Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #31

Strategi San


Orlin rela menerima teguran karena kini berlarian di lorong. Gesekan sepatunya berisik, memantul di dinding kelas. Pesan Kuncoro di grup menjadi alasan mengabaikan tata krama sekolah. Ketua klub mereka kembali! Dia tak sabar bertemu San dan mendengarkan perintah.

Begitu sampai di markas, kesenyapan yang menyapa. Senyum ramah Orlin perlahan menjadi canggung saat semua anggota berekspresi serius. Di depan mereka, San mengamati sesuatu di laptop. Si gadis segera duduk saat Bella memberikan kode untuk tetap diam.

“Kita lagi nyusun strategi buat mancing si penguntit, Lin,” ucap San tanpa mengalihkan atensi. “Rencananya nanti, kita minta Kak Aurora pulang paling telat setelah latihan cheerleader. Masing-masing dari kita bakal ngawasin di beberapa titik di sini.”

Orlin dan lainnya memperhatikan selembar HVS yang berisi denah sekolah dan sekitarnya.

“Titik-titik merah ini adalah posisi yang bisa kalian ambil untuk mengawasi si penguntit.” San melanjutkan penjelasan. Mereka menyiapkan segalanya. Sang ketua juga membagikan handy talkie untuk mempermudah komunikasi.

Pukul setengah tiga, mereka menjalankan rencana.

Aurora sudah siap di depan gerbang. Dia ditemani Orlin dan Bella. Tak lama, gadis semampai itu mengambil hape. Mata cantiknya melebar saat si penguntit mengirim foto dirinya saat ini. Dengan cepat dia meneruskannya ke Kuncoro.

“Merah 2, target berada di sekitar halaman Mbah Subur. Pohon mangga. Ganti.” Kuncoro memberikan laporan setelah membuka pesan.

“Merah 1, laporan diterima. Minta klien berganti posisi ke toko ATK. Ganti.” San mengarahkan. “Merah 3 bersiap.”

“Siap.” Juno menyahut.

Aurora mengajak Orlin dan Bella pergi ke toko ATK usai membuka notifikasi. Mereka pura-pura membeli alat tulis. Tak berapa lama, Orlin dan Bella keluar lalu berjalan menuju halaman Mbah Subur. Jantung mereka berdebar saat melihat sosok mencurigakan di balik pohon mangga, tetapi misi tetap harus dilaksanakan.

“Kak Rora cantik, sih, makanya cepet dapat pacar lagi.”

“Iyalah! Mana disamperin tadi di toko. Ganteng kali pacar barunya.”

Dua gadis itu mencoba tertawa meski terdengar sumbang. Setelah agak jauh, mereka baru bernapas lega. Sekarang ending-nya tergantung San dan yang lain.

Lihat selengkapnya