Orlin bangkit dari sofa di teras saat Linggar datang. Matiknya diparkir depan gerbang dan buru-buru masuk. Wajahnya panik bercampur sesal.
“Maaf banget, Lin. Tadi pas mau pulang malah disuruh nganter pesanan online sama Mbak Lis. Jadinya telat,” keluh Linggar.
“Santai kali, Nggar. Aku nggak buru-buru kok.”
Linggar mendongak untuk mengamati langit. Sore itu sangat cerah untuk ukuran pukul empat. Remaja itu segera membawakan dua buket bunga sedap malam, satu keranjang bunga popy, dan dua biskuit cokelat. Orlin membawa satu botol air mineral ukuran besar. Setelah semua siap, dua remaja itu meninggalkan kediaman.
Sore hari itu jalanan padat merayap. Linggar menggerutu karena merasa membuang waktu. Orlin terkikik sambil menepuk bahu untuk menenangkan.
“Namanya juga musim liburan. Sabar aja, yang penting selamat sampai tujuan.”
Meski khawatir hari makin gelap, tetapi ucapan sang pacar seperti mantra ajaib yang seketika melegakan pikiran.
Mereka sampai di pemakaman empat puluh lima menit kemudian. Area sekitar sedang sepi. Orlin dan Linggar melewati nisan demi nisan sampai berhenti di lima makam. Pada batu nisannya yang berwarna hitam itu, tulisan bertinta emas menorehkan nama-nama keluarga Orlin.
Si gadis dibantu Linggar membersihkan rumput-rumput yang mulai bertunas di batu nisan pertama. Setelahnya dia meletakkan pada makam itu satu per satu bunga sedap malam.
“Hai, Mama, ini Orlin bawain bunga sedap malamnya. Kebetulan pas lagi ada tadi. Papa ngikut aja, ya,” kata Orlin lalu tertawa singkat. “Buat Mbak Agnes, as always, popy flower. Dan, duo adek kembarku yang lucu …, taraaa, Mbak bawain biskuit cokelat kesukaan kalian.”
Orlin meletakkan barang bawaannya tadi satu per satu ke makam yang dituju. “Oh, iya, sekalian Orlin mau minta izin, anu …, diajak temen-temen KMJ ke resortnya temen.”
Si gadis yatim-piatu menceritakan hadiah voucher yang diberikan salah satu klien sebagai hadiah. Dan, minggu depan rencananya akan dipakai bersama San dan lainnya.
“Linggar juga ikut, kok. Jangan khawatir. Iya, ‘kan, Nggar?”
Mata Orlin yang berkedip-kedip itu sebagai kode yang sudah dipahami Linggar. Remaja itu memaksakan senyum lalu mengangguk ragu. Jujur saja, Linggar tak tahu-menahu soal rencana jalan-jalan Orlin tadi dan berharap orang tua si gadis memaklumi posisinya yang terikat status sebagai pacar.
Setelah merasa mendapat persetujuan, Orlin melanjutkan kegiatan. Dia menggenggam tangan, memejam, lalu melangitkan doa. Linggar mengikuti. Mereka larut dalam hening ditemani angin sore yang membelai lembut.
Dirasa cukup, Orlin mengajak Linggar meninggalkan tempat pemakaman umum itu.
“Kamu beneran bisa ikut, ‘kan? Cuma lima hari di kota sebelah. Ntar aku ganti, deh, cuti kamu. Atau, aku bantu ngomong ke Mbak Lis?” bujuk Orlin.
Linggar tampak berpikir keras. Biasanya saat liburan, dia akan menambah jam kerja tanpa libur untuk memaksimalkan gaji.