku absen dulu, Bel,” jawab San. Wajahnya lesu, tanpa semangat seperti biasa.
“Kenapa rupanya?” Bella menuntut. “Kau sakitkah?”
San menggeleng. Dia mengusap tengkuk. “Papa sama mama marah abis lihat aku di kontennya Madya Ayu, yang seminar itu. Jadwalku jadi berantakan selama ngurus acaranya. Hapeku juga disita sementara.”
“Alamak!” desis si gadis Batak.
“Tolong kasih tahu yang lain dan … maaf, ya.”
Bella hanya bisa menatap iba pada temannya yang kini terduduk pasrah di bangku. Jurnal milik San dilihatnya dengan putus asa.
Saat di markas, reaksi para anggota sama dengannya. Kuncoro membaca tumpukan pesan yang dikirim si klien pada email klub: Helow, progresnya sampe mana ya? Kira-kira butuh berapa lama? Kasusku beneran diseriusin kan? Dia masih neror aku, lho!
15 pesan belum dibaca
Roraaurora010
Dia kirim foto struk dari toko aku belanja kemarin. Gila! Bisa stres akunya!
[IMG-130620….]
Kuncoro mengusap wajah, menutup email, lalu menarik jurnal San di meja. Sekian menit dia baca tulisan sang ketua di sana kemudian berkata, “Guys …, kita mesti mulai langkah pertama.”
Orlin sebenarnya masih canggung dengan kinerja klub yang tanpa ketua, tetapi harus mengikuti. Dia dan Bella kini berpura-pura menjadi teman Aurora agar tak mencurigakan saat bersama. Tempat les renang menjadi tujuan. Kuncoro dan Juno sudah mengawasi dalam jarak aman.
Juno tersenyum samar saat menyadari kaki Kuncoro yang bergerak gelisah. Teman satu klubnya itu juga tak henti celingukan bahkan hape di tangan dipegang kuat.
“Tenang, Kun. Target belum muncul,” hiburnya.
Kuncoro berdecak lirih. Dari berangkat tadi jantungnya deg-degan tak karuan. “Takut gagal, Jun. Kan nggak lucu abis viral sama Madya Ayu langsung nyungsep gara-gara anggotanya nggak becus,” sahutnya.