Klub Merah Jambu

Ayuning Dian
Chapter #38

Noda Hitam Hari Itu


Suara para siswa bergemuruh di beberapa area. Panggung-panggung ditempatkan pada lapangan. Gerbang balon menyambut para penonton. Bendera warna-warni dipasang sebagai penghias. Beberapa siswa mengantre di titik-titik photobooth, sebagian yang lain menikmati jalannya lomba yang berlangsung.

Orlin bertepuk tangan saat tim lomba kelasnya menyelesaikan lomba. Niken dan teman-teman memang tampak gugup, tetapi mereka melalui tahapan lomba dengan cukup baik. Menyaksikan rangkaian lomba debat itu, Orlin hanya bisa berharap akan berpartisipasi jika kesempatan untuknya datang.

“Kalian keren banget tadi,” puji Orlin saat menghampiri Niken dan yang lain.

“Makasih, ya, Lin,” balas Niken. “Tadi ada beberapa yang salah ucap. Duh, ngaruh ke penilaian itu pasti.”

“Kan goal kita bukan jadi pemenang, Nik. Kita maju buat pengalaman. Aku tadi malah gagap pas jawab pertanyaan dari lawan. Mana ada mas crush.”

Orlin ikut tertawa saat Niken dan yang lain menyoraki pengakuan itu. Dia mengekor tim debat yang menuju kelas untuk beristirahat setelah beberapa lama berjuang dalam suasana tegang. Si gadis hanya menyimak teman-temannya mengobrol sementara dia berjalan sendirian di belakang.

Namun, cekikikan para remaja itu berhenti saat menyadari akan berpapasan dengan Dito dan teman-temannya. Orlin pun menunduk dan sengaja merapat ke dinding untuk menyembunyikan eksistensi.

Mereka pikir, itu hanya pertemuan secara kebetulan. Sayangnya, Dito memang sengaja ingin mencegat. Siswi-siswi itu tak berkutik saat si anak pejabat menyuruh untuk berhenti.

“Aku ada perlu sama kamu.”

Niken dan teman-teman saling lirik. Mereka merasa tak melakukan kesalahan dengan si kakak kelas yang dikenal suka bikin ulah itu. Jantung mereka berdebar.

“Anu … ada apa, ya, Kak? Aku bikin salah apa?” Niken memberanikan diri untuk bertanya.

Dito malah berdecak keras. Mimik wajahnya gemas. “Bukan kamu!” jawabnya. “Itu yang di belakang. Kalian minggir sana!”

Niken terpaksa menuruti ajakan teman-temannya untuk menyingkir, sehingga menyisakan Orlin yang tersudut. Si gadis tahu posisinya tak menguntungkan. Otaknya berpikir cepat. Tanpa diduga, dia kabur dari sana.

Sepersekian detik Dito dan lainnya mematung. Mereka masih memproses apa yang terjadi hingga si anak pejabat sadar jika target mereka telah kabur. Sambil menahan emosi, dia mengejar diikuti teman-temannya.

Orlin berlari kencang seperti dikejar setan. Sesekali dia menabrak siswa lain hingga ditegur keras. Dia berhenti di belokan lorong dekat laboratorium. Napasnya tak teratur, wajahnya memerah sampai ke telinga. Dia mengintip ke arahnya berlarian tadi.

Lihat selengkapnya