Dari villa, San dan lainnya butuh waktu sekitar tiga menit menuju Citra Adventure Park. Mereka hanya harus melalui jembatan gantung sepanjang 250 meter. Bella dan Orlin adalah yang paling ketar-ketir saat melewatinya. Untungnya, Alya sudah menyiapkan tour guide untuk membantu.
“Pegangan sama saya aja kalau masih takut, Kak.”
Dengan malu-malu, Bella meraih tangan satu tour guide bernama Faisal. Si gadis Batak merasa jantungnya bersuara lebih ribut dari riak sungai di bawah sana saat bersama si pemandu.
Orlin masih aman karena Linggar membantunya untuk tak gemetar karena jembatan yang bergoyang. Gadis itu memejam sambil memegangi tangan si pacar dengan erat, meski kadang-kadang menyebut namanya berkali-kali saat dirasa akan limbung.
Setelah melewati jembatan, mereka disambut halaman luas dengan pintu masuk wahana berbentuk mulut singa. Juno merapatkan wristband hitam yang dipakaikan petugas sebelum mereka masuk sebagai penanda tamu VIP. Para remaja itu berbangga hati karena tak perlu mengantre.
“Mas Faisal nggak ikut jugakah?” tanya Bella saat menyadari jika pemandunya tak ikut masuk ke wahana.
“Oh, maaf, Kak. Saya memang ditugaskan untuk membantu di jembatan saja,” jawab Faisal dengan gestur sopan.
“Alamak, macam mana kalau aku tersesat nanti?” protes Bella.
“Perasaan kita udah tujuh belas tahun, ya, San. Bisa lho nanya ke orang atau petugas kalau tersesat.” Kuncoro menyindir.
Bella melempar lirikan mautnya mendengar itu sedangkan si pelaku hanya cengar-cengir.
“Kita kan nanti juga barengan, Bel.” San menambahkan, tetapi kemudian memekik kecil karena cubitan ringan di lengan. Rupanya Alya memberi kode.
“Mas Fai nggak apa-apa ikut aja. Siapa tahu nanti kita ada yang mau nyobain wahana lain. Jadi, Mas bisa nemenin Bella biar nggak kesasar,” usul Alya yang akhirnya dipahami San dan disetujui dengan lantang oleh Bella.
Kuncoro mencebik pada Bella yang tersenyum lebar penuh kepuasan. Gadis itu bahkan tanpa malu memeluk lengan Faisal dan melangkah lebih dulu. Linggar menggandeng Orlin, sementara San malu-malu kucing saat berjalan beriringan dengan Alya.
“Gandengan, Jun, biar sama kayak yang lain,” ajak Kuncoro sebelum mendramatisir karena temannya itu berlalu tanpa balasan.