Tiga anggota KMJ sudah menunggu Orlin tiba. Alis gadis itu mengerut saat sambutan mereka seperti pelayan menanti anak sultan di drama televisi. Dia sendiri sedikit kerepotan dengan bingkisan dari teman-temannya tadi pagi.
“Ada apa ini, Kak?” tanyanya setelah meletakkan barang bawaan ke samping meja.
Tak ada yang menjawab. Justru San memintanya duduk. Kuncoro menarik kursi untuknya sementara Bella sudah siap di sisi lain meja dengan memegang penutup kotak. Orlin tak tahu isi kotak besar yang dari tadi berada di meja. Dia pikir itu inventaris klub.
Namun, tebakannya keliru setelah Bella membukanya. Itu kue ulang tahun. Orlin cengo saat tiga kakak kelasnya bersorak lalu bertepuk tangan. Dia menggaruk kepala.
“Aku nggak ultah bulan ini, Kak,” ucapnya sungkan.
Sorakan dan tepuk tangan itu berhenti. San dan lainnya menahan senyum geli.
“Baca tulisannya, Lin,” pinta Kuncoro.
Orlin baru sadar ada ucapan di kue tersebut. Itu ucapan maaf. Si gadis akhirnya paham.
“Maaf untuk apa, Kak? Karena Niken? Apa hubungannya sama Kakak semua?”
Bella yang kemudian duduk menyanding si adik kelas. Dia memegang tangannya.
“Ucapan maaf ini utamanya dari aku, Lin,” sesalnya. “Maaf, yo, aku sempat kesal sama kau gara-gara tanamanku mati.”
“Eh, nggak apa-apa, Kak Bel. Aku juga salah kok karena nggak teliti. Jangan gini, dong, Kak. Aku udah anggap kalian kakakku jadi kalau salah pun aku siap ditegur,” protes Orlin yang berbuah pelukan hangat dari Bella.
“Wah, kita udah nggak punya kesempatan buat ngegebet, Kun. Udah dianggap kakak,” seloroh San.
Kuncoro tertawa saja kemudian menyerahkan pisau kue. Bella berinisiatif untuk menyuapi Orlin. Orlin pun ingin menyuapi Bella. San dan Kuncoro harus puas sebagai penonton peran kakak-adik yang dimainkan dua anggota klub itu.