06
Raka
Raka membanting tubuhnya ke kasur. Lalu segera mengambil HP. Melihat galeri foto di ponselnya. Foto Boneka amigurumi setengah jadi dan foto sketsa Nara di ipadnya.
Bagus. gumamnya. Raka benar-benar menyukai karya ini.
Raka juga menyukai bagaimana hari ini dia bisa banyak mengobrol dengan Nara. Raka menyukai energi yang Nara tularkan saat membahas boneka rajut ini. Bagaimana bisa seorang bisa begitu passionate dengan sebuah hobi?
Selain itu ada hal yang sedikit mengganggu Raka. Nara tanpa kacamata. Bukankah terlalu terlihat berbeda, pikirnya.
Raka menghela nafas panjang.
Menyadari hari ini dia kehilangan kesempatan emasnya. Memilih mengurungkan niatan untuk membahas soal gimmick fake dating itu saat melihat Nara bersemangat menggambar bola basket ungu. gimmick bullshit, umpat Raka dalam hati. Frustasi harus memulai dari mana.
Keesokan harinya Nara dan Raka sekali lagi bertemu di depan gerbang sekolah.
Setelah saling menyapa mereka berjalan bersama masuk ke kelas. Masih seperti biasa selalu ada saja teman-teman yang menyapa Raka, menanyakan kabar, menanyakan postingan Raka kemarin, pertanyaan basa basi, Raka paham. Rakapun memahami bahwa Nara selalu kabur dari suasana itu, tidak pernah tertarik terlibat obrolan dengan teman-teman yang ingin tahu kabarnya.
Tapi hari ini sedikit berbeda.
“ Kemarin aku uda bikin bola ungunya, dan the good news is bahkan tanda tangan pemain favoritmu aku bisa sertakan detailnya” Buka Nara
“ Hah? Kobe?” Raka bertanya setengah histeris. “ Bayangan aku itu bola replika kecil banget kan…” Kini Raka menatap Nara menunggu jawaban. Beberapa kali Raka hanya menjawa singkat sapaan teman-temannya. Tidak menanggapi sebagaimana Raka selalu lakukan.
Nara mengangguk. “ Aku pake teknik namanya embroidery. Dan benangnya memang kecil…jadi ga ada masalah buat di-embroidery di bola ungu walau hanya replika kecil”
Raka menatap dengan mata berbinar
“ Aku bisa liat?” Lalu sejenak kemudian Raka menyadari sesuatu. Ini sebuah cela “ Ayo kita bahas lagi kaya kemarin.. di cafe kemarin aku juga bisa” Ucapnya cepat
Nara tertawa tipis. “ ah ya kita ngga bisa bahas di sekolah”
Raka menganguk “ Nanti aku chat…”
Nara mengangguk. Mereka berdua pun akhirnya sampai di kelas.
Hari ini berbeda. Pikir Raka. Dia selalu menikmati hari-harinya sejak di sekolah ini. Banyak yang peduli dengan karyanya, seriesnya, filmnya dan apapun yang dia posting di sosial media. Hal yang berbeda dengan hari-harinya di sekolah sebelumnya. Tapi hari ini berbeda..
Merasakan pagi yang lebih tenang tanpa banyak basa-basi… berjalan sambil membahas rajutan bersama Nara membuat Raka tersadar akan suatu hal. di tengah hidupnya yang selalu ramai, ternyata dia juga membuthkan hari yang seperti ini. Dan tanpa Raka sadari, Nara memberikannya.
….………………………………………………..
Bel jam istirahat pertama akhirnya berbunyi. Nara merapikan bukunya dan mulai beranjak menuju bangku Riri.
Bangku Raka kosong sejak pelajaran ke 3. mungkin shooting pikir Nara.
Riri dan Nara akhirnya berjalan menuju kantin.
“ Nara! Ikut gue ngga” Panggil Tia tiba-tiba.
Nara yang sudah terbiasa dengan kehebohan Tia hanya menoleh sebentar. “Apaan”
“ Jangan disini jangan disini. Tempat sepi. Ayok” ajaknya masih dengan heboh.
” Ada apaan sih?” Kali ini Riri bertanya.
“ Lo ikutan, Eta juga suru cepet!”