Knit by Chance

Ayu ramani
Chapter #7

07

07

 

Nara sengaja berangkat ke sekolah mepet jam masuk hari ini. Jarak rumah ke sekolahnya ditempuh dengan berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 10 menit dan dengan sengaja Nara baru keluar dari rumah pukul 07.00

Terlambat pun tidak apa, pikirnya.

Setelah insiden fotonya tersebar di sosial media kemarin, Nara masih beruntung tidak ada murid di kelasnya yang menyadari bahwa itu Nara. Namun hal itu tidak menghapus kekesalannya pada dirinya sendiri soal bagaimana dia dengan mudahnya membohongi sahabat-sahabatnya. Berbohong pada Tia, dan bahkan melibatkan Riri dalam kebohongan yang tidak perlu ini.

Semua karena Raka.

Atau mungkin karena dirinya sendiri… Nara menyimpulkan.. semuanya karena datangnya ambisi berkarya yang entah darimana. Nara bahkan merasa malu bagaimana bisa tiba-tiba dia merasa bahagia karena ada seseorang yang mengapresiasi karyanya.

Haus validasi. Begitulah Nara menerjemahkan dirinya sendiri.

Memimpikan Yarn and yay tiba-tiba terkenal karena dapet client sekelas Raka Kaito…. Nara benar-benar merasa kesal dengan dirinya sendiri.

Sejak kapan dia memiliki hak untuk bermimpi? Bukankah dirinya sendiri yang mengatakan akan mengubur segala-galanya setelah kejadian tewasnya kedua orangtuanya? Bukankah Nara, satu-satunya orang yang tidak terlibat dalam kecelakaan naas itu…adalah sebaik-baiknya orang yang seharusnya tidak pernah merasakan mimpi lagi?

Sampai di gerbang. Nara memandang sekitar. Tidak ada sapaan hangat dari Raka seperti biasa. Tentu saja Nara sudah menebaknya, Raka mungkin sedang meladeni fans-fansnya di bangku saat ini.

Nara berjalan melewati koridor-koridor, akhirnya sampai di depan pintu kelas.

Masuk..

Dan menyadari ada pemandangan berbeda pagi ini di bangkunya.

Alfa berdiri di dekat bangku mereka, sementara Raka sudah duduk di tempat biasanya.

Alfa melambai, “Nara! Akhirnya kamu dateng”

 

….………………………………………………

Riri, Nara dan Alfa, bersahabat sejak SD. Mereka bertiga tinggal dikawasan yang sama sampai kemudian saat kelas 6 SD, Nara pindah ke kawasan elit di dekat SMA nya sekarang. Namun tidak ada yang berubah dengan persahabatan mereka. Agenda main bersama tetap terlaksana walaupun mereka tidak 1 sekolah saat SMP dan baru bertemu kembali saat SMA.

Alfa adalah murid favorit baik guru atau murid- khususnya perempuan. Badan tinggi dengan kulit kuning langsatnya. Berwajah tampan tidak membuat Alfa lupa diri karena itulah alasannya selalu menjadi favorit guru-guru sekolah : Alfa cerdas. Tidak hanya cerdas dia bahkan rajin belajar.

Sekitar 1 bulan lalu Alfa pulang ke kampung neneknya di Jogja dengan Ibu dan kakaknya, liburan biasa. Namun sesuatu terjadi disana.

Ibunya pingsan

Beberapa hari kemudian barulah diketahui bahwa sang Ibu mengidap kanker payudara stadium awal. Tidak ada tanda apapun, tidak ada nyeri, tidak ada sakit berlebihan hanya tiba-tiba mengalami pingsan yang berujung pemeriksaan medis lengkap. Dunia Alfa runtuh tiba-tiba. Diapun mengabarkan kepada Riri dan Nara, dan segera mendapat izin dari sekolah untuk perawatan sementara di Jogja.

Begitulah akhirnya mengapa bangku Nara selalu kosong sebelum Raka tiba-tiba duduk disana.

“ Alfa!” Nara setengah berteriak.

Riri datang menyambar bahu Alfa. “ Lo kenapa telat sih? Ga buka WA? Belum kasih penyambutan buat kesayangan kita nih”

Nara tersenyum. Dia benar-benar senang melihat Alfa akhirnya kembali ke sekolah

“ Ibu udah sehat?” tanya Nara akhirnya.

“ Uda bisa dipindah ke RS Jakarta” Jawab Alfa dengan nada riangnya. Itulah Alfa, seberat apapun masalahnya dia akan tetap hadir dengan persona riang ini.

Riri mengelus-elus punggung Alfa. “ Yang penting akhirnya lo uda balik sih”

 “ Tapi anw, kenapa tiba-tiba bangku gue ada yang nempatin?” Alfa akhirnya bertanya.

Raka mendengar pertanyaan itu. Melirik sebentar kearah Nara. Lalu menjawab Alfa

“ Hi, aku Raka” Raka berdiri dan mengulurkan tangannya. “ Sorry banget aku ga tau kalau bangku sebelah Nara udah ada yang punya”

Lihat selengkapnya