Knit by Chance

Ayu ramani
Chapter #10

10

10

Nara

Setelah Grab-nya sampai di depan rumahnya, Nara turun dan bergegas masuk ke dalam. Menuju kamarnya sesegera mungkin, membuka pintu kamar penuh gantungan rajut dan menutupnya keras-keras.

Merasa kesal, Nara membanting badannya ke kasur. Dadanya masih terasa berdetak terlalu cepat. Berusaha menjernihkan pikirannya.

”Rencana fake dating Raka sama kamu… Raka udah bilang kan?”

Kalimat itu masih berputar-putar di kepalanya. Nara diam dan memilih kabur saat akhirnya Grab yang dia tunggu sudah datang, meninggalkan Jay tanpa jawaban apapun. Namun dalam lubuk hatinya, Nara menyadari tidak akan mudah kabur begitu saja dari situasi ini.

Ia mengeluarkan ponselnya. Sekali lagi melihat instagram @Kaito.Raka. Raka memposting satu foto baru, behind the scene saat sedang di pemotretan hari ini. Memandangnya dengan penuh emosi.

Kenapa aku, gumamnya.

Aku bahkan bukan artis seperti dia…

Nara bangkit dari kasur, masih membuka instagram Raka. Melihat kembali feed yang berisi foto amigurumi bola ungu yang Raka post beberapa hari lalu.

Menerka-nerka dengan logikanya. Apakah Raka memang sengaja mendekatinya untuk ini? Tapi untuk apa? Bahkan sebenarnya ide merchandise itu muncul dari Riri bukan dari Raka. Dari sisi mana…Raka sengaja mendekatinya?

Nara menghela nafas panjang. Tiba-tiba teringat…

Apakah insiden foto di akun fans base juga ulah Raka? Tapi untuk apa?

Nara mengusap-usap wajahnya. Hal ini tidak bisa dia jelaskan dengan logikanya.

Harus Raka, batinnya.

Harus Raka yang menjelaskan semuanya. Nara membanting ponselnya, beranjak tidur dan melupakannya sejenak.

 

….…………………………………….

Raka tersenyum lebar saat menyadari Nara sedang berjalan menuju gerbang. Buru-buru dia turun dari mobil dan berpamitan dari Jay.

“Nara!” sapa Raka bersemangat

Nara menghela nafas. Hanya melihat sekilas lalu tetap berjalan. Memegang handle tas punggungnya seolah ini satu-satunya perisai yang bisa melindunginya dari Raka.

“Nar..”Raka masih memanggil. Beberapa teman mulai menyapa Raka dan ia lewati begitu saja.

“Nara..” susul Raka yang akhirnya berdiri di depan Nara. Menghadangnya.

Nara memandang sekilas lalu beralih, melanjutkan jalannya.

“Aku bikin salah kemarin? Ada apa?” kejar Raka. Dia tidak mengerti.

“Nara…” Raka masih memanggil pelan.

Langkah Nara berhenti. “Kamu pengen aku jawab disini? Di tempat kamu jumpa fans ini?” Jawab Nara lurus-lurus.

Raka memandang bingung. “Ada yang gak bisa dibahas disini? What kind of..”

”Kamu yakin pengen aku jawab disini?” Tanya Nara lagi. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

“Oke..oke…kalo emang ga bisa dibahas disini, dimana? Kita bahas dimana? Mau ke kantin?” tanya Raka masih kebingungan. Benar-benar tidak mengerti.

“Engga, thanks.” jawab Nara cepat, melanjutkan langkahnya. Masuk ke kelas, menuju bangkunya.

Tidak tampak Alfa, namun Nara merasa terlalu sesak untuk menanyakan kemana Alfa saat ini. Terlalu malas untuk bertanya kepada Riri. Nara hanya merasa muak dengan paginya. Merasa muak dengan senyum lebar Raka yang seperti tidak terjadi apa-apa.

Lihat selengkapnya