08
Nara masuk ke kelasnya dan disambut pemandangan yang seperti biasa. Raka dan fans-fansnya. Untung bukan bangkunya lagi-batin Nara
Nara meletakkan tas di bangku barunya.
Bruk, Alfa tiba-tiba datang setengah membanting tas nya. “Gue pindah sini aja deh. Deket-deket artis bikin pusing.”
Nara menoleh kemudian tersenyum. “ Bangku lo disita fans-fansnya?”
Alfa mengangguk. “Gue dateng pagi mau kerjain PR gara-gara kemarin full di RS eh malah diserbu anak kelas sebelah. Pada menyambut Kai.. baru tau gue namanya Kai, perasaan pas kenalan bilangnya Raka”
Nara tersenyum mendengar cerocos Alfa. Kira-kira kalau dia bisa mengeluh tiap Raka jumpa fans di bangkunya-bunyi keluhannya pasti sama persis dengan cerocos Alfa.
“Bagus deh.. lo duduk ama gue aja, bisa bantuin belajar” Nara tersenyum lagi.
Yang mereka tidak sadari, dari tadi Raka memperhatikan dari jauh. Kedua teman sebangkunya itu kini bersama-sama di bangku baru.
Menghela napas, Raka makin merasa tidak ada jalan untuk membahas soal gimmick itu dengan Nara.
“Raka” panggil Riri. “duduk sini bentar ya gue”
Raka mengangguk.
“Ini dari Nara” Riri langsung memberikan bag charm bola ungu berukuran sedang. “ Gue lagi lanjutin part merchandise lo. Cuman kemarin Nara bilang ini buat lo …selain bola yang dipasang juga di body amigurumi ya”
Raka terdiam. Bola ungu itu lagi, batinnya. Tidak begitu kaget dengan versi bag charm ini, sama-sama menunjukan detail yang sempurna khas buatan Nara. Tapi kenapa harus diberikan oleh Riri? Bukankah dia selalu bersemangat menceritakan karyanya ini, kenapa tidak Nara sendiri saja yang menyerahkannya?
Raka menerimanya. Sekilas menoleh ke arah Nara yang masih mengobrol dengan Alfa. Menyadari selama ini dia tidak pernah mengobrol panjang di bangku ini saat bersama Nara, tapi Alfa terlihat begitu mudah membahas apapun dengannya.
“Thankyou ya Ri”
“Thankyou doang? Bayar dong” Jawab Riri sambil tertawa
“EH…”
“Bercanda, yarn and yay pantang kasih invoice sebelum semuanya selesai” Riri tersenyum jahil. “ Lagian bag charm ini ngga masuk invoice, ini gratis dibuatin Nara”
Raka tersenyum simpul. Bingung menjawab,
“Kapanan tuh… lo kabur dari photoshoot? Masih full makeup gitu?” Tembak Riri akhirnya. Bertanya dengan hati-hati.
Raka mengangguk pelan. “keliatan banget ya?”
“Gara-gara Nara masuk instagram fans lo?” tanya Riri lagi
Raka mengangguk sekali lagi. “Soal Gym couple itu bener-bener ngga sengaja…ya emang gue abis basket aja. Si Nara marah banget ya?”
Sampai pindah bangku, batinnya. Tapi dia memilih tidak menyampaikan itu kepada Riri.
Riri mengangguk. “Mungkin bukan marah sih Raka, sebelum ketemu lo di gerbang, dia di sidang ama Tia” Riri menjelaskan. “pada kaget aja sih kok bisa-bisanya Nara ketemu lo di luar sekolah. Itu ngga Nara banget. Ini agak complicated tapi intinya hampir ngga mungkin Nara mau keluar-keluar ke mall kaya kemarin sama lo. No wonder dia lumayan kaget sama kejadian foto itu” Riri menghela nafas. “sebenernya gue cuman ga mau ada kejadian aneh-aneh gini lagi sih buat Nara… hari-harinya itu udah berat…” Riri menggantung.
“Berat?” tanya Raka
Riri mengutuk dirinya, sepertinya terlalu banyak informasi yang dia berikan.
“Pokoknya… jangan bikin Nara makin ribet aja ya.” Riri berdiri sambil menepuk pelan meja Raka.