Juno tahu Dito mengincarnya saat ketua geng itu mengikuti sejak keluar dari kantin. Tetapi, dia sengaja mengabaikan.
“Aku mau ngomong, Jun.”
Juno hanya melirik sekilas ke belakang tanpa berhenti. “Itu udah ngomong.”
Terdengar decakan kesal. Dito akhirnya menyamakan langkah dan berhasil menghadang.
“Nggak bisa ya diajak ngomong baik-baik?” tuntutnya.
Juno mengangkat bahu. “Emang aku ngomong sambil marah-marah?”
Dito hilang kesabaran. Dengan cepat dia meremas kerah seragam Juno. Para siswa yang kebetulan melintas terkejut. Mereka segera pergi dengan tergesa-gesa, tetapi tak sedikit yang hanya menyisih untuk tahu apa yang terjadi.
“Anak-anak KMJ pada rese semua, ya. Yang satu bikin sial mulu, ini bikin emosi bawaannya,” desisnya.
Juno menorehkan senyum tipis sekalipun posisinya terdesak. Dia sama sekali tak memberikan perlawanan.
“Makasih lho udah kasih perhatian sedetil itu ke kami,” celetuknya yang membuat Dito makin naik pitam.
Si ketua geng hendak menarik seragam Juno lebih kuat. Tanpa diduga, Oetomo muda malah menahan gerakannya lalu melingkarkan tangan satunya ke bahu. Tepukan ringan dirasa Dito di punggung. Siswa lain yang melihatnya akan mengira mereka sedang melakukan salam keakraban khas anak laki-laki.
“Orlin udah cerita. Soal Sandi, ‘kan?” bisik Juno.
Mata Dito melebar. Dia tak tahu mengapa masih mematung padahal bisa mengelak. Apakah genggaman Juno terlalu kuat? Atau, dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Oetomo muda itu.
“Dia keluar atas permintaan orang tuanya. Soal catatan biru …, kalau dosanya cuma telat kayak anak-anak KMJ, mungkin hari ini dia masih bisa main di lapangan.”