Knit By Chance
Ayu Ramani
01.
Kanara berlari sekuat tenaga. Ia sadar betul saat ini masih pukul 06.20, belum terlambat untuk masuk sekolah. Pintu gerbang bertuliskan SMA Negeri Cendekia Selatan masih terbuka lebar. Tidak perlu berlari. Namun situasi hari ini berbeda. Semalaman Nara begadang mengerjakan project crochet kecil-kecilannya sampai akhirnya tertidur di meja belajar dan terbangun karena pesan dari Riri yang mengingatkan tugas bahasa Indonesia. Membayangkan wajah Ibu Umi, guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelasnya menanyakan kenapa tidak ada lembaran LKS yang diisi Nara, membuat nyalinya menciut. Lebih baik berlari secepat kilat ke sekolah dan menyalin jawaban Riri. Setelah bersiap ala kadarnya, jika hitungannya benar, pukul 06.30 dia sudah ada di kelas, menyalin jawaban dari buku sahabatnya.
Dan benar, pukul 06.30 kini dia berada di kelasnya. Serampangan meletakkan tas di bangku sebelahnya yang dia tau pasti kosong tidak berpenghuni, sejak Alfa, teman sebangkunya masih izin tidak sekolah. Riri datang tergesa-gesa sambil menyodorkan buku LKS.
“Kan gue bilang, amigurumi kecil mah ga usa diterima, Nara! Terlalu banyak printilan,” ujarnya.
“Ngga bisa nolak, dia repeat order” jawab Nara cepat sambil mulai menyalin jawaban lembar demi lembar.
“Lo jangan sama persis nyalinnya, Bu Umi tuh baca! Lo ubah dikit” pinta Riri
“Ah …bukan nyalin dong namanya,” Nara terdiam sejenak dari aktivitas menulisnya. Tidak lama kemudian dia membalik-balik lembarannya. “Kayaknya bisa yang part ini gue rubah dikit” tunjukkan.
“Nar lo mandi ga sih?” Celetuk Riri, memperhatikan kondisi temannya tersebut. Rambut panjang Nara diikat tidak beraturan, terlihat sekali dia mengikat dengan asal. Kantung mata hitam tipis terlihat di bawah matanya, bahkan setelah Nara menggunakan kacamata, tetap tidak berhasil menutupi mata lelahnya.
“Mandi gila!” Ketus Nara. Dia melanjutkan proses menyalin tugas dan tidak mempedulikan Riri dengan segala celotehnya soal rambut, mata dan lain-lain itu.
Tidak lama kemudian Tia berlari ke dalam dan menyapa Riri dengan riang. “RIIIII, lo tebak gue abis ketemu siapaaaa?! Gilak kok ga ada yang bocor kalau tiba-tiba dia sekolah disini?”
Riri kemudian mendatangi bangku Tia dan berteriak histeris. Nara tidak bisa mencerna kehebohan itu karena masih banyak lembaran yang harus disalin. Tapi dengan mudah dia menebak, apapun informasi dari Tia pasti bukan sesuatu yang penting baginya.
***
Bu Umi masuk ke dalam kelas tepat pukul 07.15 sesuai dengan jadwal. Namun tiba-tiba kelas mendadak riuh begitu seorang murid ikut berjalan di belakang Bu Umi persis. Nara menoleh melihat Riri yang berdiri dan menepuk-nepuk pundak Eta, teman sebangkunya. “Bener kan bener kan?!” ucapnya semangat.
Beberapa teman Nara sengaja maju ke bangku depan, penasaran dengan murid tersebut. Nara melihat kembali ke depan kelas. murid yang mengekor Bu Umi itu kemudian terlihat tersenyum renyah menghadap teman-teman sekelas di bangku. Nara mengamati sejenak, murid tersebut jelas murid baru di sekolah ini, tinggi sekitar 180 cm, berbadan ramping, rambutnya bergelombang namun rapi dengan poni sebagian turun kedepan. Nara tidak familiar dengan wajahnya. Setelah beberapa detik mengamati, Nara kemudian tersadar telah membuang waktu berharganya untuk berhenti menyalin dan mengomentari si murid baru.
“Ya Tuhaaaan, masih dua lembar lagi!” gumam Nara menyesal. Ia kemudian masuk kembali ke dalam dunia LKS-nya. Menyalin secepat kilat sambil mengubah sedikit beberapa jawaban, sesuai instruksi Riri tadi.
Nara tidak memedulikan kehebohan di sekitarnya dan terus fokus menyalin tugas, sampai akhirnya dia menyadari seseorang kini berdiri di samping bangkunya.
“Ini kosong kan?”
Nara mendongak, terakhir ingatan akan murid baru ini adalah saat dia ada di depan. Kenapa tiba-tiba kini berdiri di samping bangkunya?
“Eh” Nara sontak menoleh ke arah Riri, ingin bertanya ada apa.
Riri tidak menjawan apa-apa hanya matanya yang kini berbinar menatap Nara.
“Ini kosong kan?” murid itu mengulang kembali pertanyannya, namun kali ini sambil menggeser tas Nara. Kemudian duduk persis di sebelah Nara.
“Aku Raka.” ucapnya lagi, masih dengan nada ramah.
Nara kini melihat wajah murid baru itu dengan jelas. Tidak tampak seperti orang Indonesia, batin Nara.
“Eh iya” jawab Nara kemudian, bingung.
Kenapa tiba-tiba anak baru berwajah asing ini duduk di sebelahnya? Nara menarik tasnya, dan memasukkan ke dalam kolong bawah bangku, dan sekali lagi menoleh ke arah Riri, ingin tau ada apa sebenarnya, sayang, suara Bu Umi tiba-tiba menggema, meminta semua anak mengumpulkan LKS.