Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #34

Tawa Tangis Bersama


Nama Terra Mart tak asing bagi Orlin yang kini menyambanginya. Itu supermarket terbesar di kota dan tentu saja menjadi langganan keluarganya. Pergi ke sana setelah kematian orang tua membuat tempat belanja itu terasa berbeda. Sekarang dia lebih akrab dengan warung Madura.

“Kita mau beli apa, Kak Bel? Bukannya mau ke tokonya Kak San, ya?” tanya Orlin setelah melihat jam tangan. “Udah jam segini, apa nggak keburu tutup tokonya nanti?”

Bella menoleh bingung pada adik kelasnya. “Iyalah, memang kita ke tokonya San ini. Sengaja pilih mepet jam tutup biar nggak ganggu dia.”

Alis Orlin mengerut mendengar jawaban itu. Dia tak paham maksudnya hingga Kuncoro tiba-tiba saja mendekat dan membisikkan sesuatu.

Mata Orlin membulat. Kakinya spontan berhenti melangkah. Dia menatap Terra Mart yang tak pernah sepi pengunjung itu lalu berganti ke gedung bioskop di sebelahnya.

“Jadi …, yang dimaksud Kak San sama toko itu … ini? Supermarket ini?” tuntutnya.

Kuncoro hanya mengangkat bahu lalu merangkul Orlin untuk melanjutkan langkah. Tetapi, begitu merasakan hawa tak nyaman, remaja jago silat itu langsung melepaskan bahu si gadis. Dia hanya meringis pada Juno yang berjalan di belakang.

“Gitu kenapa nyebutnya toko?” omel Orlin sendirian. Dia kesal pada San soal penyebutan untuk supermarket terbesar. Gadis itu sudah membayangkan sebuah toko grosir atau sejenis minimarket saat ketuanya itu menyebutkan ‘jaga toko’. Rupanya dia yang tak paham istilah orang-orang low profile seperti San.

Bella menuntun mereka keluar dari area parkir ke kantor di sebelah supermarket. Saat mengutarakan maksud ke satpam, sosok mama San muncul dari lantai dua. Perempuan itu menyapa Bella dan teman-temannya.

“Malam, Tante, maaf kemari malam-malam,” sapa Bella yang dibalas senyuman ramah sang tante. “Kami kemari mau bertemu San kalau nggak sedang sibuk. Maaf kami tanpa janji temu dulu, Tante.”

Mama San mengamati satu per satu wajah teman-teman putranya lalu mengangguk.

“Ada, kok, anaknya. Lagi di atas. Yuk, Tante antar.”

Bella melempar kode lewat kontak mata dengan yang lain. Senyumnya tertahan. Mereka mengikuti sang tante menaiki tangga lalu diarahkan ke sebuah ruangan dengan dinding kaca buram.

San terlonjak dari sofa saat mamanya membuka pintu. Bola kecil yang sempat dimainkan langsung dibuang. Plakat hitam dengan aksen merah jambu hampir jatuh terkena bola.

Dia berdiri tegak, siap menerima omelan.

Lihat selengkapnya