Knit by Chance

Ayu ramani
Chapter #2

02

Nara berjalan menelusuri koridor kelas. Menggandeng tangan Riri setengah menyeretnya. Ingin segera bertanya sebenarnya di kelas ada apa. Tidak lama Tia bergabung, membuat Nara akhirnya berjalan ditengah dihimpit oleh Tia dan Riri.


" Jadi lo ngobrol apaan sama Kai?" Tanya Tia cepat


" Raka bukan Kai. Lo ga denger dia minta dipanggil Raka? Dia pengen kehidupan kelas sama selebritas dibedain kali ya?" Sahut cepat Riri


" Ririiii... lo liat ga sih dari deket dia jauh jauh lebih..." 


" GANTENG" potong Riri cepat yang kemudian memukul pundak Nara bersemangat.


" OMG..mimpi apaaan sih kita tiba-tiba 1 sekolah sama artis" lanjut Tia 


" Tunggu" Nara memotong. " Siapa yang artis? Sebelah gue itu"


Tia menoleh cepat. " Heh, lo ga tau??" Buru-buru Tia menyerahkan ponselnya. " INI INSTAGRAMNYA" Tertulis user name @Kaito.Raka 11,1M followers. Nara tertegun, membandingkan followers teman sebangkunya dengan followers akun crochet projectnya. Sangat jauh berbeda. Sambil berjalan menuju kantin Nara masih menelusuri beberapa postingan @Kaito.Raka. Foto dengan brand terkenal, jalan-jalan ke luar negeri, Foto tampak depan naskah series, dan beberapa foto dengan orang-orang lain yang sepertinya juga artis. Sekali lagi Nara tertegun. Orang macam apa yang saat ini duduk disebelahnya?


" Menurut lo kenapa dia pindah sekolah? Dia anak Inter kan? Kita kelas 3 itu uda sisa 8 bulan doang" Lanjut Tia.


" Riset buat karakter dia" Eta bergabung dengan 3 gadis ini saat mangkok-mangkok Mie Ayam akhirnya datang ke meja mereka. " Gue denger dari Dika. Pas break jam pertama dia basket ama cowo-cowo kelas kita" 


" OMG dia se fokus itu sama karirnya" jawab Riri dengan mata berbinar. " Keluar di Netflix lagi kali ya series dia jadi seniat ini. Gue pasti tonton"


" Riset macem apa yang dilakukan aktor di sekolah kita? Come on.. Ngga syuting disini juga kan?" Nara akhirnya menimpali. Merasa janggal. 


" Karena dia ga pernah ada di sekolah negeri aja sih katanya. Dia ngga tau the ambience, the vibes.. itu yang gue denger dari Dika." 


" Yang perlu elo pertanyakan tu bukan soal riset dia. Tapi soal KENAPA DARI SEKIAN BANYAK BANGKU dia milih sama elo" lanjut Tia dengan suara penuh tanda tanya.


" Bukannya uda jelas? Bangku yang kosong cuman depan.. Come on, Setau gue hari ini dia balik lebih awal karna ada syuting.. mana ada artis mau susah-susah duduk depan. Bangku sebelah Arman?" Eta tertawa sejenak.. " Anak baru juga uda paham duduk sama Arman tu mempersulit diri sendiri." Jawaban Eta tidak sepenuhnya salah. Arman yang mereka singgung berbadan lumayan gempal dan terlihat sangar. Tentu saja itu bukan pilihan baik untuk teman sebangku sang artis.


" Nah sisa deh bangku elo doang" Tunjuk Eta kepada Nara. Mana lo plenger ngerjain tugas pas dia perkenalan. Buat artis kaya dia, manusia invisible kaya lo jelas opsi terbaik." Lanjut Eta sambil tersenyum ketus.


" Eta.. invisible apaan sih" Riri menggerutu


Nara tersenyum kecut. 


" Gimana ga invisible, diajak jalan engga mau, acara sekolah ga pernah dateng, fieldtrip kaga ikut, bimbel bareng-bareng ga mau, jadi petugas upacara aja lo ga mau. Apa coba kalo bukan manusia Invisible" jawab Eta runtut.


" Yakan eloo tau kenapanyaaa..." Tia menimpali.


" Udalah" jawab Nara kemudian. Tidak ingin perdebatan ini dlanjutkan. 


" Tapi kalo gue sih, gue seneng-seneng aja Kai ada di bangku lo...karena.." Mata Eta berbinar. 


" Karna kita bisa lebih deket ngeliatin diaaaaa" Riri tertawa sambil bersalaman dengan Eta. Tia bertepuk tangan gembira.  


Nara menarik nafas panjang. Situasi ini sepertinya akan mengancam jiwa raganya kedepan. Dia mengaduk mie ayam pelan. Entah kenapa keramaian teman-temannya justru membuat kepalanya semakin penuh.Tidak nyaman. 


Kembali ke kelas. Tidak terlihat tas Raka teman sebangkunya. 


" Ah ya, syuting" Nara membantin. Mengingat ucapan Eta tadi. Sedikit merasa lega karna 2 jam terakhir ini dia bisa bebas duduk sendiri. 



.................


" 5 hari sudah" Guman Nara saat baru memasuki kelasnya. Melihat pemandangan yang sama. Bangkunya dikerubuni beberapa murid entah dari kelasnya atau dari kelas lain. Mengitari Raka. Sudah 5 hari pula setiap Nara sampai di kelasnya, hanya menaruh tas di bangku lalu beranjak keluar kelas entah berdiri di balkon, ke kantin yang bahkan belum buka, duduk di pinggiran koridor, apapun Nara lakukan sampai bel berbunyi dan murid-murid lain beranjak meninggalkan bangku Nara. Biasanya Raka akan menyambut dengan " Pagi" atau " Hai" yang dijawab dengan senyum tipis Nara. Siklus berulang ini yang akhirnya membuat Nara, dijam istirahat pertama menggeret Riri ke tepian koridor.


" Ri, lo tau kan gue tuh kalo sampe kelas pasti ngerajut. Kelarin tipis-tipis lah project makannya gue selalu dateng setengah 7." Keluh Nara. " Tapi jadi ngga bisa gara-gara itu anak-anak pada ngobrol sama Raka. Dia ngapain sih? Jumpa fans?"


Riri tersenyum meledek " Yaelah kirain apaan. Kan tinggal bilang aja permisi permisi gue mau duduk "


" Gue? Bilang gitu? Ini ada kali 4-5 anak ngitari si Raka uda kaya ketemu pimpinan sekte" Nara menghena nafas. Maksud gue kenapa sih ga dia jumpa fans diluar aja. Di koridor kek, balkon kek, dadah-dadah gitu.


" Anak-anak Ra yang nyamperin dia. Biasanya nanya-nanya lanjutan series, nanya produk yang dia review. Yaudah sih lagi pada fomo aja kali ama artis. Si Raka nya juga tipe baik apa-apa dijabanin. Kata Aldi aja dia uda diajakin basket bareng di lapangan mana gitu deh.. emang dia begitu modelannya..kalo lo ga terima lo ngobrol aja coba"


Lihat selengkapnya