Orlin terbiasa menghadapi situasi ramai yang mendadak senyap saat dirinya muncul, tetapi tawa teman-teman satu kelasnya tak mereda saat dia datang. Mereka berbisik seraya menahan cekikikan yang kentara. Saat duduk di bangku, sorot mata mereka tak beralih. Bahkan, ketua kelasnya geleng-geleng pasrah sambil menatapnya penuh iba.
Ada apa? tanyanya dalam hati.
Tetapi, dia tak mendapatkan jawaban bahkan saat Niken menghampiri dengan wajah panik.
“Lin, coba lihat, deh, di grup kelas!” katanya sambil menunjukkan sesuatu pada layar hape.
Orlin terbelalak. Rupanya notifikasi ramai di grup kelas sejak subuh tadi karena adanya video dirinya mengepel bekas tinta. Lengkap dengan wajah belepotan noda hitam. Bahkan, ada beberapa pesan berbalas yang telah menggunakan gambar dirinya itu sebagai meme.
Si gadis yatim-piatu akhirnya mendapatkan jawaban. Rupanya dia menjadi badut kelas. Pantas saja tatapan ganjil dan tawa mengejek itu tak kunjung reda.
Niken kaget saat Orlin mendadak bangkit. Kedua tangan temannya itu mengepal erat.
“Siapa yang nyebar?” seru Orlin seraya menyapu pandangan. Bisik-bisik itu senyap. Tatapan mengolok itu menghindar. Namun, tak ada jawaban. “SIAPA YANG NYEBAR VIDEONYA?”
Kelas menjadi sunyi. Wajah Orlin sudah merah padam. Dadanya naik-turun. Selama ini dia bisa menerima perlakuan tak adil dan mengira mengalah adalah jalan terbaik. Namun, nasihat Juno semalam membuatnya sadar bahwa membela diri bukanlah kesalahan. Itu bentuk perlindungan untuk setiap kasih sayang yang diberikan orang-orang terkasih hingga dia bisa menjalani kehidupan hari ini.
Ketua kelas akhirnya ikut bangkit dari duduknya. “Semuanya, plis, hapus video Orlin. Itu melanggar privasi,” tegurnya lalu menoleh ke arah Orlin. “Lin, tolong jangan bikin keributan.”
Orlin menggigit bibir. Rasanya sia-sia. Hatinya dongkol bukan main, tetapi usapan di lengan membuatnya luluh. Niken menatapnya dengan pandangan memohon.
“Udah, Lin. Sabar, sabar,” bujuk temannya itu.
Si gadis mungil mengalah lagi. Dia duduk meski hatinya tak lega. Bel tanda masuk akhirnya berbunyi, membungkam gejolak kecewa Orlin pagi itu.
***
Bella menggaruk kepala yang tak gatal. Di hadapannya kini taman mini itu kembali kering. Bunga-bunganya layu dan bonsai putri malu di meja mengering. Dia mengecek gembor, persediaan air, pupuk, dan sekam di tempatnya. Semua aman.
“Lho, kok mati lagi, Kak Bel?”