“Aku nggak mau pulang. Aku mau di sini.”
Mama San terkejut atas jawaban itu. Dia menoleh sang suami sejenak sambil terus menyunggingkan senyum. “San, kamu ngomong apa? Kalau ada masalah, kita ngobrol di rumah, yuk!”
San mengangkat tangan sehingga sang mama gagal menariknya. “Nggak, Mah. Itu bukan ngobrol. Kalian cuma nyudutin kami seolah semua yang kalian lakukan untuk kami, anak-anak kalian. Kita nggak pernah jalanin diskusi keluarga. Yang ada hanya turutin kemauan Papah sama Mamah,” tolaknya.
Sang mama menggeleng pelan. Ekspresinya tak menyangka, tetapi masih mempertahankan keramahan.
“Semua kemauan Papah dan Mamah itu buat kebaikan kamu, kakak-kakak kamu. Kami nggak pernah hukum kalian semisal bikin salah. Kami nggak pernah nuntut buat jadi siswa teladan, nilai tinggi atau apalah itu. Itu semua karena kami sayang kamu. Kami nggak mau jadi orang tua yang banyak menuntut anaknya,” terang sang mama.
San tertawa getir. Matanya sudah memerah. Bibirnya dirapatkan.
“Saat nilai kami turun, Papah Mamah memang nggak kasih hukuman fisik. Tapi, kalian menambah durasi belajar, mengurangi jatah bermain, bahkan menambah les. Saat aku muncul sekali aja di konten artis, yang itu adalah kegiatan di sekolah, kalian langsung sita hape. Memang nggak ngasih hukuman fisik, Mah, tapi beban mental,” ungkapnya.
“San, kita bisa ngobrol ini nanti di rumah. Kami bakal dengerin.” Sang papa membujuk, tetapi San menggeleng lagi.
“Aku mau nginep di rumahnya Kun,” jawab sang putra.