Bella tak langsung masuk ke kelasnya ketika baru tiba di sekolah. Puluhan lembar kertas cetak dari Juno diremas kuat. Kakinya cepat menuju kelas 10 Bahasa B. Wajah cantiknya sedang tak ramah, pelit senyuman. Sesampainya di sana, pandangannya mengedar sampai tertuju pada satu siswi yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
Teman Niken baru saja memberi isyarat tentang keberadaan kakak kelas hingga tiba-tiba saja Bella menggebrak meja. Semua yang di kelas sontak terkejut. Mereka menoleh serentak pada si gadis Batak. Niken bahkan mematung saking kagetnya.
“HAPE HAPE HO¹, NIKEN! RUPANYA KAU YANG BIKIN TANAMANKU MATI!”
Yang dituding terperanjat.
Bella melempar puluhan kertas print pada Niken. Beberapa teman mengambil dan langsung berbisik saat melihat foto yang tercetak. Tangan Niken gemetar saat melihat foto dirinya menaburkan sesuatu pada tanaman Bella di markas. Juga saat mengacungkan jari tengah pada bonsai putri malu. Perbuatannya menambah pupuk pada gembor pun tercetak jelas.
Orlin datang saat keributan terjadi. Suara Bella bahkan sudah terdengar dari kedatangannya di ujung lorong. Gadis itu masuk kelas dengan ragu karena masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Lah, ini kan alat kebersihan kelas kita yang hilang tempo hari. Jadi …, kamu yang nyembunyiin? Jadi …, bukan salah Orlin?”
Niken segera menoleh pada temannya. Saat itu, Orlin meminta lembaran kertas print yang dipegang temannya tadi. Dia spontan menutup mulut saat melihat foto Niken membawa alat-alat kebersihan menuju belakang. Di lembar lainnya menunjukkan temannya itu merusak semua alat kebersihan.
Orlin menatap Niken tak percaya. Dia sampai kehilangan kata-kata. Sementara si pelaku kini memunguti kertas print yang berserakan dengan panik. Wajahnya memerah dan meracau tak jelas.
“Masih mau berbantahan kau? Mau cakap apalagi, hah? Kau matikan tanaman wasiat papa aku! Ho na boru setan ho!²” teriak Bella.
“Kak …, bukan, Kak! Ini …, ini salah paham!” Niken membela diri. Tangisnya sudah pecah. Pipinya basah.
“Nggak usah kau berakting lagi! Kita udah tahu anak macam apa kau ini! Di depan manis di belakang tebar racun kau! Buang topeng kau sekarang!”
“Kak, mohon maaf, tolong jangan bikin keributan.”
“KAU DIAM!”
Si ketua kelas langsung terduduk saat mendapatkan bentakan keras dan tudingan tajam dari si gadis Batak. Nyalinya ciut melihat wajah garang dan mata melotot itu.
“Kau dengar ini yo Niken, jangan pernah kau tampakkan muka kau ke markas! Klub Merah Jambu udah tertutup permanen buat kau! Ingat itu baik-baik. JANGAN PERNAH!” Bella memberikan ultimatum. Dia segera pergi dari sana. Langkahnya sempat terhenti saat berpapasan dengan Orlin. Ada sesal yang timbul karena sempat kecewa pada adik kelasnya itu.